IBTimes.ID – Wafatnya Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Hamim Ilyas, bukan hanya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga menghadirkan tantangan baru bagi Muhammadiyah dalam melanjutkan tradisi pemikiran Islam progresif yang selama ini ia bangun.
Dalam Takziyah Virtual yang digelar Ahad (24/5/2026), Ketua PP Muhammadiyah Syamsul Anwar menilai sosok Hamim Ilyas sebagai figur ulama yang tenang, bersahaja, dan memiliki kontribusi besar dalam pengembangan tafsir Al-Qur’an di Muhammadiyah.
“Mudah-mudahan Bapak Haji Hamim Ilyas dilapangkan kuburnya, diampuni segala dosa, dan dilipatgandakan pahala atas amal baiknya,” ujar Syamsul membuka tausiyahnya.
Bagi Muhammadiyah, kepergian Hamim Ilyas bukan sekadar kehilangan seorang akademisi, tetapi juga hilangnya salah satu motor intelektual yang selama ini aktif mendorong pembaruan pemikiran Islam berkemajuan. Selama memimpin Majelis Tarjih, almarhum dikenal konsisten mengembangkan pendekatan keislaman yang relevan dengan persoalan sosial modern tanpa meninggalkan akar nilai Al-Qur’an.
Syamsul menyebut Hamim Ilyas sebagai pribadi yang sangat tenang dalam berorganisasi. Sikapnya yang teduh membuatnya dihormati banyak kalangan di internal Muhammadiyah.
“Beliau adalah partner kerja yang tidak emosional, selalu tenang. Tidak pernah berkata kasar. Ini saya rasa menjadi bekal beliau menghadapi hari akhirat kelak,” katanya.
Tantangan Regenerasi Pemikir Islam Progresif
Dalam perspektif yang lebih luas, wafatnya Hamim Ilyas juga membuka diskusi mengenai regenerasi ulama intelektual sekaligus tokoh pemikiran Islam progresif di tubuh Muhammadiyah. Syamsul mengakui bahwa mencari sosok yang mampu melanjutkan kiprah almarhum di bidang tafsir dan pengembangan pemikiran Islam bukan perkara mudah.
“Majelis Tarjih juga harus bersabar, siap-siap mencari tokoh baru yang bisa menggantikan Pak Hamim Ilyas,” ujarnya.
Menurut Syamsul, di bawah kepemimpinan Hamim Ilyas, Majelis Tarjih menjadi salah satu majelis paling aktif dalam melahirkan gagasan keislaman kontemporer. Karena itu, Muhammadiyah kini menghadapi pekerjaan besar untuk memastikan estafet intelektual tersebut tetap berjalan.
Dalam tausiyahnya, Syamsul juga menekankan makna sabar sebagai kemampuan mengelola batin ketika menghadapi kehilangan dan cobaan hidup. Ia mengutip sejumlah ayat Al-Qur’an tentang kesabaran sebagai fondasi keteguhan seorang mukmin.
“Sabar itu bukan kemalasan, tidak bergerak dan tidak berbuat apa-apa, tetapi bagaimana mengelola batin kita dalam segala hal,” ujarnya.
Selain dikenal sebagai ahli tafsir, Hamim Ilyas juga meninggalkan sejumlah gagasan penting dalam pengembangan pemikiran Islam Muhammadiyah, salah satunya konsep “Fikih Akbar”. Gagasan tersebut menempatkan fikih tidak hanya sebatas hukum-hukum praktis, tetapi mencakup seluruh aspek ajaran Islam yang berkaitan dengan kehidupan manusia.
“Menurut beliau, fikih itu seluruh aspek ajaran Islam, bukan hanya aspek hukum-hukum konkret,” kata Syamsul.
Warisan pemikiran itu kini menjadi tanggung jawab generasi penerus Muhammadiyah untuk terus dikembangkan agar tetap relevan menjawab tantangan zaman dan kebutuhan umat. (NS)


