back to top
Selasa, Juli 7, 2026

Ketika Algoritma Mengalahkan Akal

Lihat Lainnya

Dr. Aji Damanuri, M.E.I
Dr. Aji Damanuri, M.E.I
Dekan FEBI UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Setiap zaman memiliki “penguasa” yang membentuk cara akal manusia berpikir. Pada masa feodalisme, penguasanya adalah raja. Pada era industri, modal menjadi kekuatan yang menentukan arah kehidupan. Kini, di abad digital, tanpa banyak kita sadari, posisi itu mulai ditempati oleh algoritma.

Kita memang masih merasa bebas memilih apa yang ingin dibaca, ditonton, atau dipercayai. Namun sesungguhnya, sebelum pilihan itu kita buat, algoritma telah lebih dahulu memilihkan apa yang akan muncul di layar kita. Ia mempelajari kebiasaan, emosi, bahkan kelemahan psikologis kita, lalu menyajikan informasi yang paling mungkin membuat kita bertahan lebih lama di dalam platform. Semakin lama perhatian kita bertahan, semakin besar nilai ekonomi yang dihasilkan.

Di sinilah paradoks zaman digital bermula. Informasi tidak lagi terutama diproduksi untuk memperluas akal pengetahuan, melainkan untuk mempertahankan perhatian melalui algoritma. Kebenaran perlahan bergeser menjadi komoditas yang harus bersaing dengan sensasi. Dalam ekonomi perhatian (attention economy), yang paling viral belum tentu yang paling benar, tetapi sering kali justru yang paling mampu membangkitkan kemarahan, ketakutan, atau fanatisme.

Fenomena tersebut melahirkan ruang yang subur bagi logical fallacy, yakni kesalahan dalam akal bernalar yang membuat suatu argumen tampak meyakinkan, padahal rapuh secara logis. Menyerang pribadi lawan tanpa menjawab argumennya (ad hominem). Menggambarkan pendapat orang lain secara keliru agar mudah diserang (straw man). Atau memaksa publik memilih hanya antara dua pilihan ekstrem (false dilemma), kini menjadi pemandangan sehari-hari dalam percakapan digital.

Yang menarik, sebagian besar pengguna media sosial sebenarnya tidak sedang berbohong. Mereka sungguh-sungguh percaya pada apa yang mereka bagikan. Persoalannya bukan terutama pada niat, melainkan pada cara akal berpikir.

Baca Juga:  Zainab al-Ghazali, Aktivis Perempuan yang Menulis Tafsir

Kesesatan akal logika sering lahir bukan dari kebencian terhadap kebenaran, tetapi dari kecenderungan psikologis untuk hanya menerima informasi dari algoritma yang menguatkan keyakinan sendiri. Psikologi modern menyebutnya confirmation bias.

Algoritma media sosial memperkuat kecenderungan itu melalui apa yang dikenal sebagai echo chamber, ruang gema yang membuat seseorang terus-menerus mendengar pendapat yang serupa dengan pandangannya sendiri.

Akibatnya, masyarakat perlahan kehilangan kemampuan membedakan antara bukti dan keyakinan, antara fakta dan opini, bahkan antara argumentasi dan propaganda. Karena algoritma, akal berfikir yang penting bukan lagi apakah sebuah informasi benar, melainkan apakah informasi itu sesuai dengan identitas kelompoknya.

Inilah yang oleh banyak ilmuwan sosial disebut sebagai era post-truth: sebuah situasi ketika emosi dan identitas lebih menentukan opini publik daripada fakta objektif. Dalam dunia seperti ini, orang tidak lagi bertanya, “Apakah ini benar?”, tetapi “Apakah ini menguntungkan kelompok saya?” atau “Apakah ini memperkuat keyakinan saya?”

Jauh sebelum media sosial lahir, Marshall McLuhan mengingatkan bahwa the medium is the message. Media bukan sekadar saluran informasi; ia mengubah cara manusia berpikir. Beberapa dekade kemudian, Neil Postman menunjukkan bahwa masyarakat modern perlahan berubah menjadi masyarakat yang “menghibur diri sampai mati” (amusing ourselves to death), ketika hiburan mengalahkan refleksi.

Di sisi lain, Jürgen Habermas mengidealkan ruang publik sebagai tempat warga berdialog secara rasional demi mencari kebenaran bersama. Ironisnya, ruang publik digital hari ini justru lebih sering menjadi arena pertarungan algoritma, bukan pertukaran akal dalam memberikan argumentasi.

Baca Juga:  Kritik Nasr Hamid Abu Zayd atas Iklim Akademik Mesir

Dalam perspektif Islam, situasi ini sesungguhnya menghadirkan tantangan epistemologis sekaligus moral. Al-Qur’an tidak pernah meminta manusia menerima kebenaran secara membuta.

Sebaliknya, kitab suci ini berulang kali menggugah akal melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif: afalā ta’qilūn, afalā tatafakkarūn, afalā yatadabbarūn. Iman dan akal tidak diposisikan sebagai dua kutub yang saling meniadakan, melainkan sebagai dua instrumen yang saling menguatkan.

Karena itu, perintah tabayyun dalam Surah Al-Hujurat ayat 6 sesungguhnya jauh melampaui sekadar memeriksa siapa pembawa berita. Ia merupakan etika epistemik yang menuntut setiap informasi diuji, setiap kesimpulan diperiksa, dan setiap argumentasi dinilai berdasarkan bukti yang sahih. Dalam bahasa filsafat ilmu, tabayyun bukan hanya verifikasi fakta, tetapi juga verifikasi cara bernalar.

Tradisi intelektual Islam memberikan teladan yang luar biasa dalam hal ini. Para muhaddits mengembangkan kritik sanad dan matan dengan ketelitian yang mengagumkan. Para ulama usul fikih membangun metodologi istinbat hukum dengan disiplin argumentasi yang ketat.

Bahkan dalam khazanah adab al-ikhtilaf, perbedaan pendapat dipandang sebagai ruang pencarian kebenaran, bukan alasan untuk saling mendiskreditkan. Kritik diarahkan kepada dalil dan argumentasi, bukan kepada kehormatan pribadi lawan diskusi.

Sayangnya, etika intelektual tersebut sering menghilang ketika percakapan berpindah ke media sosial. Debat berubah menjadi kompetisi popularitas. Jumlah pengikut dianggap setara dengan otoritas keilmuan.

Potongan video yang emosional lebih dipercaya daripada kajian yang utuh. Bahkan tidak sedikit yang merasa cukup membaca judul sebelum menyimpulkan isi sebuah tulisan.

Baca Juga:  Ketika Algoritma Merampas Akal Sehat Bangsa

Padahal, sebagaimana diingatkan oleh para ulama, kerusakan berpikir hampir selalu mendahului kerusakan perilaku. Fanatisme lahir ketika akal berhenti bertanya. Kekerasan verbal muncul ketika argumentasi tidak lagi dihargai. Polarisasi tumbuh ketika identitas lebih penting daripada kebenaran.

Karena itu, tantangan terbesar umat Islam di era digital bukan semata-mata memproduksi lebih banyak konten dakwah, melainkan membangun kembali adab berpikir. Dakwah bukan hanya menyampaikan dalil, tetapi juga mengajarkan bagaimana menggunakan akal secara jujur, bagaimana berbeda pendapat secara bermartabat, dan bagaimana mengakui kekeliruan tanpa merasa kehilangan kehormatan.

Pada akhirnya, pertarungan terbesar abad ini mungkin bukan antara manusia dan kecerdasan buatan, melainkan antara akal sehat dan algoritma. Algoritma akan terus bekerja mengejar perhatian manusia. Namun hanya manusialah yang dapat memutuskan apakah perhatian itu akan dipakai untuk memperkuat prasangka atau memperdalam kebijaksanaan.

Maka, di tengah banjir informasi yang tak pernah berhenti, ibadah intelektual yang paling mendesak bukanlah berbicara lebih cepat, melainkan berpikir lebih jernih. Sebab, ketika akal tetap merdeka, algoritma hanya menjadi alat.

Tetapi ketika akal menyerah kepada algoritma, manusia perlahan kehilangan salah satu anugerah terbesar yang Allah titipkan kepadanya: kemampuan untuk membedakan yang benar dari yang sekadar tampak benar.

Dan barangkali, di tengah riuh dunia maya yang penuh teriakan, keberanian terbesar bukanlah berdebat paling keras, melainkan berpikir paling jernih.

Editor: Najih

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru