back to top
Minggu, Februari 15, 2026

Fenomena Flamingo Era dan Perempuan Berdaya

Lihat Lainnya

Belakangan, muncul istilah fenomena Flamingo Era untuk menggambarkan fase kelelahan perempuan yang seringkali tak terlihat. Sebagai bentuk menyempitnya ruang diri yang dialami perempuan akibat akumulasi tuntutan peran perempuan. Ia merujuk pada kondisi ketika perempuan menjalani berbagai peran secara simultan, antara domestik, professional, dan emosional tanpa ruang pemulihan yang memadai. Kelelahan ini kerap dianggap wajar, seolah menjadi konsekuensi alami dari kodrat atau tanggung jawab yang “sudah seharusnya” dijalani. Akibatnya, kelelahan tidak diperlakukan sebagai sinyal psikologis yang perlu direspons, melainkan sebagai harga yang harus dibayar oleh perempuan.

Metafora flamingo memberi arti dan makna yang sangat kuat. Burung berwarna merah muda cerah yang ketika memasuki fase merawat anak, warna bulunya dapat memudar karena nutrisi tubuhnya banyak diberikan kepada anaknya. Analogi ini kerap digunakan untuk menggambarkan perempuan, khususnya seorang ibu. Seorang ibu akan mengalihkan energi, perhatian, dan sumber dayanya demi pengasuhan (nurturing) dan peran relasional. Flamingo juga dikenal sering berdiri dengan satu kaki, sebuah gambaran tentang perempuan yang tetap dituntut berfungsi, menopang banyak peran sekaligus, bahkan ketika dirinya berada dalam kondisi rapuh.

Di saat bersamaan, Flamingo Era juga memperlihatkan kekuatan perempuan untuk melampaui batas dirinya. Perempuan mampu tetap hadir, dan menjaga keberlangsungan keluarga maupun lingkungan sosialnya, meskipun sering dilakukan dengan menunda kebutuhan personalnya. Realitas ini tidak terlimitasi pada ibu dengan anak balita, Flamingo Era juga dialami oleh perempuan dalam berbagai peran, seperti pendidik, pekerja seni, penulis, pemikir, politisi, pencari nafkah utama keluarga, maupun perempuan lain yang menjalani peran ganda di ranah domestik dan publik. Kelelahan dan perasaan kehilangan diri pada perempuan sering dibicarakan, tetapi jarang benar-benar direspons sebagai kondisi yang juga membutuhkan pemulihan. Akar dari fenomena ini tidak terlepas dari konstruksi sosial budaya yang menempatkan perempuan sebagai penjaga harmoni (nurturing) keluarga dan masyarakat. Bayang-Bayang Peran Perempuan

Baca Juga:  Kumandang Dakwah Sang Pembaharu dari Paciran: Kiai Muhammad Ridlwan Syarqawi

Ketika pengalaman perempuan mulai dituliskan dan dibicarakan secara terbuka, tidak jarang muncul kekhawatiran. Isu-isu yang menyentuh kehidupan perempuan kerap dianggap sensitif dan rawan disalahpahami, sehingga banyak perempuan memilih diam bukan karena tidak memiliki cerita, melainkan karena takut pada stigma, penghakiman, atau luka relasional antarsesama perempuan yang dikenal sebagai sister wound. Padahal, keberagaman pengalaman perempuan memiliki nilai penting untuk memperluas perspektif dan menumbuhkan empati. Ketika kisah-kisah tersebut dihadirkan dengan kesadaran dan kepekaan, berbagi pengalaman bukan menjadi ajang perbandingan, melainkan ruang aman untuk saling belajar, memahami, dan bertumbuh bersama, sejalan dengan hak setiap individu untuk didengar dan dipahami.

Kondisi tersebut berkaitan erat dengan peran lingkungan yang suportif dalam pemulihan dan perlindungan perempuan. Kondisi dimana dukungan sosial berkontribusi besar terhadap kesejahteraan psikologis perempuan, baik lajang maupun menikah. Dukungan ini mencakup legitimasi terhadap pilihan hidup perempuan, termasuk pilihan untuk berkarier. Sebaliknya, ketika budaya patriarki masih menempatkan seluruh beban peran pada perempuan, ruang aktualisasi diri menjadi semakin sempit.

Dalam hierarki kebutuhan Maslow, aktualisasi diri hanya dapat dicapai ketika kebutuhan dasar, rasa aman, dan self-esteem terpenuhi. Ketika ruang ini terus ditekan, perempuan berisiko mengalami kehilangan makna dan identitas sebagai dirinya sendiri, meskipun tubuhnya tetap menjalankan peran. Di titik inilah Flamingo Era menjadi semakin relevan sebagai sinyal psikologis. Kekuatan juga berarti memberi ruang bagi perempuan untuk mengambil jeda, termasuk memilih jalan untuk tetap bisa mengaktualisasikan diri.

Baca Juga:  Yulianti Muthmainnah: Banyak Kekosongan Hukum yang Merugikan Perempuan

Pemulihan Flamingo Era tidak dapat diletakkan sepenuhnya pada individu. Dukungan keluarga dan lingkungan terdekat memegang peran krusial. Keseimbangan antara peran domestik dan publik berkontribusi pada peningkatan kebahagiaan, kesehatan, dan kesuksesan individu. Perempuan yang bekerja dengan sikap positif di lingkungan kerja cenderung memiliki kestabilan peran yang lebih baik dalam kehidupan sosial dan keluarga. Dukungan ini tidak selalu berbentuk tindakan besar. Gestur sederhana seperti memberi kesempatan beristirahat, berbagi peran pengasuhan, atau memvalidasi kelelahan sebagai hal yang wajar, bertanya apa yang saat ini sedang diharapkan oleh perempuan memiliki dampak psikologis. Dukungan tersebut membantu meredakan rasa bersalah yang sering muncul ketika perempuan berupaya merawat diri atau memilih dirinya sendiri. Saat lingkungan menegaskan hak perempuan untuk di dengar, beristirahat, dan memperoleh dukungan, ruang pemberdayaan perempuan-pun terbuka.

Faktor – Faktor Psikologis Yang Mempengaruhinya

Tidak setiap perempuan dapat berupaya kembali dan memilih dirinya, merawat diri, menerima keterbatasan, serta menetapkan batasan yang sehat. Bahayanya, perasaan bersalah juga tidak jarang menyertai perempuan yang dalam kondisi tertentu memilih dirinya. Dalam kajian peran ganda, kondisi ini dipahami sebagai dualitas peran antara ranah domestik dan publik (Wibowo, 2022). Sehingga, Flamingo Era berkaitan erat dengan aspek fundamental kehidupan perempuan, mulai dari pendidikan, pilihan karier, kondisi finansial, hingga posisi perempuan dewasa dalam keluarga dan masyarakat. Lu et al. (2024) serta Ryff (2013) menjelaskan bahwa kesejahteraan psikologis mencakup enam dimensi utama, yaitu penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, kemandirian, penguasaan lingkungan, pertumbuhan pribadi, dan tujuan hidup. Keenam dimensi ini menjadi fondasi penting bagi kesehatan mental jangka panjang.

Baca Juga:  Mencari Solusi Pemerataan Guru di Indonesia

Dalam konteks Flamingo Era, perempuan sering berada dalam konflik batin. Muncul kebutuhan untuk tetap terhubung dengan identitas, potensi, dan makna personal. Ketika perempuan memilih kembali berkarier, berkarya, atau mempertahankan peran profesional, keputusan tersebut kerap dipersepsikan sebagai bentuk pengabaian terhadap peran di dalam keluarga. Padahal, merawat diri tidak selalu berarti meninggalkan peran, melainkan secara sadar mengambil keputusan yang bertanggung jawab dalam menjalani peran tersebut. Kondisi ini juga tidak sepenuhnya dimiliki semua perempuan untuk bisa dengan leluasa mengambil sebuah keputusan untuk dirinya sendiri. Bagi sebagian perempuan, aktivitas profesional bukan semata tuntutan ekonomi, melainkan sumber makna, rasa mampu, dan penghargaan diri. Dalam kerangka kesejahteraan psikologis, keputusan berkarier dapat berfungsi sebagai cara mengisi “tangki cinta” internal, ruang dimana perempuan mampu lebih berdaya atas hidupnya.

Rekomendasi

Pemulihan Flamingo Era seringkali dimulai dari langkah-langkah sederhana, seperti memberi waktu tubuh untuk beristirahat, menetapkan batasan yang sehat, berkomunikasi asertif saat membutuhkan bantuan, atau kembali melakukan aktivitas yang bermakna. Merawat diri bukanlah bentuk “terlalu memprioritaskan kepentingan pribadi”, melainkan kebutuhan dasar agar perempuan dapat hadir secara utuh dalam relasi.

Ketika perempuan mengisi kembali “tangki” dirinya, termasuk melalui hobi, komunitas, karier yang bertujuan untuk aktualisasi diri, kualitas relasi dalam keluarga dan masyarakat dapat menjadi lebih sehat jika, diiringi pehaman yang selaras oleh orang-orang terdekat. Flamingo Era bukan penanda perempuan harus selalu tangguh dalam peran domestik dan publik. Perempuan tidak perlu meminta izin untuk mencintai dirinya sendiri. Ia berhak menemukan kembali warnanya. Karena perempuan menjadi utuh tidak hanya menjalankan peran nurturing, tetapi juga menumbuhkan proses berdaya diri secara sadar.

Editor: Ikrima

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru