back to top
Minggu, Oktober 25, 2026

Doomscrolling Sebagai Pelarian dari Ruang Hampa (Horror Vacui)

Lihat Lainnya

Chelsea Marsya Putri
Chelsea Marsya Putri
Mahasiswa Program Studi Psikologi (S1) Universitas Pendidikan Indonesia

Pernahkah kalian merasakan keresahan yang tiba-tiba melanda ketika ponsel kehilangan sinyal atau ketika akhir pekan tiba tanpa satu pun rencana? Alih-alih menikmati kebebasan untuk beristirahat, tangan kita justru refleks meraba saku, membuka kunci layar, dan mulai menggulirkan layar media sosial tanpa henti. Seolah-olah ada sesuatu yang harus ditemukan di antara ribuan informasi yang berlalu. Sebuah fenomena yang dikenal sebagai doomscrolling.

Doomscrolling atau doomsurfing merupakan kebiasaan menelusuri media sosial atau platform digital secara terus-menerus untuk mengonsumsi berita buruk maupun informasi negatif. Namun, fenomena ini sesungguhnya jauh lebih kompleks daripada sekadar kebiasaan buruk dalam mengisi waktu luang.

Kebosanan di era digital bukan lagi sekadar kejenuhan akibat ketiadaan aktivitas, melainkan dapat menjadi bentuk keterasingan eksistensial. Kita seolah-olah lebih memilih membiarkan kecemasan menggerogoti pikiran melalui arus informasi digital daripada berhadapan dengan keheningan diri sendiri.

Di sinilah konsep horror vacui, yang secara harfiah berarti ketakutan terhadap kekosongan, menjadi relevan untuk memahami perilaku manusia modern. Kekosongan tidak selalu berarti ketiadaan benda atau aktivitas, tetapi juga dapat merujuk pada ruang tanpa stimulasi, tuntutan, dan distraksi yang memaksa manusia berhadapan dengan dirinya sendiri.

Pertanyaan besarnya adalah: mengapa kita sebagai manusia modern seringkali begitu takut pada kesunyian?

Salah satu cara untuk memahami ketakutan manusia modern terhadap kesunyian adalah melalui pemikiran Martin Heidegger mengenai hakikat teknologi. Bagi Heidegger, teknologi modern bukan sekadar seperangkat alat yang membantu manusia menyelesaikan pekerjaan. Teknologi juga merupakan cara manusia memandang dan menyingkap dunia. Dalam kerangka ini, teknologi modern cenderung menempatkan segala sesuatu sebagai Bestand, yakni persediaan yang tersedia untuk digunakan, dioptimalkan, dan dikendalikan.

Cara berpikir tersebut berkaitan dengan Rechnendes Denken, atau pemikiran kalkulatif, yang berorientasi pada perhitungan, efisiensi, produktivitas, dan pencapaian hasil. Dalam kehidupan modern, segala sesuatu seolah-olah harus memiliki fungsi yang jelas dan menghasilkan sesuatu yang dapat diukur. Waktu harus dimanfaatkan, aktivitas harus menghasilkan capaian, bahkan waktu luang pun kerap diperlakukan sebagai kesempatan untuk meningkatkan produktivitas.

Akibatnya, kesunyian mudah dianggap sebagai sesuatu yang tidak produktif. Tidak ada data yang perlu diproses, tugas yang harus diselesaikan, ataupun stimulasi baru yang dapat dikonsumsi. Dalam logika pemikiran kalkulatif, waktu yang tidak menghasilkan sesuatu yang terukur seolah-olah merupakan waktu yang terbuang sia-sia. Kondisi ini dapat memunculkan kegelisahan ketika seseorang tidak lagi memiliki aktivitas yang memberinya rasa sibuk, berguna, atau terkendali.

Namun, Heidegger juga menekankan pentingnya Besinnliches Denken, yaitu pemikiran reflektif atau kontemplatif. Berbeda dari pemikiran kalkulatif yang berfokus pada cara mencapai tujuan, pemikiran reflektif mengajak manusia berhenti sejenak untuk mempertanyakan makna keberadaan, hubungan manusia dengan dunia, serta hakikat segala sesuatu yang selama ini dianggap biasa.

Baca Juga:  Fikih Muyassar: Inovasi Tata Kelola Haji Kemenag RI

Pemikiran semacam ini membutuhkan waktu, kelambatan, keterbukaan, dan ruang untuk merenung. Kesunyian dapat menyediakan ruang tersebut karena ketika stimulasi eksternal seperti notifikasi, linimasa media sosial, dan kebisingan sehari-hari mereda, manusia memperoleh kesempatan untuk memperhatikan pikiran serta pengalaman batinnya sendiri.

Dalam keheningan, pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai kefanaan, makna hidup, dan keotentikan diri dapat muncul ke permukaan. Manusia tidak lagi sekadar bertanya tentang apa yang harus dilakukan, tetapi juga mengapa ia melakukannya dan untuk apa ia menjalani kehidupannya.

Dengan demikian, ketakutan terhadap kesunyian dapat dipahami sebagai ketidaknyamanan ketika manusia kehilangan distraksi yang selama ini membantunya menghindari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Teknologi digital, dengan aliran informasi yang nyaris tidak pernah berakhir, menyediakan sarana pelarian yang mudah diakses. Setiap kali kebosanan atau kegelisahan muncul, layar ponsel menawarkan kesempatan untuk segera mengalihkan perhatian.

Pada titik ini, doomscrolling bukan lagi sekadar aktivitas mengonsumsi informasi, melainkan dapat menjadi mekanisme pelarian (escapism). Kita terus menggulirkan layar bukan semata-mata karena ingin mengetahui sesuatu, tetapi terkadang karena tidak ingin berhadapan dengan apa yang muncul ketika kita berhenti.

Ketakutan terhadap kekosongan semakin diperkuat oleh struktur sosial yang menempatkan produktivitas sebagai ukuran keberhasilan. Filsuf Byung-Chul Han membahas kondisi ini melalui konsep Leistungsgesellschaft, atau masyarakat prestasi.

Dalam masyarakat prestasi, individu tidak hanya dituntut untuk bekerja dan memenuhi ekspektasi eksternal, tetapi juga terdorong untuk terus mengoptimalkan dirinya sendiri. Seseorang diharapkan menjadi lebih produktif, lebih kompetitif, lebih terampil, dan lebih berhasil daripada sebelumnya. Tuntutan tersebut tidak selalu hadir dalam bentuk paksaan dari pihak lain. Seringkali, tuntutan itu telah diinternalisasi sehingga individu mengawasi dan menekan dirinya sendiri.

Salah satu konsekuensinya adalah munculnya perasaan bersalah ketika seseorang merasa tidak produktif. Ketika akhir pekan tiba dan kesempatan untuk beristirahat terbuka lebar, kita justru dapat dihantui pikiran bahwa ada sesuatu yang seharusnya dikerjakan. Waktu luang yang semestinya menjadi ruang pemulihan berubah menjadi sumber kecemasan.

Dalam situasi seperti ini, doomscrolling dapat memberikan ilusi bahwa kita sedang melakukan sesuatu. Kita membaca, melihat, menanggapi, dan menyerap informasi secara terus-menerus. Meskipun aktivitas tersebut tidak selalu menghasilkan manfaat yang nyata, kesibukan itu membuat kita terhindar untuk sementara waktu dari perasaan bahwa kita sedang membuang-buang waktu.

Han juga menyoroti pentingnya kebosanan mendalam (deep boredom) sebagai bagian dari pengalaman manusia yang kian terdesak oleh kehidupan modern. Kebosanan tidak selalu harus segera dihilangkan. Dalam kondisi tertentu, kebosanan justru membuka kesempatan bagi munculnya kreativitas, refleksi, dan pengalaman yang lebih mendalam.

Sayangnya, manusia modern semakin terbiasa mengisi setiap jeda dengan hiburan, pergantian tugas, dan konsumsi informasi. Ketika satu stimulasi berakhir, stimulasi lain segera dicari. Akibatnya, kita semakin sulit memberikan perhatian secara utuh kepada satu pengalaman, termasuk pengalaman sederhana berupa diam dan tidak melakukan apa-apa.

Baca Juga:  Kedaulatan Allah, Kekuasaan Manusia, dan Kerusakan Alam

Paradoksnya, upaya untuk terus menghindari rasa kosong justru dapat memperpanjang kelelahan mental. Kita berusaha mengisi setiap detik dengan aktivitas, tetapi semakin sulit merasakan kepuasan dari aktivitas tersebut.

Dalam jangka panjang, pola hidup yang terus-menerus menuntut keterlibatan dan stimulasi dapat berkontribusi terhadap kelelahan psikologis. Kita berlari dari kekosongan, tetapi pelarian itu justru membuat kita kehilangan kesempatan untuk beristirahat dan memahami diri sendiri.

Jika Heidegger membantu kita memahami hubungan antara teknologi dan cara manusia memandang dunia, sementara Han menjelaskan tekanan produktivitas yang membentuk kehidupan modern, Albert Camus menawarkan sudut pandang eksistensial untuk memahami mengapa manusia begitu gigih mencari pengalihan.

Dalam The Myth of Sisyphus, Camus membahas absurditas sebagai benturan antara hasrat manusia untuk menemukan makna dan dunia yang tidak memberikan jawaban pasti atas hasrat tersebut. Manusia menginginkan kepastian, keteraturan, dan penjelasan, tetapi kehidupan tidak selalu menyediakan jawaban yang sesuai dengan harapannya.

Ketika berhadapan dengan kenyataan tersebut, manusia dapat berusaha menghindari pertanyaan eksistensial yang muncul darinya. Dalam konteks kehidupan modern, kesibukan tanpa henti, budaya kerja berlebihan (hustle culture), dan konsumsi hiburan secara terus-menerus dapat menjadi cara untuk menunda perjumpaan dengan pertanyaan mengenai makna hidup.

Namun, penting untuk memahami bahwa Camus tidak secara harfiah menggolongkan doomscrolling sebagai salah satu bentuk pelarian dari absurditas. Hubungan tersebut merupakan interpretasi terhadap pemikirannya dalam konteks masyarakat digital saat ini.

Melalui perspektif Camus, kita dapat melihat bagaimana seseorang mungkin terus mencari stimulasi bukan karena setiap informasi yang dikonsumsi benar-benar dibutuhkan, melainkan karena berhenti berarti membuka ruang bagi pertanyaan yang lebih mendasar:

“Apakah yang sedang kukejar? Mengapa aku merasa harus terus sibuk? Apa yang sebenarnya kucari ketika membuka layar ponsel?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat terasa tidak nyaman karena tidak selalu memiliki jawaban yang sederhana. Akibatnya, menggulirkan layar menjadi cara yang lebih mudah daripada menghadapi ketidakpastian. Kita memilih sesuatu yang dapat segera mengalihkan perhatian daripada sesuatu yang menuntut keberanian untuk berpikir.

Meskipun demikian, Camus tidak menawarkan keputusasaan sebagai jalan keluar. Ia justru mengajak manusia untuk menyadari absurditas dan tetap menjalani kehidupan tanpa bergantung pada ilusi bahwa semua hal harus memiliki jawaban yang pasti.

Kita dapat melihat gagasan tersebut melalui figur Sisyphus, tokoh mitologi yang dihukum untuk terus mendorong batu ke puncak gunung, hanya untuk menyaksikannya kembali menggelinding turun. Pekerjaan itu berulang tanpa akhir yang definitif. Namun, dalam pembacaan Camus, kesadaran Sisyphus terhadap nasibnya membuka kemungkinan bagi kebebasan batin bahwa ia tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh harapan akan hasil akhir.

Baca Juga:  Kontribusi Ilmuwan Muslim dalam Psikologi

Demikian pula, manusia modern tidak harus selalu mengisi kekosongan dengan informasi, hiburan, atau pencapaian. Kita dapat belajar menerima bahwa tidak setiap jeda harus menghasilkan sesuatu, tidak setiap pertanyaan harus segera dijawab, dan tidak setiap kegelisahan harus langsung dialihkan.

Lantas, apakah kita harus meninggalkan teknologi untuk terbebas dari doomscrolling? Tentu tidak. Persoalannya bukan semata-mata terletak pada keberadaan teknologi, melainkan pada bagaimana teknologi mengambil bagian dalam kehidupan kita dan sejauh mana kita masih memiliki kendali atas perhatian sendiri.

Langkah pertama adalah menyadari alasan di balik dorongan untuk terus membuka layar. Apakah kita benar-benar membutuhkan informasi tersebut, atau sekadar sedang berusaha menghindari kebosanan, kecemasan, dan ketidaknyamanan? Pertanyaan sederhana ini dapat membantu kita membedakan penggunaan teknologi yang disengaja dari kebiasaan yang berlangsung secara otomatis.

Kita juga dapat mulai memberi ruang bagi kesunyian melalui hal-hal sederhana contohnya menikmati waktu tanpa ponsel, berjalan tanpa terus-menerus memeriksa notifikasi, menulis jurnal, membaca dengan tenang, atau membiarkan diri beristirahat tanpa merasa harus mengubah setiap menit menjadi sesuatu yang produktif.

Praktik-praktik tersebut bukanlah solusi instan untuk seluruh persoalan eksistensial manusia. Namun, semuanya dapat menjadi cara untuk membangun kembali hubungan yang lebih sadar dengan waktu, perhatian, dan diri sendiri.

Kebosanan bukanlah sesuatu yang harus selalu disembuhkan dengan stimulasi instan dari layar ponsel. Dalam kondisi tertentu, kebosanan dapat menjadi jeda yang memungkinkan kita mengenali apa yang selama ini tertutupi oleh kebisingan.

Kesunyian memberi kesempatan bagi kita untuk mendengarkan pikiran sendiri, mempertanyakan kebiasaan yang selama ini diterima begitu saja, dan menemukan kembali makna di balik aktivitas sehari-hari.

Di tengah gempuran algoritma yang terus memperebutkan perhatian, kemampuan untuk berhenti sejenak merupakan bentuk kedaulatan atas diri sendiri. Kita tidak harus selalu bereaksi terhadap setiap informasi, mengikuti setiap arus percakapan, atau mengisi setiap ruang kosong dengan sesuatu yang baru.

Pada akhirnya, ketakutan terhadap kekosongan mungkin tidak dapat dihilangkan sepenuhnya. Namun, kita dapat mengubah cara kita menghadapinya. Alih-alih memperlakukan kesunyian sebagai musuh yang harus segera dikalahkan, kita dapat menerimanya sebagai bagian dari pengalaman menjadi manusia.

Seperti Sisyphus yang menemukan kemungkinan kebebasan melalui kesadaran akan bebannya, kita pun dapat belajar menemukan makna bukan dengan terus-menerus melarikan diri dari kehidupan, melainkan dengan berani menghadapinya.

Berhentilah sejenak dari layar. Barangkali, di dalam ruang yang selama ini kita takuti sebagai kekosongan, kita justru akan menemukan kesempatan untuk kembali mengenal diri sendiri.

Editor: Ikrima

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru