back to top
Rabu, Agustus 12, 2026

Ilusi Masyarakat Modern: Dari Humanisme ke Individualisme

Lihat Lainnya

Krisis identitas saat ini telah bergeser dari masalah pengeroposan nilai utilitas ke pengabaian spiritual. Berarti, masyarakat modern sangat terikat dengan humanisme. Lahirnya individualisme ekstrem dan pembenaran atas kolonisasi adalah produk nyata krisis identitas berbasis pengabaian spiritual. Bahkan, cukup prosedural untuk menggantikan eksistensi Tuhan dengan kebebasan manusia.

Dimensi material dan spiritual dalam universalitas manusia menjadi konstruksi dasar. Secara praktis, tentu ada nilai teologis yang tidak bisa dihindari manusia, di samping aktivitas empiris. Inilah posisi filsafat manusia yang holistik, sehingga potret masyarakat modern yang holistik itu adaptif terhadap sosiologi publik. Di sini, cukup memiliki kritik atas krisis identitas yang terjadi pada masa kini.

Ada Apa dengan Humanisme?

Manifestasi humanisme terlihat dalam kekuatan akal budi manusia, kebebasan individualitas, dan ekspresi diri. Jika individualisme cukup menggerogoti masyarakat modern melalui ide kemasyarakatan, maka humanisme langsung bersentuhan dengan agama. Alih-alih merupakan diskursus geneologi dari pemikiran sekular, humanisme hadir menggantikan sepenuhnya posisi keyakinan kepada Tuhan dengan manusia.

Agama menjadi hilang, dan humanisme semakin dominan dipengaruhi oleh ras. Konteks budaya memainkan peran penting akan perbedaan ras yang membentuk pengalaman manusia dalam meninggalkan latar belakang agama. Konsekuensinya, seolah-olah agama terpisah dari sikap bermasyarakat, sementara itu manusia cenderung menganggap dirinya merasakan kehidupan berdasarkan hukum alam yang melatarinya.

Masyarakat modern mengalami marginalisasi krisis identitas melalui humanisme sebagai patologi sosial dalam bayangan dekonsekralisasi nilai. Posisi masyarakat yang berarti reflektif terhadap kesejahteraan ketika agama diserap menjadi sumber kenyamanan psikologis identitas. Karena itu, dekonsekralisasi nilai berfungsi mempersulit aktivitas sosial, sehingga tidak bisa adaptif terhadap pengembangan budaya.

Baca Juga:  Dari Adaptasi ke Sukses Diri

Humanisme adalah ideologi publik yang menekankan eksistensi manusia dengan cara mengosongkan agama dalam kehidupan. Dekonsekrasi nilai menjadikan semua ciptaan budaya dan segala sesuatu yang berhubungan dengan agama bersifat relatif. Implikasinya, manusia bebas menciptakan perubahan dalam evolusi. Inilah fenomena krisis identitas saat ini yang mengalami perubahan dari pengeroposan utilitas ke pengabaian spiritual (artinya agama).

Masalah Individualisme-Kolektivisme

Individualisme dan kolektivisme, dua soal yang paling krusial terlihat memperbaiki krisis identitas. Selagi tidak ekstrem, individualisme murni mengaplikasikan otonomi, kebebasan, dan kesucian nilai. Kolektivisme menekankan perilaku yang mengarah pada pencapaian hasil manfaat bersama. Jadi, secara pandangan normatif, individualisme dan kolektivisme sangat prospektif atas universalitas manusia.

Masalahnya, individualisme begitu aktif mempromosikan gerakan ideologis anarkis dalam tatanan sosial yang kooperatif dan terorganisasi. Hal ini lantaran ada keterkaitan internalisasi diri dan dampak patologis. Aspek mental dan fisik menjadi semakin tidak seimbang, sehingga model refleksi sosial berakhir dengan subjektivitas individual saja. Internalisasi diri tersebut mengaburkan susunan sosial struktural. 

Kolektivisme lebih radikal dari individualisme, karena menempatkan kenyamanan material di atas karakter, bahkan hak dasar individu dikorbankan untuk mencapai kebaikan kolektif. Psikologi kemasyarakatan menjadi terpenuhi, sementara internalisasi diri mengalami krisis berkelanjutan. Hal ini menunjukkan bahwa kolektivisme cenderung melakukan eksternalisasi tanpa melibatkan pertimbangan individual.

Dari pandangan normatif ke kontekstual, individualisme maupun kolektivisme sebetulnya sama sekali tidak memperbaiki krisis identitas. Pandangan kontekstual ini merupakan refleksi faktual dalam memengaruhi nilai-nilai praktis yang langsung dirasakan di lapangan. Memang pandangan normatif dalam individualisme dan kolektivisme terlihat bebas solutif, akan tetapi patologi sosial justru semakin aktual.

Baca Juga:  Kasus Kekerasan di Lingkungan Pendidikan: Tak Hanya Tanggung Jawab Guru

Menuju Masyarakat Modern Madani

Konsep masyarakat modern madani adalah kelompok sosial yang dibutuhkan saat ini untuk memperbaiki krisis identitas. Dengan menolak represi humanisme dan individualisme, rekonsepsi tentang manusia bekerja secara korespodensi antara dimensi material dan spiritual. Karena itu, masyarakat modern madani memobilisasi eksistensial diri dari refleksi ontologis menuju teologis yang berdampak.

Refleksi ontologis dalam eksistensial diri representatif dengan pergerakan jiwa yang kompatibel berdasarkan kemaslahatan. Perwujudan kehendak Tuhan pada perilaku kebaikan manusia ditunjukkan melalui dampak patologisnya. Kebaikan yang dikenal zaman tentu tidak memiliki dampak patologis, karena sudah mereduksi wujud nilai-nilai kebajikan dalam jiwa secara nyata. Jadi, esensi sebuah jiwa sama sekali tidak mengabaikan materialnya.

Ketika humanisme berdiri dengan konsep yang menjadi fundamental, sebetulnya pemahaman manusia hanya sebatas material. Alhasil, pengabaian spiritual dalam isu krisis identitas cukup ekstensif terhadap humanisme. Hal ini masyarakat modern dibutakan melalui intervensi empiristik, sehingga seolah-olah bingung tentang tujuan hidup. Demikianlah fakta ontologis manusia yang perlu dipahami tanpa mendikotomi dimensi spiritual.

Namun, dalam refleksi teologis, eksistensial diri bertransformasi menjadi keteraturan korespondensi terhadap motif akan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan. Keterlibatan Tuhan sudah bersifat prosedural dalam dimensi material dan spiritual manusia. Ketika kerugian ditimbulkan, jiwa tidak akan membenarkan adanya kerusakan. Karena itu, refleksi teologis ada semacam keselarasan manusia dengan objektivitas realitas sebagai ketetapan Tuhan.

Baca Juga:  Batur Banjarnegara, dari Qurban hingga Muhammadiyah Masa Awal

Individualisme yang cukup masif sebagai bagian dari humanisme adalah ideologi yang kehilangan objektivitas realitas. Seolah-olah krisis identitas dibenarkan dan dimensi material bersifat ekstrem. Masyarakat modern memosisikan dinamika revolusioner berdasarkan masing-masing individu, bukan intersubjektif. Implikasinya, kesadaran akan ketetapan Tuhan tidak menjadi prioritas, sementara refleksi teologis tentu non-eksisten.

Dari refleksi ontologis ke teologis merepresentasikan masyarakat modern madani sebagai kelompok sosial yang universal. Manifestasi jiwa yang aktif berkoherensi pada kemaslahatan dengan keterlibatan pada sebuah motif tertentu. Relasi dimensi material dan spiritual manusia menempatkan kehendak Tuhan secara identitas maupun objektivitas realitas. Jadi, masyarakat modern madani sangat komprehen sesuai filsafat manusia yang holistik.

Krisis identitas yang terjadi akibat pengabaian spiritual menunjukkan masyarakat modern terjangkit ideologi humanisme. Individualisme itu produk implikatif dari humanisme. Skema ini sama-sama problematis, sementara filsafat manusia yang holistik memosisikan hubungan relasional dimensi material dan spiritual. Hingga akhirnya, masyarakat modern madani menjadi pandangan teoretis dan kontekstual untuk menjawab isu krisis identitas.

Editor: Anas

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru