Oleh: David Efendi

Bertempat di aula kantor PP Muhammadiyah, awal bulan maret 2019 Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mengadakan forum diskusi yang narasumbernya adalah Prof Frans Wijsen dari Radboud University, Belanda. Topik pembicaraanya sangat manarik yaitu fikih air dan dalam hal ini kapasitas Prof Frans adalah scholar yang terlibat banyak dalam beberapa penelitian tematik ekologi atau lingkungan hidup.

Diskusi yang sangat produktif ketika Pak Frans, demikian akrab dipanggil oleh mahasiswa Indonesia yang ada di Belanda, menyampaikan pengalaman revitalisasi sungai Citarum yang melibatkan banyak stakeholderbaik negara, swasta, dan juga kelompok organisasi keagamaan dan masyarakat sipil. Malam itu juga, Pak Frans mengajak Muhammadiyah agar turut bergabung dalam sebuah conference yang akan dihelat di kampus di mana beliau menjadi professor—radboud University, terutama sekali tema ecology and religion.

Malam itu juga, saya dan beberapa kader Muhammadiyah lain menyampaikan ketertarikan akan conference tersebut. Ibarat gayung bersambut, Dr Hilman Latief sebagai senior muda kelompok intelektual di Muhammadiyah sangat support kepada kita dan diminta secara serius menuliskan abstrak dan paper. Dan malam itu juga, Dr Zainal Abidin Bagir dari CRCS UGM yang mendampingi Prof Frans mengundang workshop penulisan paper terkait lingkungan hidup di UGM sekaligus membicarakan rencana penerbitan book chapterdan ‘motivasi’ berangkat ke Belanda untuk mengikuti seminar internasional.

Dalam urusan conference dan pasca conference, Pak Zainal dan Pak Frans adalah dua nama yang paling menentukan bagaimana kontribusi forum yang telah dihelat dan dipersiapkan dengan baik dan maksimal. Ada ratusan abstrak dan atau paper masuk, tetapi hanya ada 30 paper yang mendapatkan kesempatan untuk dipresentasikan dan didiskusikan.

Pengarusutamaan Islam Moderat

Internasional conference yang diselenggarakan kerja sama antara PCINU Belanda dengan Radboud University merupakan konferensi yang kedua yang sukses diselenggarakan. Tema utama konferensi yang berlansung tanggal 17-20 tahun 2019 ini adalah Seeking the Midle path (Al Wastiyya): Articulation of Moderate Islam.Sebuah tema yang sangat ambisius untuk melihat Islam yang semakin diterima di Eropa dan semakin berwajah paradok di belahan bumi Timur Tengah dan bahkan dalam beberapa aspek di Indonesia.

Pengarustamaan wasitiyyah ini bukan dominasi NU saja, di Muhamamdiyah sudah ada juga beberapa kajian dan konferensi terkait tema serupa. Artinya, Muhammadiyah dan NU dapat Bersama-sama mengupayakan praktik keislaman yang membawa rahmat bagi seru sekalian alam. Ada benarnya, di sela-sela kegiatan ini juga telah berlangsung sebuah forum sangat penting di Oslo, Norwegia yang membicarakan prospek Nobel perdamaian bagi Muhammadiyah dan NU.

Rasanya kayak mimpi, saya bisa mengikuti kegiatan konferensi internasional dua tahunan yang bergengsi ini. Antara percaya dan tidak sehingga proses ini berjalan penuh ‘sesuatu yang tak disangka’: UMY memberikan dukungan  cukup baik melalui Dr Hilman Latief, dukungan dari Kemendikbud, dukungan dari program S3 UGM, dan tentu saja dukungan dari keluarga yang memberikan toleransi banyak hal. Kepada anak-anak dan istri yang juga memungkinkan urusan ini bergerak sesuai keinginan dan ikhtiar.

Seperti biasa, mengikuti conference selalu membutuhkan banyak perjuangan, keringat, dan air mata. Dari pengalaman menghadiri conference di luar negeri Amerika, Jepang, Australia, Thailand, Folipina, Malasyia, conference ke Belanda ini yang paling penuh liku-liku mulai pencarian sponsor, penulisan paper yang sempat terbengkelai, visa yang baru jadi H-1, perjalanan menegangkan wawancara visa yang menjelang Idul Fitri, mengambil Visa ke Surabaya yang jika telat satu jam saja akan hilang kesempatan ke Belanda karena hari Jumat sore baru bisa diambil, sementara sabtu minggu libur dan hari sabtu juga harus sudah berangkat ke Belanda.

Sepanjang perjalanan dari Jakarta-Abu Dhabi-Amsterdam, beragam persiapan juga masih saya lakukan seperti update PPT dan juga penguatan teori serta argumentasi yang hendak disampaikan. Perjalanan pertama ke benua Eropa yang jauh dan tinggi seperti istilah Pramoedya Ananta Toer, negeri di atas angin. Belanda juga negeri kincir angin. Dalam banyak hal sangat maju terutama urusan air, pertanian, dan sistem pengelolaan transportasi.

Tanggal 16 Juni siang kami sudah mendarat di Schipol, Belanda tetapi belum punya tempat bermalam akhirnya berkat kebaikan Ahmad Kariem, panitia conference, pengurus PCINU sekaligus mahasiswa PhD jurusan Antropologi di University van Amsterdam yang menawarkan rumahnya untuk bermalam. Bukan hanya semalam tapi beberapa malam dan disediakan berbagai kebutuhan dan pertolongan kepada saya yang buta akan tata hidup Belanda: membeli data internet, kartu transportasi, membeli tiket kereta online, dan sebagainya.

Dalam coretan ngalor ngidul sambil ngantuk berat saat transit di Roma, saya menuliskan ini. Pasti kemana-mana alurnya tetapi sebagai catatan perjalanan biasanya ada nilai lebihnya.

Saya dan Hendra Darmawan adalah dua peserta yang dianggap mewakili Muhammadiyah. Keberadaan kami serasa istimewa. Pak Frans sangat senang dan teman-teman Panitia conferencedari PCINU sangat apersiatif kehadian kami. Beberapa penggerak PCIM juga hadir sebagau partisipanconference,juga awalnya Dr Abdul Mu’ti (Sekum PP Muhammadiyah) akan memberikan keynote speakerdalam plenary sessionbersama Gus Yahya Staquf (PBNU), Prof Timothy Winter (Profesor in Islamic Studies, Cambridge Muslim collage,  Dr Martijn De Koning (Radboud University), Careel Keerten (King’s College London)), dan Abdal Hakim Murad.

Kebetulan delegasi Muhammadiyah ada di panel 5 yaitu isu agama dan lingkungan hidup. Saya membawakan judul presentasi “From Fiqh to Poltical Advocacy: Enviromental Movement of Muhammadiyah Post reform Indonesia” dan Hendra presentasi tentang sedekah sampah sebagai pengalaman Muhammadiyah mengelola dan menyelamatkan planet bumi. Panel yang menurut saya sangat serius terdiri dari 7 paper dari beragam universitas ternama dunia dan scholar senior. Sesi ini dipimpin oleh Prof.dr. Thijl Sunier, Dr Zainal Abidin Bagir.

Dari Islam Wasatiyah ke Gerakan Ekologis

Pertanyaan awalnya adalah bagaimana hubungan Islam Wasatiyah dengan keadilan lingkungan atau dengan teologi lingkungan? Ini pertanyaan yang sangat menarik sekaligus urgen dalam conferencedimana tafsir dan praktik teologi moderat harus juga sampai pada praktik kehidupan pro kelestarian lingkungan dan pro konservasi serta menjadi pioneer di dalam upaya mengadvokasi lingkungan hidup dan sumber daya alam yang menrupakan anugerah ilahi yang harus dijaga kelestariannya.

Konferensi ini diadakan di Nijmegen, kota yang dikenal sebagai kota terhijau se Eropa, adalah momentul yang mempertautkan antara keberagamaan, teologi, moderasi, dan keberlanjutan alam raya (sustainable development) yang saling tergantung dan saling menguatkan. Konferensi ini juga kebetulan di bawah supervisedepartemen antropologi agama atau teologi sehingga cukup menantang untuk mereformasi keimanan yang aktual untuk upaya pelestarian lingkungan.

Untuk menutup artikel ini, ada beberapa rangkaian kegiatan conference seperti panel 6thInterfaith Dialogue yang diselenggarakan oleh panitia. Ada banyak pembicara kunci dalam forum ini seperti Yahya Cholil Staquf dari PBNU dan Prof Syafiq Mughni dari PP Muhammadiyah yang juga dari Utusan Presiden untuk Dialog antar agama dan peradaban. Dalam kesempatan ini Prof Syafiq Mugni mewakili Muhammadiyah berbicara terkait islam washatiyah dan prospek pembangunan kehidupan damai antar agama. Narasumber lainnya dalam dialog ini melibatkan akademisi Belanda dan Indonesia.

Salah satu perbincangan dalam forum ini adalah ihwal istilah costly toleranceyang dicarikan praktik dalam kehidupan nyata baik di Indonesia maupun di Belanda. Dialog ini perlu untuk memberikan kontribusi bagi perdamaian dunia yang diinspirasi oleh prakarasa oleh forum The Netherland Indonesia consortium on Muslim Christian relation (NICMCR). Ekosistem toleransi internasional sebenarnya jelas on the right track, misal, Uni Emirat Arab sendiri telah mendeklarasikan tahun 2018 sebagai the year of tolerancesebagaimana yang dirilis dalam satu majalah internasional.

Belajar Pengelolaan Air dari Belanda

Dua kunci bagaimana Belanda mengola air untuk perdamaian dan keadilan. Pertama,akses terhadap sumber daya air dijamin oleh negara untuk siapa saja. Semua saluran air ke rumah dan bangunan adalah air bersih yang siap minum (drinkable) dan gratis. Sekali lagi “gratis” (Bahasa Belanda). Kedua,memperlakukan air sebagai berkah dan bukannya bencana. Banyak infrastruktur dibangun dari bahan baku air misalnya untuk membangun pariwisata, listrik, pertanian, dan seterusnya, mengatur air dengan kincir angina, menghasilkan listrik dari windmill.

Banyak kita harus belajar dari Belanda, seharusnya sudah banyak praktik pengelolaan air yang lebih baik di Indonesia. Bukankah banyak sarjana dan doktor di Indonesia jebolan dari negeri ini penakluk air ini ? kapan mulai Indonesia benar-benar menjadikan air sebagai limpahan berkah tak terbatas? Belanda yang daratan lebih rendah dari lautan/ketinggian air laut tak pernah dilanda banjir?, bahkan malah Berjaya karena air-nya.

Selain itu, juga ada visit ke gereja ramah lingkungan (Eco-Church) di Amsterdam yang diorganisir oleh  Bu Corrie tepatnya pada hari Jumat sore 21 June. Hal ini agar memberikan insight yang nyata bagi peserta conference khususnya yang terkait dan fokus pada faith communities and environmental issues.Tidak semua peserta memang mendapatkan kesempatan untuk field visitini. Namun demikian, setiap peserta dapat mentadzaburi alam raya Holland ini wabil khususbagaimana negeri kincir angin ini mengelola berbagai jenis air, Bahasa provokasinya, menaklukkan air untuk menjadi sahabat dalam menyelenggarakan tata kelola kehidupan masyarakat.

*Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Tinggalkan balasan

mohon berikan komentar anda
mohon untuk menuliskan nama anda