back to top
Senin, Februari 16, 2026

Argumen Kaum Ateis Baru & Bagaimana Kita Menjawabnya

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Setelah menjelaskan munculnya fenomena new atheism (ateis gaya baru), Ustaz Muhammad Rofiq dalam Kajian PHIWM PCIM Amerika Serikat menggambarkan beberapa argumen yang sering mereka pakai. Selain itu, ia juga mengajak para peserta kajian untuk aktif menjawab argumen-argumen kaum ateis tersebut.

Argumen Kaum Ateis Baru

Ustaz Rofiq menyebutkan beberapa argumen kaum ateis baru (new atheism) yang sering dipakai. Antara lain:

  1. Sains telah menggantikan Tuhan dalam menjelaskan alam semesta
  2. Adanya keburukan dan penderitaan manusia di muka bumi adalah bukti bahwa Tuhan itu tidak ada
  3. Agama menjadi sebab pertikaian dan peperangan/Islam agama kekerasan
  4. Islam tidak memuliakan kaum perempuan
  5. Yang penting berbuat baik, tidak perlu beragama
  6. Tidak ada bukti material bahwa Tuhan itu ada

Berikut kami rangkum dua dari enam argumen tersebut.

Menurut Ustaz Rofiq, argumen pertama di atas disebabkan karena adanya paham scientism (saintisme) yang menganggap bahwa sains bisa menjelaskan semua hal. Richard Dawkins menulis buku How A Scientist Changed the Way We Think, dan Sam Harris menulis The Moral Landscape: How Science Can Determine Human Values (New York Time Best Seller). Kedua buku ini adalah buku yang mempopulerkan paham saintisme.

“Mereka menganggap bahwa sainslah satu-satunya cara paling objektif dan benar untuk mencapai pengetahuan tentang sesuatu. Sehingga, Tuhan tidak diperlukan lagi untuk menjelaskan asal usul dan keteraturan alam semesta,” jelas Ustaz Rofiq.

Baca Juga:  PCIM Amerika Gelar Konvensi Muhammadiyah Pertama

Padahal, menurut Ustaz Rofiq, pengetahuan yang berasal dari observasi memiliki beberapa kelemahan. Sejarah sains membuktikan bahwa apa yang diobservasi menjadi kebenaran pada suatu periode, belum tentu ia menjadi kebenaran mutlak, melainkan akan dikoreksi secara terus-menerus pada masa yang akan datang.

Pandangan Newton tentang waktu dikoreksi oleh Einstein beberapa abad kemudian. Bagi Newton waktu itu tetap sementara bagi Einstein waktu itu relatif. Selain itu, ciptaan Allah sangat luas. Contohnya bintang dan galaksi di langit. Jumlahnya belum diketahui pastinya, hampir infinity (tidak terbatas). Manusia tidak bisa mengklaim bahwa ia sudah memahami segala yang ada di alam semesta secara saintifik.

Ustaz Rofiq mengutip pendapat Bilal Muhammad yang menulis:

“Science says little about our quality of life, purpose of life, why we live, how we should live, where we come from, what it means to be human, the power of thought and conscious experience, and whether we are really ‘better’ or more developed than our ancestors. It gives the illusion of upward ascent, but I see a downward regression…”

Sains menciptakan teknologi, mesin, mempermudah hidup, membawa manusia ke Mars, menciptakan pesawat terbang, tetapi sains tidak bisa menjelaskan hidup yang berkualitas, tidak bisa menjelaskan apa tujuan hidup.

“Pertanyaan why we live adalah pertanyaan perennial yang senantiasa ada sepanjang hidup manusia. menurut Yusuf Qardhawi ada trilogi pertanyaan abadi. Pertama, man ana? Kedua, ila aina? Ketiga, limadza? Sains tidak bisa menjelaskan itu. Yang bisa menjelaskan adalah agama,” imbuh Ustaz Rofiq.

Baca Juga:  Muhadjir Effendy: Inilah Tiga Pendekar Kemanusiaan dari Indonesia!

Menurutnya banyak orang yang sudah mencapai puncak kejayaan material justru mengalami kekeringan spiritual. Hatinya kosong dan tidak bahagia. Sains tidak bisa memberikan kebahagiaan hidup. Yang bisa menjawab adalah agama. Orang yang menganggap bahwa sains adalah segalanya, maka itu adalah orang yang sombong dan itu termasuk dosa yang besar.

Penderitaan Manusia

Argumen ateis lainnya adalah berkenaan dengan isu teodesi. Jika Tuhan itu ada, mengapa ada keburukan dan penderitaan di muka bumi? Kenapa Tuhan membiarkan manusia menderita? Manusia modern, menurut Ustaz Rofiq, memiliki kecenderungan untuk selalu menginginkan pleasure (kesenangan). Sekali hidupnya mengalami cobaan, ia kehilangan pijakan bagaimana melihatnya. Ia pikir penderitaan hidup adalah akhir dari segalanya.

Dalam pandangan Mu’tazilah, ada wisdom (hikmah) di setiap penderitaan. Termasuk di setiap kejadian-kejadian buruk. Tuhan senantiasa melakukan perbuatan-perbuatan maslahat bagi manusia. Tuhan selalu melakukan kebaikan. Apa yang dianggap buruk oleh manusia, dalam jangka panjang dia akan berbuah kebaikan. Dan manusia pasti bisa mengambil hikmah di balik penderitaan yang dialami.

“Turunan dari hikmah adalah konsep taufiq. Taufiq artinya kebijakan Allah kepada manusia, dimana dengan kebijakan itu manusia menjadi lebih dekat kepada Allah. Bisa juga Allah akan mengganti dengan ‘iwad (kompensasi) dari sebuah penderitaan, baik kompensasi di dunia maupun di akhirat,” jelasnya.

Ia menyebut bahwa dalam Islam tidak ada istilah pure evil (kejahatan yang murni). Segala sesuatu memiliki hikmah. Orang yang gagal satu kali, itu adalah jalan bagi Allah untuk mengujinya. Ustaz Rofiq menutup kajian dengan mengutip Imam Ibnul Qoyyim yang mengatakan:

Baca Juga:  Lima Dampak Penerjemahan Buku Berbahasa Arab ke dalam Bahasa Indonesia

“Allah senantiasa tidak mungkin melakukan sesuatu yang sia-sia. Dan tidak mungkin Allah menciptakan sesuatu tanpa makna. Allah selalu melakukan kebaikan untuk manusia. Bahkan, perbuatan-perbuatan manusia muncul dari hikmah yang dalam.”

Reporter: Yusuf

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru