Benarkah Napoleon Bonaparte adalah Seorang Muslim? - IBTimes.ID
Inspiring

Benarkah Napoleon Bonaparte adalah Seorang Muslim?

3 Mins read

Sob, apa yang ada di pikiran kalian ketika mendengar nama “Napoleon Bonaparte?

Mungkin terlintas di dalam pikiran kalian seorang yang berasal dari Prancis, menggagas sebuah revolusi, kemudian bertubuh pendek.

Yap, that’s him! Sosok kharismatik nan kontroversial. Pada masa kejayaannya, pria setengah Italian-French ini menguasai hampir seluruh daratan Eropa baik lewat jalur diplomasi maupun peperangan.

Beliau juga kerap mengeluarkan keputusan-keputusan kontroversial. Seperti (konon) beliau suka meracuni tentaranya yang terluka di setiap pertempuran dan membawa bekal lebih sedikit dari yang normalnya dibutuhkan. Namun, mungkinkah Napoleon adalah seorang muslim?

Background

Napoleon Bonaparte lahir di Ajaccio, Korsika, Perancis pada 15 Agustus 1769. Keluarga Bonaparte adalah keluarga kelas atas yang berasal dari Italia. Mereka pindah ke Korsika pada abad ke-16 Masehi. Ayah beliau, Carlo Bonaparte, adalah seorang pengacara yang juga mantan anggota Dewan Perwakilan Korsika pada saat Louis XVI berkuasa.

Ibunya bernama Letizia Ramoino. Pada 21 Juli 1771, Napoleon kecil dibaptis sebagai seorang Katholik di Katederal Ajaccio beberapa pekan sebelum ulang tahunnya yang ke-2.

Napoleon muda sangat cerdas dalam akademisnya. Tercatat pada Mei 1779, ketika umurnya baru 10 tahun, ia mengikuti akademi militer Brienne-le-Chateau. Baru berselang 6 tahun, Napoleon muda lulus dari akademi tersebut dan lanjut mendaftar di Ecole Militaire, sekolah elit militer di Paris. Di sana, ia dilatih menjadi seorang perwira artileri.

***

Karier militernya meroket tajam setelah ia berhasil memberantas para pemberontak dari kalangan pendukung royalis dengan menembakkan meriam dari atas menara. Peristiwa itu terjadi pada 1795, alias pada umurnya yang baru 26 tahun. Setahun setelah peristiwa itu, Napoleon naik pangkat menjadi seorang Brigadir Jenderal dan ditugaskan untuk mengepalai tentara Perancis di Italia. Di Negeri Pisa itu, antara tahun 1796-1797, Napoleon berhasil pula membuat serentetan kemenangan yang membuatnya kembali ke Perancis sebagai seorang yang disegani.

Baca Juga  Muhammad Abduh: Ada Muslim Tapi Tidak Ada Islam

Pada 1 Juli 1798, Napoleon melakukan blunder fatal dengan menyerang Mesir. Langkah ini ternyata merupakan sebuah malapetaka bagi pria 165 cm ini. Perjalanan ke Mesir sebenarnya bukan tujuan utamanya. Tujuan utama yang sebenarnya adalah ke India dan negeri-negeri di Asia Timur. But, karena pada saat itu, Perancis sedang bersaing dengan Inggris, maka Napoleon kudu singgah di Mesir guna mengamankan jalur dagang armada Perancis dari serangan Inggris.

Di darat, umumnya pasukan Napoleon mereguk kemenangan yang besar namun AL Inggris di bawah pimpinan Lord Heratio Nelson dengan mantap mempecundangi Perancis hingga Napoleon terpaksa harus meninggalkan pasukannya di Mesir dan pulang ke Perancis pada 1799.

Pada masa kejayaannya, Napoleon Bonaparte menguasai hampir seluruh ‘benua biru’ (Eropa). Di antaranya adalah Belanda dengan pengangkatan adiknya, Louis Bonaparte sebagai penguasa; Spanyol dengan diangkatnya Joseph Bonaparte; Swedia dengan diangkatnya Jenderal Bernadotte yang kemudian hari melakukan pengkhianatan; dansebagian besar daerah Italia yang direbut dari Austria dan Polandia dengan diangkatnya Joseph Ponialowski sebagai penguasa di sana.

Pro

Kabar keislaman Napoleon ini bukan cuma bualan tanpa bukti, loh. David Pidcock pada bukunya Satanic Voices, mengutip Koran asal Perancis, Le Moniteur Universel (terbit pada tahun 1789-1868), disebutkan bahwa Napoleon memeluk Islam pada 2 Juli 1798, tepat sehari setelah tiba di Mesir.

Menurut buku terbitan 1992 ini, Napoleon memilih nama ‘Ali’ sebagai nama Islamnya, sehingga menjadi Ali Napoleon Bonaparte. Rupanya, Napoleon terinspirasi oleh tangan kanannya, Jenderal Jacques Menou yang kemudian menjadi Jenderal Abdullah Jacques Menou. Sang Jenderal kemudian menikahi seorang wanita Mesir, Siti Zoubeida yang katanya sih (dalam buku itu) memiliki garis keturunan dengan Nabi Muhammad saw.

Baca Juga  Ziauddin Sardar dan Penafsiran Ulang Terhadap Wahyu

Napoleon disebut-sebut mengakui superioritas hukum Islam, bahkan berniat untuk menerapkannya di Perancis. Prinsip-prinsip syariat itu sempat dituangkan ke dalam Civil Code of Napoleon atau hukum yang ditulis oleh Napoleon. Civil Code ini kemudian yang menginspirasi Konstistusi Perancis dan konstitusi negara-negara taklukan Napoleon di Eropa.

Dalam Buku Bonaparte et L’Islam karya Christian Cherflis (Paris, ISBN 967-61-0 898-7) halaman 105, Napoleon berkata,”I hope the time isn’t far off when I shall be able to unite all the wise, educated of all the countries, and establish a uniform regime based on the principles of the Qur’an which alone can lead men to happiness”.

Buktinya habis? Belum. Majalah Genuine Islam ed. Oktober 1936 terbitan Singapura pernah menurunkan berita mengenai penuturan Sang Bonaparte, di antaranya, “Surely, I have told you on different occasions. I have intimated to you by various discourses that I’m a Muslim. I glorify The Prophet, Mohammed and I love the Muslims. In the name of Allah The Merciful, The Compassionate. There’s no god but Him. He has no son and He reigns without a partner”. Kontra

***

Kabar tentang keislaman Napoleon ini bukan berarti tanpa hujatan. Para ahli masih berdebat mengenai agama yang dianut oleh Sang Kaisar. la menunjukkan toleransi yang besar terhadap Islam selama berupaya menaklukan Negeri Fir’aun itu. Namun, Jenderal Dupuy yang mendampingi Bonaparte mengaku – beberapa saat setelah kematian Paus Pius VI- bahwa semua itu dilakukan demi kepentingan politik.

“Kami mengelabui orang-orang Mesir itu dengan berpura-pura berminat terhadap agama mereka. Baik Bonaparte maupun kami tidak ada yang percaya pada Agama Islam ketimbang ajaran yang dibawa oleh Pius yang sudah wafat ini”, tulis Wikipedia mengutip buku Napoleon I hal. 94 karya Jacques Bainville.

Baca Juga  Buya Syafi'i: Dari Pelosok Menjadi Sosok

Selain itu, Prof. Dr. Mohammad Ash-Shalabi dalam bukunya Ad-Daulah al-‘Utsmaaniyyah: ‘Awaamil an-Nuhudh wa asbaab as-Suquth terbitan Maktabah al-Iman yang dalam edisi Indonesia berjudul Bangkit dan Runtuhnya Khilafah ‘Utsmaniyyah, Pustaka Al-Kautsar, ISBN: 978-979-592-653-5 hal. 402-409, menyebutkan, “…Napoleon dan sebagian orang-orangnya menyatakan diri mereka masuk Islam”.

Akhir Kata

Nah, kalau Anda masuk golongan pro atau kontra? Kalau toh memang benar Bonaparte adalah seorang muslim, kenapa ia membantai 5.000 umat Islam di Mesir dan menghancurkan Masjid Al-Azhar? Peristiwa itu justru terjadi pada 21 Oktober 1798 alias beberapa bulan setelah tanggal yang diyakini sebagai hari di mana Sang Kaisar memeluk Islam (2 Juli 1798). Kalaupun tidak, tidak menutup kemungkinan kalau orang-orang Barat “memoles dan mempercantik” kisah keislaman Napoleon dengan mengatakan bahwa Sang Kaisar memeluk Islam demi kepentingan politiknya.

Mau percaya yang manapun, semua terserah Anda. Wallahu a’lam

Print Friendly, PDF & Email
4 posts

About author
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, Fakultas Agama Islam, Jurusan Hukum Ekonomi syariah, Kader PK IMM Pondok Shabran UMS
Articles
Related posts
Inspiring

Empat Karakter Nabi Muhammad yang Harus Diamalkan

3 Mins read
Sebagai Nabi pembawa risalah terakhir bagi umat manusia. Nabi Muhammad memiliki tugas utama untuk menyempurnakan akhlak manusia. Degradasi akhlak yang terjadi sebelum…
Inspiring

Azyumardi Azra, Icon Intelektualisme Islam Indonesia

6 Mins read
Wafatnya Profesor Azyumardi Azra di Selangor Malaysia pada 18 September 2022 membuat duka yang mendalam dan shock bagi masyarakat Indonesia, terutama komunitas…
Inspiring

Azyumardi Azra, Dicintai di Timur dan Barat

2 Mins read
“Sudah meninggal tetapi masih hidup”, demikian komentar yang saya tulis ketika beberapa senior membagikan dukacita di grup WhatssApp “Keluarga Formaci” (Forum Mahasisa…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.