Ashabul Fil: Kisah dalam Al-Qur'an yang Dianggap Sebuah Dongeng
Tafsir

Ashabul Fil: Kisah dalam Al-Qur’an yang Dianggap Sebuah Dongeng

4 Mins read

Tempo hari di media sosial agak heboh oleh postingan seorang akademisi (pernah kuliah di UII dan ITB) yang meragukan kebenaran kisah dalam Alquran tentang penyerangan Ashabul Fil (pasukan bergajah) ke Makkah yang dipimpin oleh Raja Abrahah dari Yaman. Argumen yang dibangun pun sangat simpel, yang didasarkan pada wawasan pengetahuan ilmiah yang umum.

Pertama, Yaman itu negeri yang tandus, dengan curah hujan yang hanya 30cm/tahun, tak ada sungai dan danau. Sehingga hampir tak mungkin tumbuh tanaman hijau yang bisa dipakai buat pakan gajah, meski hanya untuk sepasang (1 jantan, 1 betina);

Kedua, Jarak dari Yaman ke Mekkah sangat jauh, lebih dari 1000-an km. Sedangkan kecepatan gajah hanya 2,5km/jam, sehingga waktu yang harus ditempuh sekitar 40 hari. Tidak terbayangkan berapa banyak logistik yang harus disiapkan oleh pasukan Raja Abrahah untuk keperluan minum dan pakan para gajah yang konon jumlahnya selusin itu. Itu pun baru pergi, belum pulangnya. Apakah pakan gajah bisa bertahan selama itu (40 hari) dalam kelembaban yang rendah dan temperatur yang tinggi?

Mungkinkah Ashabul Fil itu Menyerang Makkah?

Banyak yang menanggapi postingan yang kelihatannya “luar biasa” itu, baik secara negatif (menentang) dan positif (menyetujui). Bahkan, ada yang kemudian menjadikan postingan “ilmiah”(?) sebagai amunisi untuk menyebut bahwa cerita-cerita di dalam Alquran itu hanya dongeng (usthurah) semata, yang tak berdasar, tak punya rujukan. Sehingga kita boleh percaya boleh juga tidak.

Sebenarnya banyak sekali celah untuk melihat kelemahan, atau persisnya mengcounter argumen sang penulis. Satu hal saja, kita bisa coba mengkritisinya dari sudut pandang kebiasaan orang-orang Arab yang mengabadikan suatu peristiwa penting ataupun kejadian besar dalam sejarah hidup mereka melalui syair-syair.

Peristiwa serangan Ashabul Fil (pasukan bergajah) ini, jelas tak luput dari ingatan kolektif orang-orang Arab. Sehingga mereka mengabadikannya dalam syair-syair. Mereka membuat syair itu sebagai ekspresi kegembiraannya, bahwa Allah melindungi mereka (bangsa Arab, Quraisy), menjaga tempat suci mereka, Ka’bah.

Baca Juga  Martin Heidegger: Posisi Seseorang Turut Membentuk Suatu Pemahaman

Tidak hanya satu dua orang yang membuat syair tentang peristiwa ini. Tetapi lusinan orang, bahkan mungkin lebih, termasuk sepupu Nabi sendiri, Thalib bin Abu Thalib. Mereka, dan syair-syairnya, banyak dikutip oleh sejarawan ternama seperti Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam di kitab-kitab penting mereka ketika menceritakan tentang peristiwa serangan tentara gajah tersebut.

Salah satu pembesar Arab, Nufail bin Habib, juga punya syair tentang kesaksiannya atas peristiwa besar itu. Sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir, Nufail dan kaumnya sempat menghadang laju pasukan gajah Abrahah, tetapi mereka berhasil ditaklukkan oleh Abrahah dan gerombolannya. Sehingga Nufail sendiri dijadikan budak oleh Raja Habasyah itu dan diharuskan menjadi guide menuju Makkah.

Berikut beberapa bait syair Nufail tersebut:

ين المفر والإله الطال

والأشرم المغلوب ليس الغالب

حمدت الله إذ أبصرت طير

وخفت حجارة تلقى علينا

Kemana akan lari, sementara Tuhan yang mencari

Abarahahlah yang kalah, bukan menang

Aku memuji Allah saat aku melihat burung

Aku takut seandainya batu itu menimpa kami

Turunnya Surah Al-Fil

Alquran pun kemudian mengabadikannya dengan surat Al-Fil, yang tak kalah puitisnya dibandingkan syair-syair ciptaan orang Arab jahiliyah. Surat ini berisi lima ayat yang setiap ayat diakhiri dengan huruf lam:

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِاَصْحٰبِ الْفِيْلِۗ

Tidakkah engkau (Muhammad) perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?

اَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِيْ تَضْلِيْلٍۙ

Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia?

وَّاَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا اَبَابِيْلَۙ

dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong,

تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ مِّنْ سِجِّيْلٍۙ

yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar,

فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُوْلٍ ࣖ

sehingga mereka dijadikan-Nya seperti daun-daun yang dimakan (ulat).

Surat ini turun di Makkah (makkiyyah), 45 tahun setelah peristiwa tersebut terjadi. Tentu banyak saksi hidup peristiwa tersebut yang sudah mati, tetapi ada juga yang masih hidup. Terutama orang-orang (sahabat) yang seusia dengan Nabi Muhammad Saw.

Baca Juga  Kesan Mendalam Al-Qur’an Ketika Membahas Perempuan

Misalnya saja Al-Mutthalib bin Hanthab, yang mengatakan: “Aku dilahirkan pada waktu yang sama dengan Rasul Saw, yakni pada tahun Gajah.” Atau Utsman bin ‘Affan yang diriwayatkan pernah bertanya kepada Qubats bin Asyyam, yang ada hubungan darah dengan Bani Ya’mar bin Laits: “Kamu sewaktu kecil apa badanmu lebih besar, ataukah Rasul Saw yang lebih besar?” Qubats menjawab: “Rasul SAW lebih besar badannya, meskipun aku lahir lebih dulu ketimbang beliau. Rasul dilahirkan pada tahun Gajah.” (HR Tirmizi, no. 3552).

Qais bin Makhramah juga berkata: “Saya dan Rasul Saw sama-sama dilahirkan pada tahun Gajah.” (Al-Dzahabi dalam, “Tarikh al Islam”, hal. 23, Al-Syaukani dalam, “Fath al-Qadir”, hal. 607).

Pandangan Para Mufassir tentang Ashabul Fil

Banyak ahli tafsir (mufassir) yang berbeda pendapat soal ribuan burung (Ababil) yang melemparkan kerikil ke arah pasukan Abrahah. Ada yang menafsirkan secara harfiah, bahwa memang itu benar-benar burung yang melemparkan kerikil panas. Ada juga yang menafsirkan bahwa dimaksud (thair) bukanlah burung dalam arti sebenarnya, tetapi itu adalah batu meteor.

Kemudian semua mufassir sepakat, dengan merujuk pada riwayat-riwayat yang ada (baik beberapa hadits, kitab sirah, dll), bahwa kedatangan pasukan gajah pimpinan Abrahah ke Makkah memang benar-benar terjadi.

Sehingga, sampai di sini, Anda (siapa pun) baru bisa punya argumen dan dasar kuat untuk menyebut bahwa cerita Alquran tentang serangan pasukan gajah ke Makkah adalah dongeng belaka (usthurah) jika bisa membuktikan terlebih dulu, bahwa beragam riwayat dari orang-orang yang mengalami langsung peristiwa itu (umumnya yang terabadikan melalui syair-syair) adalah palsu belaka.

Jadi, membantah kebenaran cerita tersebut bukan sekadar dengan argumen logika sepihak.

Surat Al-Fil sekilas sesungguhnya hanya berisi cerita masa lalu, tentang serangan Ashabul Fil (pasukan bergajah) yang berakhir hancur sia-sia dan hina-dina. Tidak ada wejangan atau pesan tentang moral, tentang hukum, atau semacamnya yang bisa dipetik dari surat tersebut.

Baca Juga  Dinasti Umayyah (1): Riwayat dan Persaingan dengan Bani Hasyim

Pada sisi lain, surat tersebut menyiratkan pesan abadi. Tentang sebuah jaminan mutlak, bahwa selamanya sampai kapan-pun Allah akan menjaga tempat suci-Nya, dari segala makar jahat yang coba merongrognya. Di kala manusia mungkin sudah tak memiliki daya dan kekuatan untuk menjaga rumah-Nya yang mulia itu.

Kisah Abu Lahab dan Istrinya

Hal yang sama mungkin akan mengingatkan kita tentang QS Al-Lahab, atau disebut juga terkadang dengan Al-Masad. Surat tersebut, sebagaimana Al-Fil, juga tidak mengandung pelajaran tentang hukum, tentang moral, dan sejenisnya.

Di dalamnya hanya bercerita tentang karakter Abu Lahab, paman sang Nabi, serta istrinya, bahwa mereka akan celaka, harta mereka, apa yang mereka usahakan, tidak akan berguna, dan mereka akan masuk ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Tetapi, di sisi lain, surat tersebut menyiratkan kebenaran pernyataan Alquran itu sendiri. Surat tersebut menegaskan sebuah kebenaran mutlak dari Allah, bahwa Abu Lahab dan istrinya itu sesat, dan selamanya akan sesat.

Surat tersebut turun 10 tahun sebelum kematian Abu Lahab. Artinya, Abu Lahab punya kesempatan 10 tahun untuk membantah kebenaran surat tersebut, bahkan misalnya dengan pura-pura menjadi muallaf. Tetapi, nyatanya sampai akhir hayatnya Abu Lahab dan istrinya tetap menentang sang keponakannya, Muhammad.

Jadi, kenyataan tersebut mengkonfirmasi pernyataan di dalam surat Al-Lahab tersebut, bahwa Abu Lahab dan istrinya sesat dan (karenanya) akan masuk neraka.

Allahumma shalli wa sallim ‘ala Habibina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amin.

Editor: Saleh

Avatar
1 posts

About author
Penulis
Articles
Related posts
Tafsir

Ketika Allah Melarang Manusia untuk Berputus Asa

3 Mins read
Tanpa kita sadari, berputus asa merupakan suatu hal yang sering terjadi pada setiap insan. Rasa putus asa melanda ketika kita sedang dalam…
Tafsir

Perintah Al-Qur'an untuk Memperhatikan Perempuan dan Anak

4 Mins read
Ketakwaan sebagai Standar Kemuliaan Seseorang “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian terdiri dari laki-laki dan perempuan, berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku agar kalian…
Tafsir

Banyak Bertanya adalah Kebiasaan Bani Israil, Benarkah?

3 Mins read
Bani Israil – Bertanya merupakan aktivitas berpikir penting dalam menunjang perkembangan intelektual seseorang. Selain itu, bertanya akan memunculkan berbagai insigt dan pandangan…

Tinggalkan Balasan