Amalan untuk Berburu Lailatul Qadar - IBTimes.ID
Akhlak

Amalan untuk Berburu Lailatul Qadar

4 Mins read

Bulan Ramadan adalah bulan turunnya Al-Qur’an. Di dalamnya terdapat lailatul qadar, malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Oleh sebab itu, hendaknya kita pelajari amalan untuk berburu lailatul qadar.

Lailatul Qadar

Mengenai lailatul qadr disebutkan di dalam Q.S Al-Qadr: 1-5

إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ سَلَٰمٌ هِىَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ ٱلْفَجْرِ

Disebutkan pada ayat pertama bahwasanya ‘Kami’ (Allah SWT melalui perantara malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad) telah menurunkan ‘hu’ (Al-Qur’an) pada malam qadar.

Dari ayat tersebut ada satu info kapan terjadinya lailatul qadr yakni saat Al-Qur’an diturunkan, lalu kapan Al-Qur’an diturunkan? Yakni pada bulan Ramadhan. Sebagaimana dalam Q.S Al-Baqarah: 185

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ

Artinya: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).”

Maka sudah kita dapatkan poin pertama bahwa lailatul qadr/lailatul qadar terdapat di bulan Ramadan. Selanjutnya pada tanggal berapa lailatul qadar terjadi? Disebutkan dalam hadis riwayat Imam Bukhari:

تَحَرَّوْا ليلة القدرِ في الوِتْرِ، من العشرِ الأواخرِ من رمضانَ

Artinya: “Carilah oleh kalian keutamaan lailatul qadr pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.” Dalam hadis lain, tamisuha fil asri awarihi min ramadhana, lailatul qadr tasiatin tabka, sabiatin tabka, khamisatin tabka.

Lalu kita dapatkan poin kedua bahwa lailatul qadr terjadi di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, tepatnya tasiatin tabka (sembilan hari tersisa/hari ke 21), sabiatin tabka (tujuh hari tersisa/hari ke 23) atau khamisatin tabka (lima hari tersisa/hari ke 25).

Keutamaan

Keutamaan lailatul qadr adalah lebih baik dari pada 1000 bulan, lailatul qodri khoirum min alfi syahr, mari kita bedah maksud 1000 bulan pada ayat tersebut. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019, harapan hidup di Indonesia adalah laki-laki 69 tahun dan perempuan 74 tahun, rata-rata 71 tahun dan usia sehat adalah umur 62 tahun.

Baca Juga  Berlaku Adil: Keadilan Sosial dan Keimanan dalam Islam

Jika merujuk kepada perumpamaan 1000 bulan yang digunakan oleh Al-Qur’an, kemudian kita bagi dengan 12 bulan sesuai dengan jumlah bulan setahun, maka muncul angka 83 tahun.

Makna lailatul qadr ‘lebih baik dari pada 1000 bulan’ maksudnya adalah seseorang yang mendapatkan lailatul qadr lebih baik dari pada keseluruhan umur manusia yang digunakan di dunia, yang hanya sekitar 69-74 tahun saja. Diperkuat dengan hadis Nabi:

أَعْمَارُ أُمَّتِى مَا بَيْنَ سِتِّينَ إِلَى سَبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

Artinya: “Umur umatku antara enam puluh sampai tujuh puluh tahunan. Dan sangat sedikit di antara mereka yang melewati itu.” (H.R Tirmidzi) Menunjukkan bahwa umur umat Nabi Muhammad rata-rata adalah enam puluh sampai tujuh puluh tahun dan jarang yang melampauinya. Sehingga lailatul qadr lebih baik dari semua hal yang kita dapatkan dan lakukan seumur hidup.

Mendapatkan keutamaan lailatul qadr seharusnya menjadi target utama kita selama bulan Ramadhan. Sebab jika ingin memperhatikan bagaimana siklus manusia begitu cepat berlalu, hitungan maksimal 69-74 tidak akan terasa.

Apalagi hidup kita belum tentu semuanya dilalui dengan kebaikan, yang merasa sudah melakukan kebaikan pun akan menjadi nilai plus di hadapan Allah SWT.

Artinya: “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan kamu sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan kamu sesudah kuat itu lemah kembali dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Ar-Rum: 54)

Kondisi lemah yang pertama adalah masa kita bayi dan usia anak-anak, segala sesuatu orang tua yang menyediakan. Kemudian menjadi kuat, adalah masa kita baligh dan usia produktif, dimana kita bisa memenuhi kebutuhan primer-sekunder kita sendiri, bahkan juga mampu memenuhi kebutuhan orang tua.

Baca Juga  Membela Nabi, ala Perang Khandaq atau Umpatan Yahudi?

Namun jangan terlena, masa ini tidak akan lama, sampai Allah SWT akan mengembalikan kita menjadi lemah, masa usia senja. Tubuh mulai rapuh, pikiran mulai berkurang, kebutuhan kembali ditanggung oleh orang lain. Ketiga masa ini, dikatakan oleh Allah SWT tidak lebih baik daripada lailatul qadr.

Bagi para pemburu lailatul qadr, Rasulullah dalam sebuah hadis memberikan ciri-ciri suasana saat lailatul qadar terjadi, lailatu samhatu (malam yang lembut) tholakotu (cerah) la haratan (tidak terlalu panas) la baridatan (tidak terlalu dingin) tushbihu syamsu, shobihatuha dho’ifatu (matahari pagi bersinar lemah) hamrah (warnanya kemerah-merahan).

Amalan untuk Berburu Lailatul Qadar

Mencari lailatul qadr bukan kegiatan yang hanya menghabiskan waktu saja. Jangan diartikan dengan begadang tiap malam, tapi haruslah diisi dengan ibadah dan amal sholeh lainnya.

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Barangsiapa menghidupkan malam lailatul qadr (dengan beribadah) karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR Bukhari)

Adapun beberapa amalan untuk berburu lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan:

1. Sungguh-sungguh dalam ibadah

يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِالأَوَاخِرِمَالاَيَجْتَهِدُ فِىغَيْرِهِ

Artinya: “Rasulullah sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim)

2. Menghidupkan malam

إِذَا دَخَلَا لْعَشْرُشَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Artinya: “Apabila Nabi memasuki sepuluh hari terakhir, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari & Muslim)

3. Iktikaf

Iktikaf adalah berdiam diri di masjid dalam rangka mencari keridhaan Allah SWT. Dapat dilakukan dengan syarat, orang yang melaksanakan iktikaf beragama Islam dan sudah baligh, baik laki-laki maupun perempuan.

Baca Juga  Ibrah Kesabaran Nabi Ayyub dalam Pandemik COVID-19

Iktikaf dilaksanakan di masjid, baik masjid jami’ maupun masjid biasa. Orang yang akan melaksanakan iktikaf hendaklah memiliki niat iktikaf. Serta tidak ada larangan melakukan itikaf bagi yang tidak berpuasa.

Ketika itikaf isilah dengan ibadah dan amalan baik lainnya, seperti melaksanakan salat sunat (salat tahiyatul masjid, salat lail), membaca Al-Qur’an, berdzikir dan berdo’a. Juga bisa diselingi dengan membaca buku-buku agama.

Selain itu hindarilah hal yang membatalkan itikaf kita, seperti berjima’ atau perbuatan-perbuatan muqaddimahnya. Keluar dari masjid bukan untuk suatu keperluan mendesak. Tiba-tiba menjadi gila, murtad. Dan bagi perempuan mengalami haid dan nifas.

Ketika adanya wabah corona yang penyebarannya bisa terjadi melalui droplet atau percikan air liur, jika ada seseorang yang sudah terinfeksi kemudian bersin dan batuk, orang yang berada jarak kurang dari dua meter tanpa menggunakan masker bisa tertular, oleh karena itu dianjurkan untuk physical distancing. Selain itu juga dapat menyebar jika bersentuhan dengan benda yang sudah terpapar, seperti pegangan pintu, tangga dan benda lainnya.

Dengan kondisi di atas, merujuk kepada Q.S Al-Hajj “Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama”, hadis Nabi: La dharara wa la dhirara, tidak boleh mendatangkan bahaya untuk diri sendiri dan orang lain. Sehingga berlaku beberapa pengecualian terkait pelaksanaan ibadah di bulan Ramadhan, dengan cara menghindari melakukan ibadah di masjid dan menggantinya di rumah, seperti sholat tarawih, tadarus dan iktikaf.

Itulah beberapa penjelasan mengenai lailatul qadr, semoga kita semua diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk mendapatkannya di bulan Ramadhan tahun ini.

Editor: Nabhan

Avatar
5 posts

About author
Ketua Umum DPD IMM DIY, Dosen UAD
Articles
Related posts
Akhlak

Psikologi Islami: Karakter Sabar dalam Ibadah Puasa

6 Mins read
Keutamaan Puasa Secara Lahir dan Batin Dari macam-macam ibadah, apabila ditinjau dari segi bentuk dan sifatnya, maka puasa merupakan ibadah yang berbentuk…
Akhlak

Lakukan ini Saat Menyambut Bulan Ramadhan!

2 Mins read
Menyambut Ramadhan Jika kita sebagai hamba selalu memohon untuk terus dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan di setiap tahunnya, maka kita juga harus…
Akhlak

Muslim Sejati itu Saleh Sosial, bukan Saleh Ritual!

5 Mins read
Menjadi Seorang Muslim Apa sebenarnya yang diinginkan Allah dari kita? Kita yang sejak lahir adalah Muslim, tentu sudah sepatutnya tidak merasa keislaman…

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa