IBTimes.ID – Ketika kabut asap semakin tebal, para relawan berada di garis depan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dalam situasi tersebut, respons karhutla Muhammadiyah tidak hanya diarahkan pada pemadaman, tetapi juga memperhatikan kondisi kesehatan relawan yang bekerja di tengah ancaman asap dan kelelahan.
Melalui MDMC, Lazismu Kalteng, serta organisasi otonom Muhammadiyah yang tergabung dalam semangat One Muhammadiyah One Response (OMOR), Muhammadiyah menyalurkan 250 tabung oxycan kepada relawan penanganan karhutla pada Kamis (1/10/2026).
Data harian Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Provinsi Kalteng mencatat hingga 189 ribu titik panas pada periode Agustus hingga akhir September. Musim kemarau berkepanjangan dan kabut asap kemudian menambah tantangan bagi masyarakat maupun relawan di lapangan.
Distribusi oxycan menjadi salah satu bentuk respons karhutla Muhammadiyah untuk mendukung pertolongan pertama ketika relawan mengalami sesak akibat kelelahan. Sebanyak 75 tabung disalurkan ke pos layanan MDMC Kota Palangka Raya, 75 tabung untuk MDMC Kabupaten Kotim, 50 tabung untuk MDMC Kabupaten Katingan, dan 50 tabung untuk MDMC Kabupaten Kotawaringin Barat.
Menjaga Relawan, Memperkuat Respons Bencana
Ketua Pos Koordinator (Poskor) Inayati Maharani menyebut dukungan tersebut merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak. Ia secara khusus menyampaikan apresiasi kepada donatur Lazismu Jawa Timur dan PT Samator Group yang mengirimkan oxycan untuk relawan.
“Semangat one Muhammadiyah one respon (OMOR) serta semangat terus bermanfaat memberi solusi di tengah bencana yang dihadapi, memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat terutama untuk para relawan dilapangan. Semoga ikhtiar bersama ini menjadi ladang pahala serta membawa keberkahan bagi seluruh warga,” ujar Inayati.
Selain distribusi oxycan, respons karhutla Muhammadiyah juga dilakukan melalui program Indonesia Siaga Lazismu Kalteng. Manager Area Lazismu Kalteng Kurniawan menyebut sejumlah layanan telah dijalankan, mulai dari penerjunan relawan untuk pemadaman dan pendinginan hingga pendirian rumah oksigen.
Rumah oksigen tersebut berada di sejumlah lokasi, antara lain Gedung Dakwah Muhammadiyah Kalimantan Tengah, Palangka Raya, Kotawaringin Timur, Muara Teweh, Kasongan, dan Kotawaringin Barat. Program juga mencakup pembagian nutrisi bagi masyarakat terdampak.
Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa respons karhutla Muhammadiyah bergerak melalui kolaborasi antara relawan, lembaga filantropi, dan jaringan Persyarikatan. Dukungan kesehatan menjadi bagian penting agar relawan dapat menjalankan tugas di tengah kondisi yang penuh risiko.
Di sisi lain, Lazismu Kalteng masih membuka penghimpunan donasi melalui program Indonesia Siaga. Dengan demikian, respons karhutla Muhammadiyah tidak berhenti pada satu bentuk bantuan, tetapi terus dikembangkan sesuai kebutuhan di lapangan.
Dalam konteks bencana yang berlangsung berulang, respons karhutla Muhammadiyah menunjukkan pentingnya menjaga mereka yang berada di garis depan. Sebab, keberlanjutan penanganan bencana juga bergantung pada kemampuan memastikan para relawan tetap terlindungi ketika menjalankan tugas kemanusiaan. (NS)


