Bayangkan seorang anak pulang sekolah dengan wajah murung. Bukan karena ia tidak belajar, bukan juga karena ia malas, tetapi karena satu hal sederhana: angka di rapornya turun. Di meja makan, obrolan keluarga pun berputar di situ, bukan tentang apa yang ia pahami hari ini, melainkan tentang nilai yang gagal memenuhi harapan. Angka kecil itu tiba-tiba terasa lebih berat daripada semua usaha yang sudah ia lakukan.
Kita mungkin tidak menyadarinya, tetapi situasi seperti ini terjadi setiap hari, di banyak rumah, sekolah, dan kampus. Angka perlahan mengambil alih cara kita memandang belajar, sukses, bahkan diri sendiri. Dari sini, muncul pertanyaan: Mengapa pendidikan hari ini begitu akrab dengan hitungan? Dan apa dampaknya bagi cara kita memahami makna belajar dan menjadi manusia?
Sekolah dan Kampus dalam Perlombaan Nilai
Hari ini, wajah pendidikan sangat mudah dikenali, angka ada di mana-mana. Sejak bangku sekolah, anak-anak dibiasakan bertanya bukan “aku paham atau tidak”, tapi “nilainya berapa?”. Rapor, peringkat kelas, nilai ujian, hingga IPK menjadi tolok ukur utama keberhasilan. Angka-angka ini lalu dibawa ke mana-mana, seolah menjadi identitas seseorang. Kalau nilainya tinggi, ia dianggap pintar; kalau rendah, ia sering dicap gagal. Tapi benarkah kemampuan dan kualitas manusia bisa diringkas hanya lewat deretan angka?
Dalam praktiknya, angka bukan lagi sekadar alat ukur, melainkan penentu nasib. Nilai menentukan siapa yang naik kelas, siapa yang dapat beasiswa, siapa yang diterima kerja, dan siapa yang tersingkir. Sistem menjadi rapi dan cepat, tapi juga dingin. Banyak siswa dan mahasiswa akhirnya belajar bukan untuk memahami, melainkan untuk mengejar nilai. Hafalan lebih penting daripada pemahaman dan kejujuran, hasil lebih diutamakan daripada proses. Jika angka sudah menjadi tujuan utama, lalu di mana tempat untuk kejujuran dan tanggung jawab?
Tekanan untuk tampil “sempurna” di atas kertas membuat sebagian orang rela melakukan apa saja. Menyontek, memanipulasi tugas, bahkan membeli karya orang lain sering dianggap wajar selama angka tetap aman. Yang dinilai bukan lagi cara belajar, tapi hasil akhirnya. Ironisnya, sistem sering tutup mata selama angka terlihat bagus. Jika pendidikan justru melatih orang untuk lihai mengakali sistem, nilai apa sebenarnya yang sedang diajarkan?
Sementara itu, hal-hal yang menyangkut sikap dan karakter sering dianggap bonus. Kejujuran, empati, kepedulian sosial, dan kemampuan bekerja sama sulit diberi skor pasti. Karena tak mudah diukur, hal-hal ini perlahan tersingkir ke pinggir. Pendidikan tampak sibuk mencetak lulusan berprestasi (secara angka), tapi sering lupa bertanya apakah mereka juga peduli, adil, dan bertanggung jawab. Apakah pendidikan cukup hanya melahirkan orang pintar tanpa memastikan mereka menjadi manusia yang baik?
Pada akhirnya, angka memang memudahkan pengelolaan pendidikan, tetapi juga menyederhanakan manusia. Kehidupan belajar yang seharusnya membentuk pribadi utuh berubah menjadi perlombaan angka tanpa henti. Kita pun jarang berhenti untuk bertanya lebih dalam: sejak kapan angka diberi kuasa sebesar ini dalam menentukan nilai manusia, dan dari cara berpikir seperti apa kebiasaan ini sebenarnya berakar?
Belajar Kembali dari Pythagoras tentang Makna Angka
Jika kita mundur jauh ke belakang, ke masa Pythagoras hidup, kita akan menemukan sesuatu yang menarik. Pythagoras memang percaya bahwa dunia dapat dipahami lewat angka, tetapi angka baginya bukan tujuan akhir. Angka adalah cara membaca keteraturan hidup, bukan alat untuk memberi label siapa yang unggul dan siapa yang gagal. Bilangan dipahami sebagai jalan menuju keseimbangan, ketertiban, dan harmoni, bukan sebagai alat untuk saling menyingkirkan. Pertanyaannya, di mana pendidikan hari ini kehilangan makna itu?
Dalam pandangan Pythagoras, hidup yang baik bukan hidup dengan angka tertinggi, melainkan hidup yang selaras. Ia mengajarkan disiplin diri, kesederhanaan, dan tanggung jawab terhadap sesama. Angka membantu manusia memahami dunia, tetapi tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan kebijaksanaan. Jika demikian, mengapa pendidikan modern justru menjadikan angka sebagai penentu harga diri dan martabat seseorang?
Masalahnya bukan pada nilai, peringkat, atau IPK itu sendiri. Masalah muncul ketika angka diperlakukan seolah-olah mampu mewakili seluruh diri manusia. Ketika seseorang direduksi menjadi skor, pendidikan berhenti membentuk karakter dan hanya sibuk memproduksi hasil. Pythagoras justru mengingatkan bahwa keteraturan sejati selalu melibatkan sikap hidup, bukan sekadar hitungan. Jika angka kehilangan hubungan dengan sikap dan tanggung jawab, bukankah ia justru menjauh dari tujuan awalnya?
Di sinilah pendidikan perlu berhenti sejenak dan bercermin. Jika kita benar-benar ingin kembali ke semangat awal pemikiran Pythagoras, maka angka harus dikembalikan ke tempatnya: sebagai alat bantu, bukan pusat segalanya. Nilai akademik tetap penting, tetapi harus berjalan seiring dengan pembentukan kejujuran, kepedulian, dan kesadaran diri. Tanpa itu, pendidikan hanya akan melahirkan orang-orang yang cerdas menghitung, tetapi gagap memahami kehidupan.
Secara praktis, perubahan ini bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Guru dan dosen dapat lebih sering memberi ruang pada proses belajar, bukan hanya hasil akhir. Orang tua bisa berhenti membandingkan anak lewat angka semata dan mulai bertanya tentang sikap serta usaha mereka. Lembaga pendidikan dapat menilai keberhasilan tidak hanya dari rapor dan IPK, tetapi juga dari bagaimana lulusannya bersikap di tengah masyarakat. Bukankah pendidikan seharusnya membantu manusia hidup selaras dengan dirinya dan orang lain, seperti yang pernah dibayangkan Pythagoras?
Angka tidak pernah salah. Yang keliru adalah ketika manusia menyerahkan seluruh makna hidupnya kepada angka. Pythagoras mengajarkan keteraturan agar manusia menjadi lebih bijaksana, bukan agar saling mengalahkan. Jika pendidikan ingin kembali ke tujuan dasarnya, mungkin yang perlu kita lakukan bukan menolak angka, melainkan mengingat kembali untuk apa angka itu diciptakan sejak awal.
Editor: Ikrima


