Buya Hamka dan Awka: Sedarah Namun tak Sejalan - IBTimes.ID
Ulama

Buya Hamka dan Awka: Sedarah Namun tak Sejalan

4 Mins read

Abdul Malik Karim Amrullah atau dikenal dengan nama Buya Hamka, lahir pada 17 Februari 1908 di Sumatra Barat. Buya sendiri adalah panggilan untuk orang Minangkabau, yang berasal dari kata Abi atau Abuya dalam bahasa Arab yang bermakna ayahku atau seseorang yang dihormati. Buya Hamka merupakan seorang ulama besar dan sastrawan Indonesia. Selain itu, ia juga berkarier sebagai wartawan, penulis, dan pengajar.

Abdul Wadud Karim Amrullah atau Awka, kemudian dikenal juga dengan nama Willy Amrull. Ia lahir pada 7 Juni 1927 di Kampung Kubu, Sumatra Barat. Awka adalah adik dari seorang Buya Hamka yang dikenal sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama.

Hamka dan Awka berasal dari ayah yang sama, yaitu Abdul Karim Amrullah. Namun mereka berdua memiliki ibu yang berbeda. Hamka memiliki ibu yang bernama Safiyah, ia merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Sedangkan Awka mempunyai ibu yang bernama Siti Hindun dan ia lahir sebagai anak tunggal.

Ayah dari Hamka dan Awka, Abdul Karim Amrullah, adalah seorang ulama besar dan menjadi salah satu orang Indonesia yang mendapatkan gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar Mesir. Keluarga mereka juga termasuk taat dan patuh pada ajaran agama di ranah Minang.

Sejak remaja Hamka sudah menempuh perjalanan jauh sendirian. Di usianya yang ke 16 tahun, ia meninggalkan pendidikan di Thawalib dan menempuh perjalanan ke Jawa. Hamka juga membulatkan tekadnya untuk meneruskan cita-cita ayahnya dan dirinya sebagai ulama dan sastrawan. Sedangkan Awka menghabiskan masa kecilnya di Maninjau, ia menempuh sekolah agama di Padang Panjang yang dikelola oleh murid-murid ayahnya.

Pada 2 Juni 1945, Abdul Karim Amrullah wafat di pangkuan Awka. Awka yang menuntun ayahnya mengucapkan kalimat syahadat ketika hendak menghembuskan napas terakhir. “Saya mengucapkan kalimat syahadat sebagai kata penghabisan dari saya untuk melepasnya,” tulis Awka dalam otobiografinya, Dari Subuh Hingga Malam: Perjalanan Seorang Putra Minang Mencari Jalan Kebenaran (2011:32).

Baca Juga  Serat Cebolek: Ketib Anom Kudus Menegakkan Syariat

Setelah sang ayah wafat, Awka memutuskan pergi ke Rotterdam dan bekerja sebagai tukang binatu di kapal MS Willem Ruys yang berangkat dari pelabuhan Tanjung Priok pada Februari 1949. Ia juga menjelajahi berbagai negeri seperti Amerika Selatan, Afrika, dan Amerika Serikat. Di Amerika Serikat, tepatnya di San Francisco, California Awka memutuskan untuk menetap.

Pada tahun 1952 setelah dua tahun Awka menetap disana, Hamka mengunjunginya untuk melepas rindu. Berkat bantuan Hamka, Awka mendapatkan pekerjaan di lembaga Indonesia Supply Mission yang berada di New York, lalu di kantor Konsulat RI yang berlokasi di San Francisco. Awka menceritakan kepada Hamka, bahwa sekarang namanya dikenal dengan Willy Amrull.

“Dia adalah adikku Abdul Wadud Karim Amrullah. Di Amerika, dipakainya nama ala Barat, Willy Amrul,” tulis Buya Hamka di buku Empat Bulan di Amerika (1953:45).

Awalnya Awka jatuh cinta pada seorang perempuan bernama Sawitri. Namun, ayah dari Sawitri yang bernama Ali Sastroamijoyo seorang Duta Besar RI untuk Amerika tidak merestuinya. Akhirnya, Awka menikah dengan wanita asli Amerika yang berusia lebih dewasa dan sudah mempunyai empat orang anak pada tahun 1957. Kendati demikian, pernikahan tersebut tidak bertahan lama.

Tahun 1970, Awka melakukan pernikahan kembali dengan seorang gadis blasteran Amerika-Indonesia yang bernama Vera Ellen George. Vera sendiri bersedia menjadi mualaf, karena Awka termasuk seorang muslim yang taat dan merupakan adik dari Hamka, seorang tokoh muslim Indonesia.

Ketika mereka pindah ke Bali, tempat Awka bekerja, sang istri goyah terhadap keyakinannya. Kemudian ia meninggalkan Islam dan memeluk agama asalnya, Kristen. Vera sendiri mengajak Awka untuk mengikutinya. Namun awalnya Awka menolak ajakan Vera untuk meninggalkan Islam, dengan alasan latar belakang keyakinan keluarganya sangat kuat.

Baca Juga  Kemurahan Hati Buya Hamka terhadap Pramoedya Ananta Toer

Puncaknya pada tahun 1981, ketika keluarga Awka pindah ke Jakarta. Keyakinan Awka mulai goyah, dan pada tahun 1983 ia resmi dibaptis oleh Pendeta Gerard Pinkston di Kebayoran Baru (Willy Amrull, 2013:141). Dua tahun setelah wafatnya Hamka, Awka memutuskan meninggalkan Islam. Di tahun itu juga Awka kembali ke Amerika Serikat.

Awka diangkat dan ditetapkan sebagai Pendeta di Gereja Pekabaran Injil Indonesia (GPII) di California. Sejak saat itu, Awka dikenal sebagai Pendeta Willy Amrull.

Tidak ada yang menyangka dengan latar belakang keluarga yang kuat keislamannya. Hamka memilih menjadi Ulama seperti ayahnya, sedangkan Awka memilih menjadi Pendeta. Padahal sejak kecil Hamka maupun Awka merupakan sosok yang taat dan patuh terhadap agama.

Hamka berkarier sebagai salah satu ulama di Indonesia, ia juga menjadi tokoh Muhammadiyah yang terkenal hingga akhir hayatnya. Ia adalah aktivis Masyumi sampai partai tersebut dibubarkan dan menjabat sebagai ketua pertama Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Hamka juga di anugerahi gelar doktor kehormatan oleh Universitas Al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia. Universitas Moestopo Jakarta mengukuhkan Hamka sebagai guru besar. Namanya juga digunakan sebagai Universitas Hamka milik Muhammadiyah dan masuk ke dalam daftar Pahlawan Nasional Indonesia.

Berbeda pilihan dengan Awka, sebagai seorang Pendeta ia juga mempunyai kewajiban untuk menyebarkan agamanya. Misi tersebut diberikan kepada Willy Amrull (Awka) oleh lembaga misionaris Kristen di Amerika. Lalu ia ditugaskan untuk melakukan syiar agama di kampung halamannya, Sumatra Barat. Disana Willy Amrull memakai nama samaran Badru Amrulllah.

Misinya berjalan lancar berkat Yanuardi Koto, Ketua Persekutuan Kristen Sumatra Barat (PKSB), yang berasal dari Lubuk Basung, (Bakhtiar, Ranah Minang di Tengah Cengkeraman Kristenisasi, 2009:153). Yanuardi Koto juga seorang pendeta Gereja Protestan Indonesia Barat (Majalah Gamma, 1999:63).

Baca Juga  Orang Baik Itu Telah Mudik: Catatan Khusus Buat Sahabatku Said Tuhuleley

Namun pada tahun 1998, Pendeta Willy Amrul (Awka) dikaitkan dengan kasus penculikan gadis 17 tahun bernama Khairah Enniswah (Wawah). Saat itu, keberadaan Willy Amrull (Awka) tidak diketahui sebab ia sudah kembali ke Amerika. Willy Amrull (Awka) mencurigai hal tersebut digunakan untuk mejebaknya. Beberapa sumber menyebut siswi Madrasah Aliyah Negeri 2 Padang ini dijebak dan dikristenkan secara paksa.

Tahun 1999, Willy Amrull (Awka) menjadi sorotan karena menjadi aktor penting kristenisasi di Sumatera Barat. Willy Amrull (Awka) menyebut proses pengkristenan tersebut dengan istilah “pemuridan”. Penjelasan lengkap berbagai tekniknya terdapat dalam buku otobiografinya (Willy Amrull, 2013:190).

Lalu Informasi dari Museum Buya Hamka menyebut, Abdul Wadud (Awka) sudah dibuang sepanjang adat dari Nagari Sungai Batang. Kemudian hak-hak sosial maupun budayanya sudah dicabut. Yang berarti Abdul Wadud Karim Amrullah (Awka) sudah bukan orang Minang lagi.

Dan sejak kasus Wawah tersebut, Willy Amrull (Awka) tidak pernah kembali ke Indonesia hingga meninggal dunia di California pada 25 Maret 2012. Sehingga baik Hamka maupun Awka memilih jalannya masing-masing. Hamka sebagai Ulama, sedangkan Awka sebagai Pendeta.

Editor: Yusuf

Anggita Larassati
2 posts

About author
Mahasiswi Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta.
Articles
Related posts
Ulama

KH Hasan Ali, Tokoh Muhammadiyah Bali yang Teguh dan Moderat

4 Mins read
Umat Islam Bali dan warga Muhammadiyah seluruh Indonesia kembali kehilangan tokoh dan teladan dalam berdakwah pada Ahad, 6 Ramadan 1442 Hijriah. KH…
Ulama

Ibnu al-Haitham; Ilmuan Muslim Pencetus Kamera Obscura dan Ilmu Optik

2 Mins read
Zaman sekarang, ragam jenis kamera yang kian canggih semakin dikembangkan. Kamera bukan hanya dibutuhkan untuk mengabadikan momen seperti foto, namun juga dipakai…
Ulama

Anak Muda Harus Menimba Ilmu dan Hikmah dari Buya Syafii

4 Mins read
Anda dan saya masih terhitung muda. Kita bagian dari generasi muda bangsa Indonesia. Meski tiap hari belajar dan bekerja, tak berarti Anda…

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa