Etos Kemanusiaan Muhammadiyah

 Etos Kemanusiaan Muhammadiyah

Ilustrasi. Sumber: DeviantArt

Oleh: Arif Yudistira*

Muhammadiyah telah tumbuh menjadi organisasi besar di abad ini. Kekuatan dan kebesaran Muhammadiyah ini tak bisa dilepaskan dari kekuatan ide atau gagasan sebagai nafas geraknya. K.H. Ahmad Dahlan menerapkan metode yang mumpuni dan terbukti berhasil sampai sekarang.

Dahlan menggunakan metode ilmu-amaliah, dan amal-ilmiah. Secara sederhananya, ketika kita sudah memiliki ilmu, jangan lupa beramallah. Tapi jangan lupa ketika engkau beramal ibadah, gunakanlah ilmu. Dahlan menjejerkan kekuatan amaliah dan kekuatan ilmu.

Ilmu dalam Beragama

Mengapa ilmu begitu penting ditekankan dalam beragama? K.H. Ahmad Dahlan semula adalah Kiai yang mulanya hidup dalam lingkungan Keraton Yogyakarta. Kita tahu masyarakat Yogyakarta di masa lalu masih mencampuradukkan antara takhayul, dan kepercayaan leluhur dalam beragama. Ketika melihat atau merespon pembaruan, kalangan keraton cenderung menolak. K.H. Ahmad Dahlan, dulunya pun sama, ia ikut dalam tradisi keberagamaan yang tak beda dengan masyarakatnya kala itu.

Perubahan sikap Dahlan muncul setelah berhaji ke Mekkah dan belajar ilmu kepada Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Rasyid Ridha dan Mohammad Abduh. Ketiga pemikir islam modern ini memberikan pengaruh kepada Ahmad Dahlan. Dahlan memahami pentingnya ilmu dalam mempelajari serta mempraktikan agama.

Riwayat Dahlan yang menyuruh muridnya untuk tak berhenti mengulang Surah Al-Maun bukanlah sebagai ajakan untuk menghafal Qur’an secara tekstual. “Iya, memang sudah kamu hafalkan, tapi sudahkah semua maknanya kamu amalkan?” begitu kira-kira kata Dahlan kepada muridnya. Inilah dialog telak yang kemudian menjadi inspirasi Muhammadiyah dalam bergerak sampai hari ini. Tafsir Al-Maun sebagai spirit Muhammadiyah itulah yang dipraktikkan oleh warga Muhammadiyah.

Mustahil menyebut dan mengakui bahwa kita seorang muslim, kalau masih ada anak yatim dan piatu di sekitar kita tidak diurus dan dipedulikan. Mustahil mengaku muslim yang baik, kalau ada orang miskin tidak kita pedulikan dan santuni. Ibadah pada akhirnya dinilai kurang maknanya, kurang sempurna bila tak dilandasi ilmu. Ilmu itulah yang melandasi kita bergerak dalam amaliah ibadah.

Kemanusiaan Muhammadiyah

107 Tahun Muhammadiyah telah menunjukkan kekuatan ilmu dan kekuatan amaliah. Dalam suatu pengajian ranting, Bendahara PP Muhammadiyah Marpuji Ali pernah mengatakan, “Muhammadiyah besar karena kebesaran Allah, kekuatan dan keikhlasan para warganya, kekuatan dan kepercayaan bahwa kita ini nol, kita ini tak punya apa-apa, Allah Yang Maha Besar yang punya segalanya.”

Tanah dan asset Muhammadiyah berupa tanah, sekolah, rumah sakit yang tak terbatas jumlahnya itu menandakan bahwa Muhammadiyah mengandalkan kekuatan amal. Adanya rumah sakit, kampus, hingga sekolah dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi bisa besar dan berkembang dengan amal warganya. Dengan tindakan dan perbuatan yang dilandasi keikhlasan.

Dalam buku Boeah Pikiran Kiai Dahlan (2015) Abdul Munir Mulkhan menuliskan riwayat berdirinya PKO (Penolong Kesengsaraan Oemat). Dalam peresmian PKO di Surabaya, dalam sambutannya ia mengatakan “Meskipun Persyarikatan kami itu kelihatannya wujudnya ada berlainan dengan Persyarikatan yang lainnya yang timbul di dunia pada waktu yang kurang lebih bersama-sama. Tetapi pada hakikatnya Persyarikatan kami itu tiada lain hanya satu dari beberapa pertunjuk lahirnya pikiran baru yang menggetarkan bahagian seantero dunia yang berpikir.”

Membaca ini kita jadi mahfum bahwa Muhammadiyah sebenarnya adalah organisasi yang melandaskan pengetahuan, keilmuan sebagai basis bergerak. Termasuk dalam menjalankan amaliah keagamaan. Dalam kalimat selanjutnya Dr. Soetomo mengatakan, “Besok pagi akan kita buka Poliklinik ini. Siapa juga baik orang Eropa, baik orang Jawa, baik China atau bangsa Arab, boleh kemari, akan ditolong dengan cuma-cuma, asalkan betul miskin. Kami mengharap tuan-tuan sekaliannya. Pekerjaan poliklinik yang penuh dengan kurban dan kemanusiaan.”

Meskipun Muhammadiyah mengutamakan ilmu, Muhammadiyah juga berpegang teguh pada konsep kemanusiaan. Seperti pada pembukaan PKO yang dilakukan oleh Soetomo pada waktu itu, nampak sekali etos kemanusiaan yang digaungkan Muhammadiyah lewat amal usahanya. Dalam dunia pendidikan pun demikian halnya. Muhammadiyah tidak pernah melarang para murid-muridnya yang dari luar islam untuk belajar di kampusnya. Justru dirangkul dan sering berkolaborasi bersama dalam kerja kemanusiaan dan kebangsaan.

Dedikasi untuk Bangsa dan Negara

Semua kerja-kerja kemanusiaan Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, sosial, hingga kebencanaan, membuktikan Muhammadiyah tidak pernah absen untuk mendedikasikan kerja kemanusiaannya untuk bangsa dan negara. Karena itulah, Muhammadiyah sudah biasa mengkampanyekan spirit keagamaan itu tak bisa dilepaskan dari spirit kemanusiaan.

Bila dulu kita masih bersinggungan dengan persoalan benturan ideologi tarbiyah, maka saat ini Muhammadiyah cenderung tak terlalu menggubris aspek itu. Fokus Muhammadiyah lebih ditekankan pada pekerjaan rumah bangsa kita.

Tema “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” saya rasa sesuai dengan apa yang dilakukan Muhammadiyah saat ini. Peranan Muhammadiyah di bidang pendidikan telah membekas bagi para murid, santri, dan juga para akademisi yang pernah merasakan pendidikan di lingkungan Muhammadiyah. Kaum dari Nahdatul Ulama, dari organisasi islam lainnya pun merasakan manfaat pendidikan di kalangan Muhammadiyah.

Meskipun di masa lampau, di kala Kiai Dahlan mengajar dengan ala barat dikritik dan dituduh kafir, kini pendidikan Muhammadiyah diakui semakin nyata. Memiliki kontribusi melahirkan para pemikir, para pemimpin yang berkontribusi bagi bangsa kita.

Selain itu, Muhammadiyah juga tak berhenti merespon isu-isu dunia yang bersifat kemanusiaan. Konflik Palestina-Israel, kasus Rohingya, dan kasus lain di seluruh dunia, selalu direspon Muhammadiyah sebagai sikap organisasi yang peduli terhadap masalah kemanusiaan. Peranan dan kontribusi organisasi ini dalam memberikan bantuan kepada saudara kita di manca negara tak dipertanyakan lagi. Membangun rumah sakit, fasilitas umum di negeri konflik semakin menguatkan bahwa organisasi ini peduli terhadap persoalan kemanusiaan.

Kerja-kerja Muhammadiyah dalam bidang ilmu, pada hakikatnya tak terlepas dari bidang-bidang amaliah sosial. Muhammadiyah tumbuh dan semakin berkembang dengan etos kemanusiaan, yang tanpa kenal pamrih, dan terus berkontribusi bagi bangsa kita tercinta ini.

Selamat Milad Muhammadiyah yang ke-107, 107 Tahun bekerja mencerdaskan kehidupan bangsa dan berjuang untuk kemanusiaan.

*) Kepala Sekolah SMK Citra Medika Sukoharjo, Koordinator Sarekat Taman Pustaka Muhammadiyah Rumpun Komunitas

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTimes.id Kanal Islam Berkemajuan. Menyajikan wacana keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan untuk menenebarkan perdamaian dan mengokohkan kebhinnekaan.

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *