IBTimes.ID – Indonesia akan memanfaatkan Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP31) di Antalya, Turki, sebagai ajang memperkuat kerja sama internasional sekaligus mempercepat pelaksanaan aksi penanganan perubahan iklim. Melalui Paviliun Indonesia, pemerintah berupaya mendorong kolaborasi global dalam upaya mitigasi dan adaptasi agar komitmen yang dihasilkan tidak berhenti sebatas kesepakatan diplomatik.
Staf Ahli Menteri Bidang Sumber Daya Pangan, Sumber Daya Alam, Energi, dan Mutu Lingkungan sekaligus Penanggung Jawab Paviliun Indonesia, Laksmi Widyajayanti, menyampaikan bahwa langkah tersebut sejalan dengan arah Presidensi COP31 Turki yang menitikberatkan tiga prinsip utama, yaitu dialog, konsensus, dan aksi.
“Kita ingin setelah COP ini jangan omon-omon saja. Sudah harus implementasi,” kata Laksmi dalam paparannya di Temu Lingkungan “Road to COP31”, Selasa (Republika/3/11/).
Ia mengungkapkan, Indonesia akan mengintensifkan kemitraan dengan negara-negara yang telah menunjukkan keseriusan dalam mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk program dan kegiatan nyata, mencakup langkah mitigasi maupun adaptasi terhadap dampak perubahan iklim.
Dalam penyelenggaraan COP31, Paviliun Indonesia mengangkat tema “Indonesia as the House of Climate Solutions: Strengthening Climate Resilience through Collaborative Action and a Strategic Net Zero Pathway”. Tema ini merepresentasikan upaya Indonesia untuk menjadi pusat berbagai solusi iklim sekaligus memperkuat ketahanan menghadapi perubahan iklim melalui aksi bersama dan strategi menuju emisi nol bersih.
Laksmi menuturkan, Indonesia mempunyai beragam sumber daya dan potensi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca. Komitmen tersebut juga diperkuat melalui penyampaian dokumen kontribusi yang ditetapkan secara nasional atau Second Nationally Determined Contribution (Second NDC) sebagai landasan kontribusi Indonesia dalam pengendalian perubahan iklim.
Keberadaan Paviliun Indonesia nantinya dimanfaatkan untuk memperkenalkan potensi, inovasi, serta berbagai program nasional yang berkontribusi terhadap pencapaian target iklim. Selain memperlihatkan capaian tersebut kepada dunia internasional, paviliun ini diharapkan mampu memperluas partisipasi berbagai pemangku kepentingan dalam mempercepat transisi menuju net zero emission.
Menurut Laksmi, terdapat empat sasaran utama yang ingin dicapai melalui penyelenggaraan Paviliun Indonesia. Pertama, memperkenalkan langkah strategis dan berbagai inovasi Indonesia dalam penanganan perubahan iklim kepada komunitas internasional.
Kedua, mempromosikan program-program pengendalian perubahan iklim sekaligus membuka peluang pengembangan kegiatan bernilai ekonomi, salah satunya melalui mekanisme perdagangan karbon. Ketiga, memaparkan kemajuan kontribusi dari berbagai sektor dalam mendukung pencapaian target NDC Indonesia.
Adapun tujuan keempat adalah menjadikan Paviliun Indonesia sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan pemerintah, dunia usaha, lembaga filantropi, serta berbagai pihak berkepentingan lainnya.
Untuk mendukung tujuan tersebut, paviliun juga akan dilengkapi fasilitas pertemuan yang dapat dimanfaatkan oleh mitra nasional maupun internasional. Berbagai kegiatan akan difasilitasi, mulai dari pertemuan meja bundar hingga penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) sebagai langkah membangun kemitraan dalam pelaksanaan proyek dan program iklim.
Dalam operasionalnya, Paviliun Indonesia akan menghadirkan lima bentuk kegiatan. Pertama, dialogue session yang diisi diskusi dan gelar wicara untuk mengulas perkembangan serta pelaksanaan aksi iklim oleh berbagai pemangku kepentingan.
Kedua, carbon connection session yang dirancang sebagai forum pertemuan antarpihak untuk membuka peluang kemitraan dan menjajaki pengembangan proyek karbon. Ketiga, penyelenggaraan pertemuan bisnis dan penandatanganan MoU bagi para mitra yang berencana menjalin kerja sama.
Keempat, penyajian pameran digital yang menampilkan berbagai pencapaian Indonesia dalam aksi iklim melalui media visual. Kelima, produksi rangkaian siniar yang menjadi sarana bagi delegasi Indonesia untuk berbagi pemikiran, pengalaman, serta informasi mengenai perkembangan penanganan perubahan iklim.
Laksmi mengungkapkan, pihaknya telah menyiapkan sekitar 67 sesi kegiatan yang sebagian besar berupa forum dialog. Setiap harinya, Paviliun Indonesia akan menyelenggarakan enam hingga tujuh sesi dengan pembahasan yang mencakup beragam isu, perkembangan, dan tantangan dalam pengendalian perubahan iklim.
Untuk menyelaraskan agenda pembahasan, 10 isu prioritas yang ditetapkan Presidensi COP31 Turki akan dirangkum ke dalam lima kelompok tema. Tema tersebut meliputi transisi energi bersih dan industrialisasi hijau (clean energy transition and green industrialization), solusi berbasis alam (nature-based solutions), ketahanan iklim dan nol sampah (climate resilience and zero waste), pendanaan iklim dan pasar karbon (climate finance and carbon market), serta keadilan iklim dan masyarakat inklusif (climate justice and inclusive communities).
Salah satu isu yang mendapat perhatian tersendiri dalam agenda COP31 adalah gerakan nol sampah. Laksmi menjelaskan, pemerintah Turki menempatkan persoalan tersebut sebagai perhatian penting, terlebih Ibu Negara Turki Emine Erdogan selama ini dikenal aktif mendorong kampanye pengurangan sampah melalui gerakan nol sampah.
Di samping itu, isu keadilan iklim dan pelibatan masyarakat secara inklusif turut menjadi bagian penting dalam pembahasan. Laksmi menilai, setiap kebijakan dan program penanganan perubahan iklim harus mempertimbangkan prinsip keadilan serta memastikan masyarakat terlibat di dalamnya. Dengan demikian, manfaat dari berbagai aksi iklim dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.
Dari sisi lokasi, Paviliun Indonesia akan menempati area zona biru atau Blue Zone di Antalya Expo Center, yang berada tidak jauh dari Bandara Antalya. Area ini merupakan pusat penyelenggaraan berbagai agenda diplomasi formal maupun informal, seperti perundingan, pertemuan delegasi, dan aktivitas paviliun negara-negara peserta.
Berbeda dengan zona biru, zona hijau atau Green Zone akan difokuskan pada kegiatan edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat mengenai perubahan iklim. Area tersebut akan menjadi ruang partisipasi bagi organisasi nonpemerintah, komunitas, serta kelompok pemerhati lingkungan dari berbagai negara.
Laksmi memperkirakan jumlah peserta COP31 dapat mencapai sekitar 100 ribu orang. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan penyelenggaraan COP30 di Belem, Brasil, yang tercatat dihadiri kurang lebih 60 ribu peserta.
Besarnya jumlah kehadiran tersebut dinilai membuka kesempatan luas bagi pemerintah, perusahaan, lembaga filantropi, dan organisasi lainnya untuk memperluas jaringan serta membangun kemitraan secara langsung selama konferensi berlangsung.
Sebagai contoh, perusahaan yang telah mengembangkan proyek pengurangan emisi dapat menggunakan fasilitas Paviliun Indonesia untuk menjalin komunikasi dengan calon mitra strategis. Pertemuan tersebut dapat mempertemukan perusahaan dengan lembaga pendanaan maupun pihak lain yang berpotensi mendukung pengembangan proyek-proyek iklim.
Melalui beragam agenda yang telah dipersiapkan, pemerintah menargetkan Paviliun Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai sarana memperkenalkan keberhasilan dan potensi nasional di bidang iklim, tetapi juga menjadi ruang lahirnya kemitraan yang menghasilkan tindak lanjut nyata.
Dengan memperkuat keterlibatan berbagai pihak dan membangun kolaborasi lintas negara, Indonesia berharap berbagai komitmen yang disepakati dalam COP31 dapat diwujudkan melalui program konkret. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya bersama untuk mempercepat penanganan perubahan iklim di tingkat nasional maupun global.
(MS)


