Inspiring

Gus Mus: Cinta Harus Kenal!

2 Mins read

Pengasuh pondok pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, KH. Ahmad Musthofa Bisri (Gus Mus), pada sebuah pengajian pernah menceritakan kisah uniknya di awal-awal pernikahan bersama istrinya, almarhum Nyai Siti Fatma.

Ketika Nyai Fatma Memasak Opor Ayam

Suatu hari, Nyai Fatma terlihat sangat ceria. Ia sedang memasak opor ayam spesial untuk makan Gus Mus. Karena saking spesialnya, Nyai Fatma meracik bumbu yang sedap serta sangat kental santannya.

Usai masak, hidangan disajikan di meja makan dan ditata sedemikian rupa bersama nasi dan lauk-pauk yang lain. Nyai Fatma tak sabar masakannya dicicipi suaminya. Dengan harapan akan terucap pujian-pujian manis dari Gus Mus atas masakan yang dibuat khusus untuknya.

Adegan ini adalah adegan biasa yang bisa ditemukan di banyak rumah tangga. Sering sekali hal-hal remeh seperti pujian, kejutan, atau hadiah-hadiah kecil menjadi hiasan yang harmonis antar pasangan.

Meski terlihat remeh, hal ini memang diperlukan. Karena dapat merawat keharmonisan dan hubungan yang komunikatif, hasil dari saling melakukan sesuatu yang sifatnya timbal balik.

Tapi hari itu lain ceritanya. Setelah makan bersama itu Nyai Fatma menangis sejadinya. Beliau menghadap mertuanya, ibunda Gus Mus. Sambil sesenggukan ia mengadu, perihal sikap Gus Mus yang tak acuh di meja makan. Jangankan memuji masakannya, mencicipi barang sesendok pun tidak.

Nyai Fatma kecewa, agaknya terpukul karena sudah menaruh harap lebih pada masakannya hari itu. Pada saat itu juga diberi tahu oleh ibu mertuanya, bahwa Gus Mus sudah sejak dahulu sekali tidak makan segala jenis masakan kuah bersantan.

Bukan maksud untuk tidak menghargai, beliau memang meninggalkan makanan mengandung santan dan sudah terbiasa hanya makan dengan sambal atau tumis.

Baca Juga  Abu Hasan Al-Asy'ari, Penganut Mu'tazilah sebelum Mendirikan Asy’ariyah

Gus Mus: Syarat Utama Mencintai adalah Mengenal

Gus Mus bercerita, mengenang, sambil tertawa. Dari cerita tersebut, beliau ingin mengatakan bahwa syarat utama untuk mencintai adalah mengenal.

Jika seserorang mengenal yang dicintainya, maka ia akan mencintai dengan baik. Jika ia hendak menyenangkan yang dicintai, maka pasti ia akan mengerti mana kesukaan kekasihnya dan mana yang tidak.

Mengenal adalah prinsip dasar untuk mencintai. Seperti cerita tadi, Nyai Fatma belum mengenal baik Gus Mus, maka niatnya untuk menyenangkan Gus Mus malah keliru.

Mengenal adalah kunci dalam mencintai. Bagaimana cara kita mencintai sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita mengenal yang kita cintai. Mengenal dengan baik pasti akan lebih membantu dalam memahami kekasih hati.

Gus Mus lebih lanjut menguraikan bahwa untuk mencintai Allah Swt pun demikian. Terlebih dahulu harus mengenal-Nya dengan baik. Dengan mengenal Tuhannya, maka seorang hamba akan mencintai dengan benar. Untuk menyenangkan Tuhan pun akan ditempuh cara-cara yang diridai oleh-Nya.

Allah Swt tidak berkenan atau melarang dengan tegas seseorang menyakiti, merendahkan, atau menghina seseorang yang lain karena semua manusia bersaudara. Jika ada seseorang, atas nama ingin menyenangkan Allah tapi dengan cara menyakiti liyan, maka cara itu tidak benar.

Membela Nabi tanpa Mencederai Ajaran-ajarannya

Dalam konteks kasus penghinaan kepada Nabi di Perancis baru-baru ini wajar jika umat muslim merasa tercederai. Akan tetapi, kita semua harus selalu bisa mengontrol diri. Jangan sampai kebencian dan kebengisan menguasai hati. Membalas keburukan dengan keburukan yang lain hanya akan menambah fitnah dan salah paham.

Jika kita hendak membela dan menyenangkan Nabi, maka jangan sampai melakukannya dengan cara-cara yang justru dibenci Nabi. Bagaimana bisa seseorang mengaku bertindak atas nama membela Nabi, sedangkan cara-caranya justru mencederai ajaran-ajaran Nabi Saw?

Baca Juga  K.H. Sholeh Darat: Sang Guru Pendiri Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah

Seseorang yang mengenal Allah dan Nabi-Nya dengan utuh tidak akan mudah terprovokasi oleh perbuatan-perbuatan yang dapat menjerumuskan diri sendiri.

Editor: Zahra

3 posts

About author
Seorang laki-laki beradik tiga. Lahir di Demak, 17 Februari 1996. Pernah nyantri di Pesantren Futuhiyyah, Mranggen. Suka membaca dan menulis.
Articles
Related posts
Inspiring

A Luta Continua Ali Shariati

2 Mins read
Pada 19 Juni tahun 1977, jenazah Ali Shariati tiba dari London di Damaskus setelah ditolak keras oleh rezim Shah Pahlevi dimakamkan di…
Inspiring

Belajar Sabar dari Khabib Nurmagomedov

3 Mins read
Tepatnya di tanggal 11 Januari 2025 lalu, jagat media online dihebohkan dengan sebuah video yang memperlihatkan Khabib Nurmagomedov — Atlet petarung MMA…
Inspiring

Mahfud, dari Buruh Pabrik Sritex hingga Intelektual Prolifik

3 Mins read
Saya masih belum percaya jika sahabat saya berpulang. Mendapat kabar berita duka dari WA jika Choirul Mahfud, sahabat saya meninggal dunia. Mahfud…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *