IBTimes.ID – Perjalanan Yiwu, sebuah kota di Provinsi Zhejiang, China, dari pasar tradisional menjadi salah satu pusat perdagangan grosir terbesar di dunia menunjukkan pentingnya kebijakan ekonomi yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk berusaha. Transformasi tersebut menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi, tetapi juga oleh keberanian pemerintah membuka peluang bagi tumbuhnya kewirausahaan rakyat.
Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Anwar Abbas, menilai kisah Yiwu menghadirkan pelajaran penting bagi negara-negara yang ingin membangun perekonomian secara inklusif. Perubahan kebijakan yang memberi kesempatan kepada masyarakat untuk berdagang dapat menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
“Pengalaman Yiwu menunjukkan bahwa masyarakat perlu diberikan ruang, kesempatan, dan kemudahan untuk mengembangkan usaha. Ketika pemerintah mampu menciptakan kebijakan yang mendukung kegiatan ekonomi rakyat, potensi masyarakat dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang besar,” katanya pada (24/10).
Dari Pembatasan Perdagangan Menuju Pusat Ekonomi Global
Pada era Mao Zedong, China menerapkan sistem ekonomi terpusat yang membatasi kepemilikan pribadi dan aktivitas perdagangan swasta. Perubahan mulai berlangsung setelah Deng Xiaoping mendorong reformasi ekonomi, membuka jalan bagi berkembangnya kegiatan usaha masyarakat.
Di Yiwu, momentum penting terjadi pada 1982 ketika Xie Gaohua, pejabat Partai Komunis setempat, memberikan ruang legal bagi masyarakat untuk berdagang. Pembukaan Pasar Huqingmen pada 5 September 1982 menjadi salah satu tonggak awal transformasi tersebut.
Yiwu kemudian mengembangkan strategi Xingshang Jianshi, yakni menjadikan perdagangan sebagai fondasi pembangunan kota. Pemerintah menyediakan infrastruktur dan fasilitas pasar, sedangkan masyarakat mengembangkan usaha sesuai peluang yang tersedia.
“Untuk memajukan wilayahnya, Yiwu menerapkan strategi yang dikenal sebagai Xingshang Jianshi, yakni mengembangkan perdagangan sebagai fondasi pembangunan kota. Melalui strategi ini, pemerintah menyediakan infrastruktur dan ruang perdagangan, sementara masyarakat diberi kelulasaan untuk memanfaatkannya dalam mengembangkan usaha,” ungkap Anwar Abbas.
Ia menyebutkan, pendekatan ini memperlihatkan bagaimana kebijakan publik dan inisiatif masyarakat dapat saling memperkuat. Perdagangan yang sebelumnya dibatasi justru berkembang menjadi penggerak aktivitas ekonomi, menciptakan kesempatan usaha, dan memperluas jaringan distribusi produk.
Infrastruktur, Kewirausahaan, dan Transformasi Digital
Perkembangan Yiwu semakin pesat setelah China bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada 2001. Pembukaan Distrik 1 Yiwu International Trade City pada 22 Oktober 2002 menandai langkah penting menuju perdagangan berskala internasional.
Kini, Yiwu dikenal sebagai pusat perdagangan berbagai komoditas kecil dengan jaringan pembeli yang menjangkau lebih dari 200 negara dan wilayah. Kota ini juga terus mengembangkan perdagangan digital melalui integrasi pemasaran daring, transaksi lintas negara, dan layanan logistik.
Bagi Indonesia, pengalaman tersebut cukup relevan dalam memperkuat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pemerintah dapat mendorong kemajuan pelaku usaha melalui penyederhanaan perizinan, akses pembiayaan, pembangunan pasar, peningkatan keterampilan, serta perluasan akses ke pasar internasional.
Dalam konteks itu, Anwar Abbas menekankan pentingnya menjadikan pelaku usaha rakyat sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar penerima manfaat kebijakan.
“Pembangunan ekonomi harus memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk tumbuh dan mandiri. Pemerintah perlu hadir melalui kebijakan yang adil, infrastruktur yang memadai, dan akses pasar yang terbuka agar usaha rakyat mampu berkembang serta memberikan manfaat yang luas,” ucapnya.
Kisah Yiwu pada akhirnya mengingatkan bahwa kemajuan ekonomi membutuhkan lebih dari sekadar modal besar. Kebijakan yang tepat, infrastruktur yang mendukung, dan keberanian masyarakat untuk berusaha dapat mengubah aktivitas perdagangan sederhana menjadi kekuatan ekonomi yang mendunia.
(MS)


