Sebenarnya, Penjara adalah Anugerah

 Sebenarnya, Penjara adalah Anugerah

Ilustrasi: IDNTimes

Dalam pelaksanaan tugas sebagai seorang petugas penjara, saya sering melihat perubahan perilaku narapidana yang mulanya buruk menjadi baik. Banyak dari mereka yang saat berada di kehidupan bebas malah jauh dan teramat lalai dengan Tuhan. Sehingga ketika mereka masuk ke dalam penjara tidak sedikit yang pada akhirnya instrospeksi diri dan memperbaiki pribadi masing-masing. Bisa dikatakan dengan penjara mereka mendapat anugerah.

Seseorang yang masuk ke dalam penjara tidak selalu berarti mereka adalah manusia yang jahat. Sebab kasus yang menghantarkan para narapidana itu masuk ke dalam penjara memiliki karakteristik masing-masing.

Ada yang memang masuk penjara itu karena melakukan kejahatan yang sudah terbiasa. Namun ada juga yang baru pemula dan sedang coba-coba. Lalu ada pula seseorang yang dipenjara itu bukan karena kejahatan, tetapi karena tidak sepakat dengan para penguasa (seperti pada zaman Presiden Suharto).

Pada poin ini, perlu sekiranya melihat tulisan Deddy Arsya pada buku Mendisiplinkan Kawula Jajahan (2017), menyebutkan bahwa dalam sejarahnya, penjara di tanah air sering digunakan sebagai upaya melemahkan dan menjatuhkan seseorang pada konteks perpolitikan bangsa. Sehingga penjara bukan hanya institusi bagi mereka yang melanggar hukum saja, melainkan tempat bagi mereka yang dikalahkan oleh keadaan (politik).

Selain itu ada juga seseorang yang dipenjara karena kesalahan serta kelalaian, seperti pengendara yang mengalami kecelakaan. Keanekaragaman tersebut membuat penjara menjadi miniatur kehidupan dunia dalam sebuah lembaga. Meskipun labelnya adalah tempat berkumpulnya para pelanggar hukum, namun tetap ada hukum yang ditegakkan agar lingkungan tersebut kondusif untuk pembinaan.

Pemasyarakatan Indonesia

Ini semua dampak dan akibat dari sistem kepenjaraan kita yang menganut konsep pemasyarakatan. Karena dalam prinsip pemasyarakatan, narapidana itu dipandang bukan hanya sebatas obyek, tetapi subyek. Sehingga tidak selalu dimaknai sebagai orang yang selalu salah dan hina, melainkan diberi kesempatan untuk berbenah dari kekhilafannya.

Maka tidak heran kalau ada yang menganggap bahwa dipenjara itu sebuah anugerah. Karena memang di dalamnya dia mendapatkan pembinaan untuk berbenah menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Menurut C. Djisman Samosir, dalam Penologi dan Pemasyarakatan (2016), berubahnya konsep kepenjaraan di Indonesia dari tujuan pembalasan menjadi pembinaan merupakan sebuah progresifitas yang harus dipertahankan. Ketika tujuannya hanya sekadar pembalasan, maka perilaku yang kurang manusiawi akan sangat sukar untuk dihindari. Namun jika orientasinya pembinaan, maka yang terwujud adalah perlakuan humanis dan sistematis untuk memulihkan para narapidana.

Bayangkan saja kalau sistem kepenjaraan kita tidak menggunakan konsep pemasyarakatan. Saya yakin tidak mungkin akan terucap kalimat yang menganggap penjara sebagai anugerah. Malah bisa menyimpulkan penjara sebagai tempat yang penuh derita. Karena setiap hari pasti akan disiksa agar membuat jera. Belum lagi perlakuan tidak manusiawi lainnya.

Penjara adalah Rahmah Allah

Dengan konsep pemasyarakatan yang menjunjung tinggi pembinaan, maka narapidana memiliki kesempatan untuk bermuhasabah diri. Syukur-syukur dapat memetik hikmah dibalik kondisinya di penjara. Sehingga mereka yang awalnya lalai menjadi ingat dan yang mulanya bejat menjadi taat.

Kemudian ketika seorang narapidana dapat menyadari bahwa apa yang dialaminya itu adalah sebuah ketetapan Allah dan akibat dari perilakunya selama ini. Bukan tidak mungkin akan muncul perasaan ingin berubah dan bertaubat.

Maka bisa jadi kedepannya mereka akan lebih hati-hati lagi dalam menjalani kehidupan. Baik berhati-hati dalam urusan dunia maupun urusan beribadah kepada Allah. Hal seperti ini pun sesuai dengan firman Allah dalam surat Asy-Syura ayat 30 yang artinya : “Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (kesalahan2).

Mungkin pada kondisi inilah penjara dapat dikatakan rahmah. Karena gara-gara penjara para narapidana dapat lebih dekat dengan Allah ketimbang dengan yang lainnya. Bisa jadi karena penjara pula mereka benar-benar memahami dan mengerti bahwa kasih sayang Allah tiada henti menghujani kehidupan mereka. Sehingga rasa syukur benar-benar dapat bersemayam di hati mereka.

Pastiinya kita tidak perlu masuk penjara dulu agar merasakan kasih sayang Allah, karena rahmah Allah ada di mana-mana.

Editor: Nabhan

Royyan Mahmuda

Royyan Mahmuda

Alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saat ini bekerja di Kementerian Hukum dan HAM pada Balai Pemasyarakatan Kelas II Pekalongan.

Related post

1 Comment

    Avatar
  • I just want to tell you that I’m beginner to blogs and seriously enjoyed your web blog. Almost certainly I’m likely to bookmark your blog post . You absolutely come with superb stories. Bless you for sharing with us your website.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lost your password? Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.