back to top
Jumat, Oktober 9, 2026

Siswa Bukan Milik Sekolah, Ini Cara Pandang Pendidik

Lihat Lainnya

Pendidikan semestinya memandang siswa bukan sebagai “milik” sebuah sekolah. Melainkan sebagai manusia yang memiliki hak untuk belajar, tumbuh, dan mengembangkan potensinya. Dalam praktiknya, kita terkadang menemukan paradigma yang menempatkan siswa layaknya “nasabah” sekolah. Terutama ketika berbicara tentang penerimaan peserta didik, jumlah pendaftar, dan keberlangsungan institusi. Cara pandang semacam ini tidak sepenuhnya keliru jika ditempatkan dalam konteks manajemen sekolah. Tetapi menjadi persoalan ketika kepentingan institusional tersebut dibawa ke dalam cara kita memandang siswa secara keseluruhan.

Saya lebih memilih istilah “potensi insan” daripada “sumber daya”, sebab anak bukan sekadar sumber daya yang dapat dimanfaatkan. Melainkan manusia yang memiliki martabat, potensi, dan hak untuk berkembang. UNESCO sendiri menempatkan pendidikan sebagai hak fundamental setiap manusia. Dengan demikian, ketika seorang anak memilih sekolah lain, sesungguhnya tidak ada yang kalah dalam pendidikan; justru ada seorang anak yang tetap memperoleh haknya untuk belajar.

Sekolah Boleh Bersaing, Hak Anak Tetap Utama

Karena itu, menurut saya, pendidik perlu membedakan dua wilayah dalam memandang seorang anak. Pertama, ketika kita melihat anak dalam konteks pendidikan secara umum, ia adalah siswa atau pembelajar, dimanapun sekolahnya. Kedua, ketika kita berada dalam konteks penerimaan peserta didik, ia dapat dipandang sebagai calon peserta didik sekolah kita. Kedua sudut pandang tersebut harus ditempatkan pada ruang yang tepat.

Baca Juga:  Gus Yahya dan Pak Haedar, Dua Kepak Sayap Moderasi Islam di Dunia Global

Sekolah tentu memiliki hak untuk memperkenalkan keunggulan, meningkatkan mutu layanan, dan berusaha agar masyarakat memilih sekolah tersebut. Namun, kepentingan untuk mendapatkan peserta didik tidak boleh membuat kita kehilangan kesadaran bahwa anak tetap memiliki hak untuk memperoleh pendidikan di mana pun ia memilih untuk belajar. Dengan pembedaan ini, kita dapat berkompetisi sebagai lembaga tanpa harus membawa persaingan tersebut ke dalam hubungan kemanusiaan.

Pemikiran tersebut sejalan dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang memandang pendidikan sebagai proses “menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak” agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Pendidikan, dengan demikian, bukan proses memiliki anak, tetapi proses membantu anak menemukan dan mengembangkan potensi dirinya.

Gagasan ini juga sejalan dengan pemikiran John Dewey yang melihat pendidikan sebagai bagian dari kehidupan sosial. Bukan sekadar proses transfer pengetahuan di dalam sebuah institusi. Jika demikian, keberhasilan pendidikan tidak semestinya hanya diukur dari berapa banyak anak yang berhasil menjadi siswa sekolah kita. Tetapi juga dari berapa banyak anak yang memperoleh kesempatan untuk tumbuh menjadi manusia yang lebih baik. Seorang anak yang berkembang dengan baik di sekolah lain tetap merupakan kabar baik bagi dunia pendidikan. Meskipun secara administratif ia bukan bagian dari sekolah kita.

Kesempatan Anak untuk Belajar dan Berkembang

Perspektif semacam ini juga dapat dipahami melalui Capability Approach yang dikembangkan oleh Amartya Sen dan Martha Nussbaum. Yang menekankan pentingnya kesempatan nyata bagi manusia untuk mengembangkan kemampuan dan menjalani kehidupan yang bernilai. Dalam konteks pendidikan, pertanyaan yang seharusnya muncul bukan hanya, “Mengapa anak itu tidak memilih sekolah kita?”, tetapi juga, “Apakah anak itu mendapatkan kesempatan untuk belajar dan berkembang?” Perubahan pertanyaan ini dapat mengubah cara kita sebagai pendidik memandang siswa.

Baca Juga:  Sejarah Perkembangan Islam di Wonosobo

Kita tetap boleh memperjuangkan sekolah kita, tetapi jangan sampai kepentingan institusi membuat kita menyisihkan kepedulian terhadap anak hanya karena ia bukan peserta didik di sekolah kita. Kalimat “dia bukan siswa kita” mungkin benar secara administratif, tetapi tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti peduli secara kemanusiaan. Sebab seorang anak tidak kehilangan haknya untuk mendapatkan pendidikan hanya karena ia memilih institusi pendidikan yang berbeda.

Pada akhirnya, saya berpandangan bahwa kita perlu membedakan antara memperjuangkan sekolah dan memperjuangkan pendidikan. Memperjuangkan sekolah berarti berusaha agar lembaga kita dipercaya, dipilih, dan berkembang; sedangkan memperjuangkan pendidikan berarti memastikan setiap anak memperoleh kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan potensinya. Keduanya tidak harus dipertentangkan. Kita dapat tetap bangga terhadap sekolah tempat kita mengabdi, tetap berusaha mendapatkan peserta didik terbaik, sekaligus tetap memiliki kegembiraan ketika anak-anak memilih sekolah lain dan mendapatkan pendidikan yang baik.

Dengan cara pandang ini, kita akan terhindar dari kepentingan sektoral yang membuat siswa seolah-olah menjadi milik suatu lembaga. Siswa bukan milik sekolah; sekolah adalah salah satu ruang yang hadir untuk melayani kebutuhan pendidikan manusia. Maka keberhasilan terbesar seorang pendidik bukanlah ketika semua anak menjadi “siswa kita”, melainkan ketika semakin banyak anak memperoleh pendidikan dan tumbuh menjadi manusia yang berdaya, berkarakter, dan bermanfaat bagi kehidupan.

Editor: Anas Nashuha

Baca Juga:  Historisitas Aplikasi Kalender Hijriah Global Tunggal

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru