Tinggal menghitung hari lagi seluruh umat Muslim di dunia akan melaksanakan ibadah puasa. Semuanya bersorak gembira menyambutnya. Di media sosial seperti Facebook mulai banyak bermunculan postingan yang menyatakan rasa rindu berjumpa dengan bulan penuh berkah ini.
Di TikTok pun juga demikian, mulai berseliweran konten video lagu Siti Fatimah yang biasa dinyanyikan untuk membangunkan orang sahur dengan caption, “Ya Allah, sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan bulan suci Ramadan.”
Dalam Islam, merupakan sebuah kebaikan jika seorang Muslim merindukan untuk bertemu bulan suci Ramadan. Itu artinya ada keinginan kuat yang tertanam dalam diri untuk memperoleh karunia dan ampunan dari Allah SWT dengan memperbanyak amal ibadah selama di bulan suci. Makanya, ada doa yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk dibaca setiap Muslim, yakni:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Artinya: “Ya Allah berkatilah kami pada Bulan Rajab dan Bulan Sya’ban. Sampaikan kami dengan Bulan Ramadan.”
Dalam Islam, bulan Ramadan selain dikenal sebagai bulan dibukanya pintu-pintu surga, ditutupnya pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu, juga dikenal sebagai bulan melimpah ruahnya keutamaan dan keberkahan. Bulan Ramadan begitu istimewa dari bulan-bulan yang lain karena banyaknya keutamaan yang terdapat di bulan suci ini, seperti diturunkannya Al-Qur’an, bulan ampunan, dilipatgandakannya pahala, dan lain-lain. Makanya, seorang Muslim harus benar-benar memanfaatkan momentum ini untuk banyak-banyak melakukan amal ibadah.
Apakah Kita Benar-benar Merindukan Ramadan?
Namun, sebelumnya mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri, “Apakah kita benar-benar merindukan Ramadan?”. Sebagaimana seseorang yang merindukan kekasihnya akan menghabiskan waktu untuk bersama dengan yang dicintainya ketika sudah ada kesempatan untuk bertemu, akankah kita juga akan mengisi waktu-waktu kita untuk beribadah secara totalitas kepada Allah SWT ketika bulan Ramadan sudah tiba?
Atau jangan-jangan yang kita rindukan dari Ramadan adalah kemeriahannya saja, takjil dengan rasa rupa-rupa, atau mungkin THR dari perusahaan? Yang kita rindukan ternyata hanyalah hal-hal yang materi saja, bukan rindu untuk menikmati hidangan ilahiah yang dihadirkan Allah SWT selama di bulan suci.
Apakah ketika Ramadan, puasa yang kita jalankan memang bukan hanya sekadar menahan diri untuk tidak makan dan minum mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari, tetapi lebih dari itu, kita juga mampu mengontrol amarah dan emosi, menundukkan hawa nafsu, menjaga pandangan, pendengaran, dan ucapan dari segala hal yang tidak pantas? Apakah seperti ini sikap yang kita tunjukkan di saat Ramadan sudah tiba?
Namun sayang, kenyataannya kita masih jauh dari yang seperti itu. Perilaku kita justru sebaliknya. Kita sok-sokan merindukan Ramadan. Jauh-jauh hari kita sudah sibuk bikin postingan, “30 hari menuju Ramadan” di medsos, eh pas sudah tiba bulan suci, Ramadan malah kita cuekin.
***
Awal-awal puasa mungkin kita masih memiliki semangat yang tinggi untuk beribadah, masih bisa menahan diri untuk marah-marah, tidak dikendalikan hawa nafsu, tidak berkata-kata kotor, mampu menjaga diri dari segala godaan setan.
Malam-malam pertama Ramadan barang kali kita masih rajin ke masjid salat sunah tarawih, tadarusan siang dan malamnya, rajin salat malam, semuanya masih bisa kita jalankan dengan penuh semangat tanpa ada beban.
Namun, seiring berjalannya waktu, setelah memasuki pertengahan puasa, semangat beribadah kita perlahan-lahan mulai menurun. Satu persatu ibadah yang rutin kita jalankan saat awal-awal puasa pelan-pelan mulai kita tinggalkan. Kita tampaknya sudah bosan karena hasilnya yang tidak bisa kita langsung rasakan.
Puasa kita tidak lebih dari sekadar menahan diri untuk tidak makan dan minum. Kita sudah tidak mampu lagi mengendalikan emosi. Kita jadi gampang marah-marah lagi. Berbagai umpatan dan kata-kata kotor mulai sering lagi kita ucapkan. Salat sunah tarawih mulai jarang kita laksanakan. Al-Qur’an yang dulu sering kita buka saat awal-awal Ramadan tidak pernah lagi kita sentuh. Kita lebih memilih rebahan di dalam kamar sambil buka aplikasi belanja online untuk berbelanja persiapan lebaran nanti.
Yang demikian bisa terjadi karena kita tidak benar-benar merindukan Ramadan. Kerinduan kita hanya sebatas pada postingan di medsos, itupun tujuannya supaya kita dapat validasi dari banyak orang. Kita ingin dianggap baik orang lain. Nyatanya, Ramadan bagi kita tidak lebih dari sekadar bulan biasa.
***
Allah SWT memfasilitasi kita dengan bulan suci Ramadan yang penuh dengan keutamaan dan kemuliaan karena Dia tahu kita adalah makhluk yang berlumuran dosa, makhluk yang hanya akan taat jika diiming-imingi dengan pahala, surga, dan bidadari. Allah SWT sejatinya ingin agar kita menjadikan bulan suci ini sebagai momentum untuk membersihkan diri dari segala noda maksiat yang kita lakukan selama ini. Jangan sampai kita menjadi manusia yang tidak tahu bersyukur dan diuntung gara-gara menyia-nyiakan kesempatan istimewa yang diberikan oleh-Nya kepada kita dengan dipertemukan lagi bulan yang penuh berkah.
Semoga Ramadan tahun ini bisa menjadi kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri dengan meningkatkan kualitas iman, takwa dan amal ibadah kepada Allah SWT. Diberikannya kesempatan untuk berjumpa lagi dengan bulan suci oleh Allah SWT seyogyanya juga kita syukuri karena hal tersebut merupakan nikmat yang begitu besar dari-Nya, sebab belum tentu kita masih berkesempatan untuk bertemu lagi dengan Ramadan selanjutnya.
Yok bisa yok kita maksimalkan diri untuk lebih dekat kepada Allah SWT di momen puasa kali ini, buktikan kalau kerinduan kita akan Ramadan memang bukan hanya di mulut saja, tapi kita juga mengaktualisasikannya ke dalam bentuk perbuatan yang dilandasi dengan keimanan, ketakwaan dan tawakal kepada Allah SWT.
Marhaban ya Ramadan.
Editor: Soleh