Din Syamsuddin: Risalah Pencerahan Muhammadiyah - IBTimes.ID
Report

Din Syamsuddin: Risalah Pencerahan Muhammadiyah

3 Mins read

Yogyakarta-IBTimes.ID- Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dua periode, Din Syamsuddin, turut memberikan kuliah pencerahan pada acara Pengajian Ramadhan Pimpinan Pusat Muhammadiyah.(10/5). Ia mengulas tema seputar risalah pencerahan yang diaktualisasikan dalam kehidupan kebangsaan.

Sebelum memberikan ulasan seputar tema, Din memberikan komentar pada kata kata “pencerahan” yang menjadi salah satu kata yang dipakai dalam tema Pengajian Ramadhan PP Muhammadiyah.

“Konsep “pencerahan” mulai kita populerkan sebagai trademark Muhammadiyah. Sebenarnya, seingat saya, mengalih-bahasakan kata “tanwir” yang juga menjadi ikon Muhammadiyah. Bahkan, menjadi nama dari permusyawaratan tertinggi kedua di bawah Muktamar. Tidak ada satupun organisasi yang memberi nama permusyawaratan tertinggi maupun tertinggi kedua dengan istilah yang bermakna, kecuali Muhammadiyah. Biasanya Mukernas, Musykernas dan Rapimnas” ujar Din.

Menurut Din, risalah pencerahan tidak lepas dari konsep tanwir. Kata tersebut dapat ditemukan dalam Al-Qur’an  dalam 3 atau 4 dimensi. Tidak ada di dalam Alquran secara spesifik menyebutkan kata tanwir, yang ada hanyalah kata nur, sedangkan kata tanwir diderivasi dari kata nur tersebut.

Kata tanwir, dalam makna perenialnya/asali-nya  diambil dari potongan ayat (Allahu nur as-samawati wa al-ardli)  kata nur tersebut melekat pada zat Allah. Maka akan menjadi suatu keagungan dan keluruhan jika kita tarik menjadi suatu nilai. Gerakan pencerahan (al-harakah at-tanwiriyah) tiada lain ialah jalan yang harus kita tempuh untuk membuka jalan bagi orang lain menuju nurullah.

Ayat Alquran lain yang menjelaskan kata nur terdapa pada surat Al-Baqoroh (Allahu waliyyulladzina aamnu yukhrijuhum min adz-dzulumati ila an-nur). Di sana tersirat makna tanwir sebagai risalah, yaitu mengeluarkan manusia (ikhroju an-nas) dari kegelapan (kesuraman) menuju keadaan yang terang benderang.

Selain itu, Din juga menjelaskan bahwa ada isyarat tanwir yang bersifat kultural  (socio-cultural) yaitu hadits peradaban. Yakni Rasulullah membangun peradaban di Yatsrib yang kemudian menjadi Madinah, tempat tamaddun yang diberi predikat al-munawwaroh. Al-madinah al-munawwarah memiliki makna kota yang memiliki peradaban yang mencerahkan (the enlightend civilization) yang dalam bahasa sosiologi disebut high civilization.

Din menyimpulkan, bertolak dari tiga landasan normatif di atas, bahwa tanwir ialah sebuah konsep wawasan (set of activities) yang perlu kita lakukan untuk mengajak kepada Islam itu sendiri. Nurullah jika dipahami secara fungsional ialah merupakan suatu transformasi, perubahan, dan taghyir wataghoyyur.  Tanwir bukanlah suatu pergerakan yang biasa-biasa sebagaimana bisnis (bisnis as usual). Tanwir harus membawa spirit perubahan.

Baca Juga  MESRA: Kegiatan Keagamaan dan Permainan Edukatif Rintisan PCIM Malaysia

“Gerakan yang meggunakan istilah tanwir pernah muncul dalam sejarah Islam, mulai abad ke 19” kata Din.

Din menjelaskan bahwa gerakan tanwir sudah timbul mulai abad 19, sebelum abad 19 terjadi perdebatan-perdebatan, antara lain Ibn Ruyd dengan al-Ghazaly. Yang mana fase itu membawa fase kegelapan dan pada akhirnya terjadi penjajahan-penjajahan dalam kepada Islam.

“Namun, sejalan dengan perlawanan kepada penjajah, ada juga dimensi-dimensi yang  pendekatan yang mengambil baik-baik dari dari barat” kata Din.

Sebelum abad ke 19, juga sudah terdapat gerakan kembali untuk menerangi gelapnya dunia Islam kala itu, dengan ilmu pengetahuan.

Namun pada abad 19, sejalan dengan  Aufklarung (enlightment) yang terjadi di Eropa (Perancis), umat Islam yang behubungan dekat dengannya, sangat terpengaruh dengan ide pencerahan yang pernah terjadi di Perancis. Sehingga cendekiwaan-cendekiawan muslim dari negara-negara muslim seperti di Mesir itu sangat berpengaruh. Bahkan ada delegasi Mesir (Egytian Delegation for Paris)  denganj begitu bergairahnya meniru enlightement yang ada di barat ini untuk diterapkan dalam konteks kearaban dan juga keislaman.

Jauh sebelum itu, cendekiawan muslim. Ibn Khaldun sudah menjelaskan makna tanwir dalam bukunya al-muqaadimat.

Gerakan Pencerahan yang muncul pada abad ke-19 seiring terjadinya enlightement di Barat, pada dasarnya, sangat menghargai akal pikiran (the otority of reason) dan sadar bahwasannya ilmu pengetahuan ialah dasar dimulainya peradaban (science-and-knowledge based society).

Din menyatakan bahwa semangat untuk membangkitkan peradaban ilmu pengetahuan ini juga banyak digagas oleh aktivis-aktivis muslim kontemporer. Salah satu tokohnya, yang sering disebut oleh Harun Nasution, ialah at-Tahtowi.

At-Tahtowi sudah membawa istilah yang berbau tanwir. Istilah yang ia pakai ialah (al-anwar wa al-ma’arif). Penggunaan istilah tersebut tidak lepas dari pengaruh barat. Dengan istilah tersebut at-Tahtowi menciptakan konsep untuk membangun kebudayaan peradaban Islam atau bisa disebut revitalisasi kebudayaan peradaban Islam yang kemudian mendobrak otoritas agama yang berwajah normalistik-legalistik-fiqhiyyah.

Baca Juga  Abdul Munip: Lima Motif Penerjemahan Buku Bahasa Arab

Diparuh kedua abad 19, dunia Islam pernah mengalami masa an-nahdhoh (kebangkitan), muncul istilah nur dan tamaddun dikaitkan, dan sudah berbicara orientasi futuristik tentang masa depan. Baik di kawasan Mesir, Turki, Tunisia. Yang pada dasarnya mereka sadar bahwa ilmu ialah kunci kemajuan.

Namun, terdapa pro-kontra dalam memaknai kata tanwir. Kata tanwir juga juga digunakan oleh kelompok Liberal yang mengagungkan akal pikiran. mereka beranggapan bahwa deduksi rasional terhadap agama tak akan bertentangan dengan maqasid syari’ah, deduksi rasional pasti akan beririsan dengan maqasid syariah.

Gerakan tanwir kemudian menemukan fase yang sangat sekuler yaitu pada saat Ali Abdur Roziq menentukan format tertentu dalam pemerintahan untuk menegakan pemerintahan Mesir.ia menyatakan ada 3 syarat pokok mendirikan negara; (1) Ahkam Siyasah (2) Qowa’idul aqli (3) Tajaribul Umam.

Din lebih cenderung meletakan risalah pencerahan Muhammadiyah sebagai pendayagunaan akal dan pentingnya ilmu pengetahuan, namun tidak meninggalkan wahyu (at-tawazun bil ‘aqli wal wahyi) karena hal tersebut sesuai dengan spirit yang dicontohkan oleh Kiai Dahlan.

Avatar
1027 posts

About author
IBTimes.ID - Kanal Moderasi Islam. Sebuah media online yang berprinsip pada wasathiyah Islam dengan memadukan doktrin keislaman, perkembangan sains mutakhir, dan nilai keindonesiaan.
Articles
    Related posts
    Report

    Nahdlatul Ulama vs Jokowi: NU Normal?

    3 Mins read
    Sejak Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan kabinetnya pada 23 Oktober 2019, Nahdlatul Ulama (NU) perlahan menjauhkan diri dari presiden. Hal ini salah…
    Report

    Martin Slama: 'Aisyiyah, Otoritas Keagamaan, dan Media Sosial

    2 Mins read
    IBTimes.ID – Tidak ada agama tanpa media. Setiap agama memiliki media utamanya sendiri. Agama-agama besar memiliki kitab suci sebagai media utama. Sedangkan…
    Report

    Abdul Mu'ti: Fikih Judicial Review

    2 Mins read
    Sejak disahkan oleh DPR pada 5 Oktober lalu, gelombang unjuk rasa dari berbagai kalangan belum menunjukkan tanda berhenti. Demo buruh pada 8/10…

    Tinggalkan Balasan