Eksistensi Manusia Menurut Al-Qur’an - IBTimes.ID
Tafsir

Eksistensi Manusia Menurut Al-Qur’an

5 Mins read

Manusia dalam pandangan Islam merupakan makhluk yang terbaik, the best stature, baik dari segi bentuk dan struktur tubuh maupun dari segi kemampuan intelektual. Banyak ayat Al-Qur’an yang menerangkan keunggulan manusia daripada makhluk lainnya. Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an surat Al-Isrǎ: 70 dan At-Tǐn: 4:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلْنَٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلً

Artinya:

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”.

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ


Artinya:

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Kedua ayat di atas menunjukkan betapa agungnya manusia bila dibandingkan dengan mahluk Allah yang lainnya.

Manusia Lebih Mulia daripada Malaikat

Dalam ayat yang lain, Tuhan mengungkapkan bahwa manusia lebih mulia dari pada malaikat, Allah SWT berfirman Al-Qur’an surat Al-Baqarah, 2: 33:

قَالَ يَٰٓـَٔادَمُ أَنۢبِئْهُم بِأَسْمَآئِهِمْ ۖ فَلَمَّآ أَنۢبَأَهُم بِأَسْمَآئِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّىٓ أَعْلَمُ غَيْبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ

Artinya:

“Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”

Manusia lebih mulia dari pada malaikat  dikarenakan memiliki tingkat intelektualitas yang lebih tinggi. Malaikat merupakan jenis mahluk yang tidak pernah membantah perintah-perintah Allah. Senantiasa teguh pada tugas yang dibebankan dipundak mereka, tetapi mengapa manusia tetap lebih mulia dari pada malaikat?

Sejarah penciptaan manusia (Adam) mengajarkan bahwa ia (Adam) diciptakan dari tanah kemudian Allah meniupkan ruhnya sendiri ke dalam diri adam. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Hijr 15: 29:

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

Artinya:

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.

Sehubungan dengan ayat di atas, Ali Shariati berpendapat, “Secara demikian, manusia sangat dekat dengan Tuhan, dipilih menjadi khalifahnya dan pemegang amanatnya”.

Dengan demikian, superioritas dan keunikan manusia karena ia memiliki ruh yang paling dekat dengan ruh tuhan. Di samping itu, manusia dipersiapkan sebagai wakil-Nya di bumi sebagai pengemban amanat Allah.

Baca Juga  Ulil Albab (3): Mampu Memahami Hakikat Infaq

Sebagai wakil Tuhan di bumi, sudah barang tentu manusia harus memiliki kehendak yang kuat (tidak dimiliki oleh malaikat) untuk berkreasi dan harus memilki kebebasan (free will). Kebebasan ini penting, sebab kebebasan merupakan titik pangkal daya cipta manusia. Dengan kata lain, sebagai wakil Allah di bumi, manusia harus menjadi mahluk yang kreatif.

Manusia Sebagai Makhluk yang Hanif

Manusia diciptakan Allah atas dasar fitrah (hanif). Kesucian hati nurani yang selalu cenderung pada kebenaran juga merupakan dasar agama bagi manusia. Hanif jika dihubungkan dengan pengutusan para rasul Allah, akan memberikan pengertian bahwa tugas pokok para rasul adalah menjaga kesucian hati nurani manusia sehingga ia dapat membaca apa yang dituliskan Allah dengan lebih jelas dan meyakinkan.

Hanif merupakan dasar agama. Ini menunjukkan kepada kita bahwa manusia dapat menangkap gejala-gejala ketuhanan di alam ini, termasuk pada dirinya sendiri. Ternyata, kecendurungan untuk mengakui adanya kekuatan di luar diri manusia telah diberikan sebelum manusia terlahir ke bumi ini. Dalam hal ini, Al-quran melukiskan bahwa di alam arwah, Allah mengadakan dialog atau lebih tepatnya mengangkat sumpah atas ruh-ruh sebelum mereka ditiupkan kedalam tubuh manusia. Dalam pengangkatan sumpah tersebut, seluruh ruh sepakat bersumpah bahwa Allah satu-satunya Tuhan yang mengatur. Allah SWT berfirman Al-Qur’an surat Al-A’raf 7:172:

ألَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا

Artinya:

“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. 

Hidup Manusia Mengabdi pada Tuhan

Hidup bertuhan, mengakui keesaan Allah, serta tunduk dan patuh padanya, adalah ikrar primordial yang telah dibuat Allah untuk semua manusia. Ini merupakan fitrah manusia yang tidak akan pernah berubah. Allah SWT berfirman Al-Qur’an surat Ar-Rum 30: 30:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya :

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Hidup manusia adalah mengabdi pada Tuhan (Allah). Ini berarti manusia memberi pemenuhan bagi kesucian dirinya sehingga terdapat jarak yang jauh antara ruh dengan lumpur kehinaan yang selalu ditunggangi Iblis.

Baca Juga  Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Iblis, sebagai anti kemanusian selalu melakukan intrik-intrik ke dalam diri manusia. Bagi manusia yang lemah, manusia yang tidak beriman dan manusia yang tidak memiliki kemauan yang keras akan mudah tergoda. Ketika manusia terjatuh oleh godaan iblis, maka ketika itu, fitrahnya menjadi tertutup untuk sementara waktu, bahkan untuk selamanya jika ia tidak segera menyadarinya.

Iblis sebagai anti kemanusian “dilantik” Tuhan ketika ia menyombongkan asal kejadiannya. Kesombongan inilah yang membuatnya enggan memberi penghormatan kepada manusia (Adam) selaku mahluk yang bernilai lebih dari pada mahluk-mahluk lainnya. Jadi Iblis dan manusia (Adam) adalah seusia.

Manusia Makhluk Pemegang Amanat Moral

Manusia selaku mahluk bidimensional mempunyai tanggung jawab moral terhadap kesucian dirinya dan terhadap Allah. Faktor inilah yang mendorong manusia untuk melakukan “perang suci” terhadap dorongan-dorongan yang merusak dirinya. Dalam hal ini, Allah SWT berpihak kepada manusia, asal saja manusia bersedia melakukan upaya-upaya maksimal untuk menegakkan tata moral dan tata susila yang beradab, damai, dan sejahtera sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al- Ahzab: 33: 72:

إِنَّا عَرَضْنَا ٱلْأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱلْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا ٱلْإِنسَٰنُ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Artinya :

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”

Kesedian manusia menerima amanat Allah berarti ia memikul beban yang harus dipertanggungjawabkan. Atas dasar tanggung jawab ini pulalah manusia diberi Allah kebebasan untuk menentukan jalan hidup yang dilaluinya. Kebebasan dan tanggung jawab ini sesuai dengan misi penciptaan manusia, yang direncankan sebagai wakil Allah dibumi. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah: 2: 30:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya :

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Manusia: Bisa Menjadi Makhluk Mulia ataupun Hina Dina

Manusia diciptakan sebagai mahluk yang paling baik dari mahluk lainnya, hal ini merupakan kondisional. Sebab manusia dapat menjadi hina dam rendah bahkan lebih rendah dari mahluk yang paling rendah, sebagaimana Allah berfirman Al-Qur’an surat At-Tǐn 95: 4-5:

Baca Juga  Moderasi dalam Al-Qur’an: Tafsir Al-Baqarah Ayat 143

لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِىۡۤ اَحۡسَنِ تَقۡوِيۡم (4) ثُمَّ رَدَدۡنٰهُ اَسۡفَلَ سَافِلِيۡنَۙ (5

Artinya:

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.”

Ayat ini memberi pengertian pada kita sesungguhnya manusia mahluk yang terentang antara potensi dan aktualisasi. Aktualisasi ini merupakan pemenuhan kondisional, artinya jika manusia dapat memenuhi persyaratan dalam mengisi (mengembangkan) potensinya, maka sampailah ia pada tingkat the best stature.

Dalam aktualisasi potensi, manusia diberi kebebasan memilih jalan yang dilaluinya. Apakah ia memilih cara-cara yang telah diterangkan dalam Al-Qur’an berupa petunjuk atau memilih jalan yang lain. Banyak ayat yang menerangkan bahwa manusia bebas berbuat untuk kepentingan dirinya seperti di dalam Al-Qur’an surat QS. Al-Insan 76: 3:

انَّا هَدَیْنٰهُ السَّبِیْلَ اِمَّا شَاكِرًا وَّ اِمَّا كَفُوْرًا

Artinya :

Sesungguhnya kami telah menunjuki jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.

Sebagai individu yang berkomunal maka manusia akan dapat menjadi manusia jika ia hidup di tengah-tengah manusia. Dengan demikian, Islam mempunyai pandangan bahwa masyarakat harus menjadi kencah kristalisasi pemanusian, memanusiakan manusia. Allah SWT berfirman Al-Qur’an surat Al-Hujurat 49:13:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِير

Artinya :

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

***

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa manusia dapat eksis jika ia mampu mencapai taraf keimanan yang teguh dan memiliki kreatifitas yang mengandung nilai guna yang diperoleh melalui aktualisasi diri yang dijalankan sesuai dengan petunjuk Al-Q, ur’an. Atas dasar iman dan kreatifitas ini, manusia akan dapat menyesuaikan kehendaknya sebagai mahluk dengan kehendak Allah sebagai Khaliq. Inilah yang sebut sebagai Insan Kamil.

Editor: Yahya FR

Related posts
Tafsir

Mohammed Arkoun: Menafsir Al-Quran dengan Hermeneutika

2 Mins read
Mohammed Arkoun lahir pada 1 Februari 1928 di Taourirt-Mimoun, Kabilia. Pegunungan yang berada sebelah timur Aljazair, Afrika Utara. Muhammed Arkoun merupakan tokoh…
Tafsir

Moderasi dalam Al-Qur’an: Tafsir Al-Baqarah Ayat 143

3 Mins read
Moderasi sangatlah luas maknanya. Ia memerlukan pemahaman dan pengetahuan yang luas dan mendalam tentang syariat Islam dan kondisi objektif yang dihadapi serta…
Tafsir

Apa Pengertian Taufik dan Hidayah?

3 Mins read
Dua kalimat taufik dan hidayah sering muncul bersamaan dalam khotbah. Apakah ada perbedaan makna kedua kata itu? Semoga tulisan singkat ini bisa…

Tinggalkan Balasan