back to top
Senin, Oktober 12, 2026

Abdul Mu’ti: Tradisi Sains Islam Berangkat dari Keyakinan, Bukan Keraguan!

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) sekaligus Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menekankan pentingnya membangun pendidikan yang tidak hanya memperkuat keimanan, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan inovasi. Menurutnya, pendidikan harus mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan dengan membiasakan mereka mengamati, meneliti, dan menemukan pengetahuan baru.

Pesan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti dalam kegiatan Tasyakuran dan Stadium General bertema Mewujudkan Pendidikan Terbaik untuk Membentuk Generasi Muslim Terbaik, yang dirangkaikan dengan peresmian gedung baru SD Muhammadiyah 1 dan 2 Taman (SD Mumtaz), Sepanjang, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (12/10).

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti mengajak para pendidik untuk memahami bahwa keimanan dan ilmu pengetahuan bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Sebaliknya, keduanya dapat menjadi landasan yang saling menguatkan dalam membangun tradisi keilmuan dan mengembangkan pendidikan.

Untuk menjelaskan hubungan antara iman dan ilmu pengetahuan, Abdul Mu’ti mengambil contoh sederhana dari salah satu makhluk ciptaan Allah, yakni nyamuk. Ia menceritakan bahwa dirinya pernah diminta menulis tentang nyamuk dari perspektif biologi, hadis, dan Al-Qur’an.

Menurutnya, makhluk sekecil nyamuk pun dapat menjadi sumber pengetahuan yang luas apabila manusia bersedia mengamati dan mempelajarinya secara mendalam.

Ia kemudian mengutip firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 26.

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَسْتَحْيٖٓ اَنْ يَّضْرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوْضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۚ وَاَمَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَيَقُوْلُوْنَ مَاذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِهٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهٖ كَثِيْرًا وَّيَهْدِيْ بِهٖ كَثِيْرًا ۗ وَمَا يُضِلُّ بِهٖٓ اِلَّا الْفٰسِقِيْنَۙ

Baca Juga:  Di Tengah Laut, ‘Aisyiyah Hadirkan Sikola Dilao’ untuk Putus Rantai Putus Sekolah

Artinya, “Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir berkata, ‘Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?’ Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, dan dengan itu banyak (pula) orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu selain orang-orang fasik.” (QS. Al-Baqarah [2]: 26).

Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa ayat tersebut memberikan pelajaran tentang hubungan antara keimanan dan pengamatan terhadap alam semesta. Bagi orang beriman, keberadaan makhluk sekecil apa pun merupakan bagian dari bukti kekuasaan Allah yang dapat dipelajari melalui ilmu pengetahuan.

“Orang-orang yang beriman meyakini bahwa Allah Mahakuasa menciptakan apa pun, termasuk makhluk sekecil nyamuk. Dari keyakinan itulah manusia kemudian didorong untuk mengamati, mempelajari, dan mengembangkan ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa banyak ayat Al-Qur’an mengajak manusia memperhatikan berbagai fenomena alam, mulai dari penciptaan langit dan bumi hingga kehidupan makhluk-makhluk yang ada di dalamnya. Pengamatan terhadap alam tersebut tidak hanya bertujuan memperluas pengetahuan manusia, tetapi juga memperkuat kesadaran akan kebesaran Allah.

Dalam konteks pendidikan, menurut Abdul Mu’ti, pesan tersebut menjadi dasar penting untuk mengembangkan pembelajaran berbasis penelitian atau riset sejak dini. Ia mencontohkan pengembangan sekolah berbasis riset di lingkungan Muhammadiyah yang dapat mengintegrasikan nilai-nilai keimanan dengan kegiatan ilmiah.

Baca Juga:  Tes Kemampuan Akademik (TKA) di Mata Psikolog Pendidikan

“Kalau kita mengembangkan sekolah berbasis riset, maka riset itu berangkat dari keyakinan, bukan keraguan terhadap kekuasaan Allah. Setelah itu, manusia diperintahkan untuk mengamati. Dari pengamatan itulah ilmu pengetahuan dapat terus berkembang,” jelasnya.

Lebih lanjut, Mendikdasmen menerangkan bahwa Allah membekali manusia dengan tiga kemampuan utama yang perlu dikembangkan melalui pendidikan. Pertama, kemampuan fisik yang memungkinkan manusia melakukan berbagai aktivitas. Kedua, kemampuan memahami dan merenungkan sesuatu (faculty of understanding) melalui akal. Ketiga, kemampuan transendental yang memungkinkan manusia membangun hubungan spiritual dengan Tuhan.

Ketiga kemampuan tersebut, menurutnya, perlu dikembangkan secara seimbang agar pendidikan tidak hanya menghasilkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan kemampuan untuk berkarya.

Ia menegaskan bahwa pendidikan harus memberikan ruang seluas-luasnya kepada murid untuk menggunakan akal, mengembangkan gagasan, serta mengeksplorasi berbagai kemungkinan baru. Hal ini menjadi penting karena kemajuan ilmu pengetahuan selalu berkaitan dengan kemampuan manusia untuk berpikir, mengamati, dan menemukan sesuatu.

Dalam penjelasannya, Abdul Mu’ti juga mengaitkan pengembangan kreativitas dan inovasi dengan dua istilah dalam bahasa Arab, yakni khalaqa dan ja’ala. Ia menggunakan kedua istilah tersebut untuk menggambarkan pentingnya kemampuan menciptakan sesuatu yang baru dan mengembangkan sesuatu yang telah ada.

“Pemikiran itu harus kita dorong, jangan malah dibatasi. Anak-anak harus diberikan kesempatan untuk berpikir, berkreasi, dan berinovasi. Karena dari proses itulah akan lahir pengetahuan dan berbagai penemuan baru,” tegasnya.

Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada kebutuhan masa kini.. Perubahan zaman yang semakin cepat menuntut sekolah untuk menyiapkan murid menghadapi tantangan dan peluang yang mungkin belum sepenuhnya terlihat saat ini.

Baca Juga:  Metode Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Oleh karena itu, proses pembelajaran perlu terus diperbarui agar mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, serta keberanian untuk mencoba dan menghasilkan gagasan baru.

“Pendidikan harus berorientasi pada masa depan. Karena itu, cara kita mendidik juga harus menyesuaikan dengan kondisi masa depan. Tradisi riset menjadi sangat penting agar anak-anak terbiasa mengamati, berpikir, dan menemukan sesuatu yang baru,” ungkapnya.

Ia juga menekankan bahwa kreativitas dan inovasi perlu didukung oleh penguasaan ilmu pengetahuan yang kuat. Setiap penemuan baru harus lahir dari proses berpikir yang sistematis, pengamatan yang cermat, serta pemahaman terhadap teori yang tepat.

Menurutnya, pengembangan tradisi riset sejak dini merupakan salah satu cara untuk membangun generasi yang tidak hanya mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga ikut berkontribusi dalam menciptakan kemajuan.

Melalui kegiatan tasyakuran, stadium general, dan peresmian gedung baru SD Muhammadiyah 1-2 Taman ini, Abdul Mu’ti berharap penguatan sarana pendidikan berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pembelajaran. Kehadiran fasilitas pendidikan yang semakin baik perlu diimbangi dengan budaya belajar yang mendorong murid untuk berpikir terbuka, mengembangkan kreativitas, dan memperkuat karakter.

Dengan demikian, sekolah diharapkan dapat menjadi tempat tumbuhnya generasi Muslim yang memiliki keimanan kuat, menguasai ilmu pengetahuan, serta mampu menghadirkan karya dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

(FI)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru