“Learn from the Past, Understand the Present, Talk about the Future.” Kata-kata tersebut begitu melekat dalam pikiran penulis ketika menyimak sambutan Prof. Dr. Mohamed Aslam Haneef pada pembukaan Islamic Economics Summit (IES), Sabtu 24 Oktober 2026, di International Islamic University Malaysia (IIUM). Sekembalinya ke asrama, penulis mencoba merenungkan secara lebih dalam makna pernyataan tersebut, khususnya ketika dikaitkan dengan perkembangan Ekonomi Islam. Untuk memahami Ekonomi Islam secara mendalam, utuh, dan menyeluruh, kita tidak dapat melepaskan proses berpikir dari pemahaman terhadap tiga dimensi waktu: masa lalu (intellectual heritage), masa kini (contemporary reality), dan masa depan (vision actualization).
Masa lalu yang diwariskan para ulama melalui karya-karya klasik menyimpan kekayaan pemikiran yang menjadi bagian penting dari perjalanan intelektual umat Islam. Masa kini menghadirkan realitas kontemporer beserta berbagai persoalan ekonomi yang membutuhkan jawaban. Sementara itu, masa depan menjadi ruang untuk mengaktualisasikan visi, dan mewujudkan kontribusi nyata bagi pembangunan sistem dan peradaban ekonomi yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Ketiga dimensi tersebut bukanlah entitas yang berdiri sendiri, melainkan saling terkait dan berkesinambungan dalam proses perkembangan Ekonomi Islam. Maka dari itu, upaya memahami dan mengembangkan Ekonomi Islam tidak cukup hanya dengan membaca realitas kontemporer atau memproyeksikan masa depannya. Kita juga perlu menggali kembali warisan intelektual yang telah dibangun oleh para ulama dan pemikir muslim terdahulu sebagaimana terdokumentasi dalam al-Turāth al-Islāmī.
Landasan Konseptual Turāth Islāmī
Sebelum melangkah lebih jauh, pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah apa sebenarnya turāth, dan mengapa kita perlu menggali kembali khazanah intelektual tersebut? Secara etimologis, Turāth (التراث) berasal dari kata waritha (ورث), yang berarti mewarisi atau menerima warisan. Dalam konteks keilmuan Islam, istilah ini merujuk pada khazanah yang diwariskan dari generasi terdahulu, baik berupa pemikiran, karya tulis, maupun tradisi keilmuan yang berkembang dalam peradaban Islam.
Dalam perspektif yang lebih luas, Syekh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa Turāth adalah:
مَا بُعِثَ بِهِ نَبِيُّنَا مِنَ الْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ وَالْكُتُبُ الَّتِي أُلِّفَتْ فِي ذَلِكَ مِمَّا يَنْفَعُنَا وَالْمَخْطُوطَاتُ الْمَوْجُودَةُ فِي ذَلِكَ
Segala sesuatu yang dibawa oleh Nabi kita berupa petunjuk dan agama yang benar, serta kitab-kitab yang ditulis mengenai hal tersebut yang memberikan manfaat bagi kita, dan manuskrip-manuskrip yang tersedia di dalamnya.
Sementara Syekh Ali Jum’ah dalam kitab Aṭ-Ṭarīq ilā al-Turāth al-Islāmī, mendefinisikan:
إِنَّ التُّرَاثَ الْإِسْلَامِيَّ هُوَ الْمُنْتَجُ الْبَشَرِيُّ الْمَنْقُولُ شَفَوِيًّا وَكِتَابِيًّا لِلْأُمَّةِ الْإِسْلَامِيَّةِ قَبْلَ مِئَةِ عَامٍ مِنَ الزَّمَانِ
Turāth Islami adalah segala hasil dari buah pikir manusia yang ajarkan baik secara lisan dan tulisan kepada umat muslim dalam kurun waktu seratus tahun sebelum masa ini.
Dari uraian tersebut, Turāth Islāmī dapat dipahami sebagai khazanah warisan intelektual Islam yang tertuang dalam berbagai karya ulama terdahulu, terutama kitab-kitab berbahasa Arab, yang mencakup beragam disiplin ilmu, mulai dari fikih, tafsir, hadis, filsafat, sejarah, hingga pemikiran sosial, ekonomi, dan politik. Melalui khazanah intelektual tersebut, umat Islam terdahulu mewarisi dan mentransmisikan ilmu pengetahuan sebagai fondasi dalam membangun peradaban Islam.
Signifikansi Turāth dalam Tradisi Intelektual Islam
Dalam salah satu perkuliahan yang penulis ikuti, terdapat materi menarik tentang “The Role of Turāth in Islamic Economics Research” yang disampaikan oleh Dr. Nurizal Ismail. Secara sederhana, beliau menjelaskan bahwa Turāth adalah the intellectual, cultural, social, and material legacies inherited from muslim individuals and societies throughout Islamic history, yaitu segala bentuk peninggalan intelektual, budaya, sosial, dan material yang diwariskan oleh individu maupun masyarakat muslim sepanjang sejarah Islam. Lebih lanjut, beliau memaparkan sejumlah manfaat mempelajari dan mengkaji Turāth Islāmī dalam konteks penelitian Ekonomi Islam. Berdasarkan pemaparan tersebut, penulis merangkum lima poin utama yang menunjukkan pentingnya menggali kembali khazanah intelektual Islam sebagai salah satu fondasi dalam memahami dan mengembangkan Ekonomi Islam.
- Melestarikan Warisan Intelektual(Preserving Intellectual Heritage)
Turāth berfungsi sebagai instrumen untuk menjaga dan mendokumentasikan khazanah intelektual yang telah dibangun oleh para ulama dan pemikir muslim sepanjang sejarah peradaban Islam. Warisan tersebut tidak terbatas pada manuskrip, kitab, atau karya tulis klasik, tetapi juga mencakup gagasan, konsep, metodologi, paradigma, dan tradisi keilmuan yang berkembang dalam berbagai disiplin ilmu. Dalam konteks ini, pelestarian Turāth tidak sekedar menyimpan peninggalan masa lalu, melainkan memastikan bahwa kekayaan intelektual tersebut tetap dapat diakses, dipelajari, dipahami, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Sebagai contoh, pemikiran Abu Yusuf tentang perpajakan dan keuangan publik dalam kitab al-Kharāj, pemikiran asy-Syaibani tentang dasar-dasar ekonomi mikro dalam kitab al-Kasb, serta pemikiran Ibn Khaldun dalam kitab al-Muqaddimah tentang dinamika sosial-ekonomi dan peradaban. Kesemuanya merupakan bagian dari warisan intelektual yang perlu terus dikaji.
2. Membangun Identitas Intelektual (Building Intellectual Identity)
Turāth berperan dalam membentuk identitas intelektual suatu peradaban. Setiap tradisi keilmuan memiliki akar sejarah, nilai-nilai fundamental, serta cara pandang tertentu dalam memahami realitas. Dalam peradaban Islam, Turāth menjadi salah satu sumber penting untuk memahami bagaimana para ulama membangun tradisi keilmuan berdasarkan hubungan antara wahyu (revelation), akal (reason), dan pengalaman manusia (human experience). Identitas intelektual tersebut menjadi penting karena perkembangan ilmu pengetahuan tidak berjalan dalam ruang kosong. Setiap disiplin ilmu membutuhkan landasan filosofis yang memberikan arah bagi pengembangan pengetahuannya. Dalam hal ini, Turāth membantu memperjelas karakteristik Ekonomi Islam yang menjalankan aktivitas ekonomi dengan prinsip keadilan (‘adl), kemaslahatan (maslahah), keseimbangan (tawazun), dan tanggung jawab sosial.
3. Mengembangkan Kesinambungan Intelektual (Developing Intellectual Continuity)
Turāth berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan perkembangan pemikiran dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ilmu pengetahuan merupakan proses historis yang terus berkembang melalui dialog, pengembangan, dan pembaruan gagasan. Dalam hal ini, pemikiran kontemporer tidak boleh sampai memutus hubungan dengan tradisi intelektual sebelumnya. Sebaliknya, perkembangan ilmu pengetahuan membutuhkan kesinambungan antara kontribusi para pemikir terdahulu dan kreativitas intelektual generasi sekarang. Dalam Ekonomi Islam, kesinambungan intelektual dapat dilihat melalui perkembangan pemikiran tentang zakat, wakaf, baitul mal, pasar, dan keuangan publik. Konsep-konsep tersebut mengalami transformasi dalam bentuk kelembagaan dan praktik ekonomi sesuai dengan perkembangan zaman.
4. Menginspirasi Pemikiran Kontemporer (Inspiring Contemporary Thought)
Turāth tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga mengandung berbagai gagasan dan prinsip yang dapat memberikan inspirasi dalam menghadapi persoalan kontemporer. Realitas kehidupan manusia terus mengalami perubahan. Perkembangan teknologi, perubahan struktur ekonomi, dan transformasi sistem keuangan menghadirkan persoalan yang mungkin belum pernah ditemukan dalam bentuk yang sama oleh para pemikir terdahulu. Dalam kondisi tersebut, Turāth dapat menjadi sumber inspirasi untuk membangun perspektif dan pendekatan baru. Namun, proses ini membutuhkan kemampuan untuk memahami substansi pemikiran klasik sekaligus membaca realitas kontemporer secara tepat. Dengan kata lain, Turāth perlu dipertemukan dengan contemporary reality melalui proses dialog intelektual, kontekstualisasi, dan pengembangan pemikiran.
5. Merekonstruksi Peradaban Masa Depan (Reconstructing Future Civilization)
Selanjutnya, Turāth dapat menjadi salah satu fondasi dalam membangun visi dan merekonstruksi peradaban masa depan. Peradaban tidak dibangun hanya dengan mengandalkan kejayaan masa lalu ataupun merespons persoalan masa kini. Peradaban membutuhkan visi, perencanaan, kreativitas intelektual, dan kemampuan untuk menghasilkan pengetahuan serta sistem kehidupan yang lebih baik. Dalam perspektif ini, Turāth menjadi sumber nilai, prinsip, dan inspirasi untuk mengembangkan gagasan baru yang mampu memberikan kontribusi bagi kemajuan peradaban manusia. Rekonstruksi peradaban menuntut keberanian intelektual untuk menghasilkan teori, metodologi, dan praktik yang sesuai dengan tantangan masa depan tanpa kehilangan orientasi nilai-nilai Islam.
Refleksi atas Warisan Intelektual Ekonomi Islam
Dengan demikian, mesti dipahami bersama bahwa Turāth bukan sekedar peninggalan intelektual yang merekam kejayaan peradaban Islam pada masa lalu, melainkan khazanah pengetahuan yang memiliki nilai strategis bagi keberlanjutan tradisi keilmuan Islam. Melalui pelestarian warisan intelektual, pembentukan identitas keilmuan, kesinambungan tradisi intelektual, inspirasi bagi pemikiran kontemporer, hingga rekonstruksi peradaban masa depan, Turāth memiliki peran penting dalam menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Sehingga, mempelajari Turāth tidak cukup hanya dengan membaca dan mengulang pemikiran para ulama terdahulu, tetapi juga memerlukan pemahaman kritis terhadap konteks, substansi, dan nilai-nilai fundamental yang terkandung di dalamnya.
Dalam konteks Ekonomi Islam, penulis berpandangan bahwa Back to Turāth merupakan sebuah seruan bersama untuk kembali menggali akar intelektual yang membentuk karakter keilmuan Ekonomi Islam, sekaligus membangun dialog antara warisan pemikiran klasik dan realitas ekonomi kontemporer. Kembali kepada Turāth bukan berarti terjebak dalam romantisme masa lalu, melainkan mengambil pelajaran dari kedalaman pemikiran para ulama untuk melahirkan gagasan serta mengonstruksi keilmuan yang lebih relevan dalam menjawab tantangan zaman. Masa lalu bukanlah tempat untuk kembali dan berhenti, melainkan menjadi sumber untuk belajar, menjadi pijakan untuk melangkah, dan menjadi inspirasi untuk membangun masa depan.
Editor: Ikrima


