Amalan yang Sia-sia: Bagai Mengurai Benang yang Sudah Dipintal - IBTimes.ID
Akhlak

Amalan yang Sia-sia: Bagai Mengurai Benang yang Sudah Dipintal

3 Mins read

Detik waktu terus berjalan. Tidak terasa Ramadan yang hanya tinggal menyisakan 10 hari terakhir ini akan berlalu. Mungkin sebagian di antara kita mulai merasakan kekhawatiran apakah amal ibadahnya selama bulan Ramadan ini diterima Allah atau tidak? Apakah amal ibadahnya bermanfaat ataukah sebaliknya, menjadi amalan yang sia-sia?

Jangan sampai kita termasuk golongan orang-orang yang justru merugi, karena sudah merasa banyak beramal, salat, puasa, zakat dan lain-lainnya, namun semua nilainya hilang begitu saja, sia-sia tidak bermakna. Siapakah mereka yang termasuk merugi alias bangkrut (muflis)?

Amalan yang Sia-sia

Dalam surat An-Nahl Allah berfirman: “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali…” (QS. AN-Nahl: 92).

Ayat ini menggambarkan bahwa nanti di akhirat banyak orang yang merasa sudah banyak beramal, namun merugi (muflis) alias bangkrut. Perbuatannya menjadi amalan yang sia-sia. Tidak mendapatkan keutungan apapun dari apa yang telah ia kerjakan. Kembali modalpun tidak. Justru ia rugi sangat besar.

Kerugian orang terebut digambarkan bagaikan seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali. Usahanya menjadi sia-sia belaka karena ternyata tidak ada nilainya. Berkenaan dengan ayat tersebut Nabi saw. bersabda:

 قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ، فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, ‘Tahukah kalian siapakah orang yang muflis (bangkrut) itu?‘ Para sahabat menjawab, ‘Orang yang muflis (bangkrut) diantara kami adalah orang yang tidak punya dirham dan tidak punya harta.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang muflis (bangkrut) dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa dan zakat, namun ia juga datang (membawa dosa) karena mencela si fulan, menuduh si fulan (dengan tuduhan yang tidak benar), memakan harta si fulan dan menumpahkan darah si fulan serta memukul si fulan. Maka akan diberinya orang-orang tersebut dari kebaikan-kebaikannya. Dan jika kebaikannya telah habis sebelum ia menunaikan kewajibannya, diambillah keburukan dosa-dosa mereka (orang yang dicela), lalu dicampakkan padanya dan ia dilemparkan ke dalam neraka. (HR. Muslim)

Baca Juga  Merawat Alam, Bersahabat dengan Lingkungan

Ayat dan hadis di atas mengingatkan kepada kita bahwa pentingnya kita menjaga amal shalih kita agar kelak di akhirat kita tidak termasuk orang-orang yang muflis. Jangan sampai kita yang sudah merasa selalu memegakkan salat (termasuk shalat sunnah) selama bertahun-tahun, puasa tidak pernah ditinggalkan (termasuk puasa sunnah) sepanjang hidup, zakat, infaq dan shadaqahnya tidak terhitung, namun sampai di akhirat ternyata semuanya hilang menjadi amalan yang sia-sia. 

Lisan dan Tangan Penyebab Utama

Dari hadis di atas, setidaknya ada dua hal yang bisa membuat kita bangkrut di akhirat, yaitu lisan dan tangan. Dua anggota tubuh kita ini adalah yang paling sering dan begitu mudah menyakiti dan merugikan orang lain.

Terkadang kita lupa dan mungkin tidak sadar bahwa selama ini lisan kita sudah terlalu sering menyakiti orang lain dan tangan kita telah banyak mengambil hak orang lain. Betapa banyak kerusakan yang terjadi di muka bumi karena lisan dan tangan manusia.

Nabi saw bersabda: “Seorang Muslim (yang baik) adalah orang yang bisa menjaga lisan dan tangannya untuk tidak menyakiti Muslim lainnya.” (HR. Bukhari). Dalam hadis yang lain Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan HR. Muslim). Berkiatan dengan puasa Nabi saw.  bersabda: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan selalu mengamalkannya, maka Allah Ta’ala tidak butuh pada puasanya.”(HR. Bukhari).

Karena sangat berbahanya menyakiti dan merugikan orang lain Allah swt. memperingatkan dengan firmannya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang, dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat:12).

Baca Juga  Berharganya Orang yang Beriman

Berkaitan dengan ayat 12 dari Surat Al-Hujarat di atas, Rasulullah bersabda: “Ketika saya dimirajkan, saya melewati suatu kaum yang memiliki kuku dari tembaga sedang mencakar wajah dan dada mereka. Saya bertanya: Siapakah mereka ini wahai Jibril? Jibril menjawab: Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia (ghibah) dan melecehkan kehormatan mereka” (HR. Abu Daud).

Dosa Ghibah

Karena ghibah dosanya sangat besar sampai-sampai dosanya diumpamakan seperti memakan bangkai (daging busuk) manusia, bahkan bangkai yang dimakan adalah bangkai saudaranya sendiri. Tentu sangat menjijikkan.

Itulah bahayanya menyakiti dan mendzalimi orang lain. Lisan dan tangan yang tidak bisa dijaga bisa menimbulkan fitnah. Karena bahanyanya dampak dari fitnah, Allah menyebutnya lebih kejam dari pembunuhan (QS. Al-Baqarah: 191).

Nabi saw. bersabda: “Seorang mukmin bukanlah tukang cela dan tukang laknat dan bukanlah orang yang suka berkata keji lagi kotor.” (HR Tirmidzi).

Abu Dzar berkata: Nabi SAW bersabda: “Ghibah merupakan suatu dosa yang lebih besar daripada berzina. Aku bertanya: Bagaimana bisa seperti itu, ya Rasulullah? Rasul menjawab: “Karena orang yang berzina, jika dia bertobat kepada Allah, Allah menerima tobatnya. Namun ghibah tidak diampuni oleh Allah, hingga korban daripada ghibah mengampuninya.”

Demikianlah uraian tentang orang-orang yang merugi di akhirat. Dengan menjaga lisan dan tangan kita dari menyakiti dan mendzalimi orang lain, semoga kita dijauhkan dari golongan orang-orang yang muflis. Semoga amal kita diterima dan tidak menjadi amalan yang sia-sia. Aamiin…

Editor: Nabhan

Related posts
AkhlakEssay

Emansipasi Wanita dan Jilbab Menurut Qasim Amin

3 Mins read
Hingga saat ini tak jarang kita temui masyarakat pada suatu negara yang masih memandang rendah wanita. Masih banyak para suami yang tidak…
Akhlak

Melariskan Dagangan melalui Jalan Allah

4 Mins read
Setiap manusia yang berakal pasti memiliki usaha dalam meningkatkan taraf hidupnya, guna memenuhi kebutuhan dan mencapai apa yang disebut sejahtera. Banyak sekali…
Akhlak

Kunci Sukses ala Rasulullah Saw

3 Mins read
Kesuksesan adalah hal yang selalu didambakan oleh setiap orang. Dengan kesuksesan yang diraih, kita akan senantiasa mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan di dalam…

Tinggalkan Balasan