Ibnu Taymiyah: Potret Ulama “Non-negara”

 Ibnu Taymiyah: Potret Ulama “Non-negara”

IBTimes.ID

Ibnu Taymiyah merupakan ulama yang paling sering dirujuk jika kita berhubungan dengan ide-ide pemurnian Islam. Jargon al-ruju’ ila al-Kitab wa al-Sunnah yang ia populerkan pada abad XIII masih bergema hingga hari ini. Ia dilahirkan pada tahun 1263 dengan nama Taqiuddin Ahmad Ibnu Taymiyah. Ulama kelahiran Harran, Syria ini banyak dianggap sebagai tokoh atau figur utama pendiri gerakan Salafisme. Ia dibesarkan dalam tradisi pemikiran keagamaan mazhab Hambali. Pada usia 22 tahun, ia sudah menjadi mahaguru hadits di madrasah-madrasah Damaskus menggantikan ayahnya yang juga seorang pakar hadits. Pada masanya, Ibnu Taymiyah yang memang dikenal jenius itu bahkan melampaui popularitas mahaguru hadist lainnya seperti Ibnu Daqiq al-Id.

Nama Ibnu Taymiyah hari ini sangat asosiatif dengan teori-teori politik Islam. Namanya sering dikutip dalam pamflet syariatisasi negara atau pemerintahan syariah (al-Siyasah al-Syar’iyyah). Menurut Ibnu Taymiyah, negara dan agama tidak dapat dilepaskan. Islam sebagai agama punya misi membangun peradaban yang juga berarti entitas politik. Sebaliknya, entitas politik seperti kerajaan atau negara membutuhkan agama sebagai sumber moral dan hukum.

***

Teori Ibnu Taymiyah ini sebetulnya berakar dari praktik-praktik kekhalifaan dan dinasti Islam yang sudah berlangsung selama beberapa abad. Ibnu Taymiyah menyempurnakannya dengan memperbaiki orientasi politik negara supaya terbebaskan dari penyimpangan moral dan politik. Barangkali itulah sebabnya mengapa tulisan-tulisan Ibnu Taymiyah tentang politik senantiasa berkelindan dengan kritik-kritiknya terhadap praktik bid’ah dan mistik yang diajarkan ulama-ulama kerajaan atau tentang paham-paham Syi’ah.

Ibnu Taimiyah hidup pada masa-masa berakhirnya kejayaan dunia Islam. Banyak biografi menyatakan bahwa ketika Ibnu Taymiyah berusia tujuh tahun, dia terpaksa mengungsi dari kampung halamannya, dan kehilangan satu gerobak berisi buku-buku berharga milik keluarganya. Pengalaman pahit ini akan terus membayangi karir Ibnu Taymiyah sebagai seorang pakar hadits dan teolog. Tentara perang salib Eropa dan tentara Mongol yang menyerang pemukimannya merupakan figur musuh bagi seorang Ibnu Taymiyah muda. Dia kehilangan kebahagiaan dan suasana damai sejak kecil akibat perang dan serangan-serangan yang tidak dia pahami. Fatwa-fatwa Jihad Ibnu Taimiyah berakar pada serangkaian pengalaman buruk masa kecil, fragmentasi politik dunia Islam dan kemunduran-kemunduran sosial serta ekonomi peradaban dinasti Islam. Ibnu Taymiyah mendedikasikan dirinya seperti martir peradaban Islam yang sedang keropos tidak berdaya menghadapi perubahan dunia.

Jenius Radikal yang Menolak Gaji

Kebanyakan hakim (fuqaha) kerajaan kurang begitu suka dengan Ibnu Taymiyah. Mereka menganggap Ibnu Taymiyyah sesat dan suka menuduh orang lain sebagai ahli bid’ah. Ia terlampau sering dijebloskan ke penjara karena sikap politik dan keagamaannya yang dianggap meresahkan masyarakat. Tapi perlu dicatat bahwa debat-debat pertanggungjawaban intelektual Ibnu Taymiyah di pengadilan selalu ia menangkan. Kemampuan itu sudah diasahnya sejak kecil. Selama masa-masa belajar pada usia remaja, Ibnu Taymiyah menenggelamkan diri membaca dan menghafal kitab-kitab.

Ibnu Taymiyah nyaris tidak pernah satu kali pun pernah kalah dalam debat. Tapi ia dikenal sangat sensitif dan emosional. Qamaruddin Khan menulis, “Ibnu Taymiyah sering mencela mereka [penentangnya] dengan ucapan-ucapan pedas seperti benar-benar bodoh! atau beginilah akibatnya karena kurang mengerti!”. Barangkali reaksi-reaksi emosional Ibnu Taymiyah ini juga yang turut memperumit polemik dan menimbulkan kebencian atas dirinya sendiri.

***

Sepanjang karir dewasanya sebagai seorang pengajar, teolog dan penulis produktif, dia dianggap sebagai figur kontroversial karena seruan politik, fatwa maupun tulisan-tulisan yang dibuatnya. Begitu pula dengan sepak terjang politiknya menghadapi kelompok-kelompok yang ia anggap sesat. Tapi ia sangat disegani murid, kawan dan lawan hingga pejabat-pejabat kerajaan. Ia sering diminta saran oleh pejabat-pejabat kerajaan tentang siapa saja yang pantas menjabat suatu bidang tertentu dalam birokrasi pemerintahan.

Pengaruhnya kian luas di kalangan kerajaan. Terkadang pengaruh ini bermanfaat bagi dirinya dalam menghadapi para filsuf dan pengikut aliran mistisisme atau orang-orang Syi’ah yang dianggapnya sumber kemunduran dunia Islam. Ibnu Taymiyyah seringkali membujuk pasukan tentara mamluk supaya menumpas dua kelompok tersebut. Ia berulang kali ditawarkan jabatan dan posisi istimewa, tapi ditolaknya. Ia menolak menjadi “ulama Negara” atau konsultan raja dan bangsawan. Lebih jauh lagi, jika kebanyakan mahaguru agama atau ulama saat itu menerima gaji dari negara, ia justru menolak. Ia memilih hidup sederhana dan membiayai diri dari hasil mengajar.

Sebetulnya sejak dinasti Umayyah berkuasa, ada kecenderungan pada ulama atau mahaguru keagamaan sejak abad ke XI untuk menghindari kontak dengan penguasa dan menerima hadiah atau gaji. Jadi sikap Ibnu Taymiyah bukanlah suatu yang sangat khas. Al-Ghazali (1058-1111 M) ulama asal Persia bahkan mengatakan wajib bagi para ulama untuk menjauhi penguasa karena  itu cara menjaga kesucian agama. Kenyataan ini ditopang oleh model kekuasaan dinasti Umayyah yang dianggap Al-Ghazali menyimpang dari tradisi politik Islam. Kekuasaan yang didasarkan pada hubungan kekerabatan dan diwariskan turun temurun bukan merupakan bentuk otoritas Islam. Sikap Ibnu Taymiyah bisa dianggap sebagai moral historis yang biasanya dikembangkan oleh pemikir bentuk Islam al-Salaf al-Shalih.

Aktivisme Ibnu Taymiyah

Mengapa Ibnu Taymiyah menjadi teoretisi penting aktivisme Islam yang kini dikenal dengan beragam nama mulai dari salafisme, wahhabisme, dan Islamisme? Jawaban utamanya terletak pada aktivisme dakwah dan politik yang dilakukannya. Ia punya kontribusi besar dalam propaganda perlawanan terhadap invasi tentara Mongol di Syria melalui seruan-seruan jihad. Kebencian Ibnu Taymiyah pada orang-orang Mongol berhasil dibalasnya pada perang Syaqhab tahun 1302-1303 (Khan, 1973). Ibnu Taymiyah sukses memompa semangat tentara Syria dan Mesir memukul mundur pasukan Mongol. Keberhasilan ini berangkat dari pengamatan sederhananya bahwa pasukan Mongol menjelang akhir abad XIII itu bukanlah kekuatan militer yang berbahaya lagi.

Keterlibatannya dalam pergolakan politik dan perang melawan tentara Mongol menginspirasi banyak aktivis Islam abad XVIII dan XIX. Salah satunya ialah aktivis dari Najd bernama Muhammad Ibn Abd Wahhab (1703-1792), pendiri gerakan Wahhabi. Ibnu Taymiyah menjadi sandaran dan pijakan utama dalam merumuskan perlawanan terhadap pemimpin muslim yang dianggap tidak melaksanakan syariat Islam. Ada kemiripan antara konteks perang Ibnu Taymiyah terhadap tentara Mongol dan gerakan Abdul Wahhab memberantas praktik bid’ah masyarakat Arab di bawah kekuasaan Turki Usmani. Kesamaan itu berangkat dari kekecewaan yang berbau moralis. Ibnu Taymiyah kecewa pada penguasa dan tentara Mongol yang sudah masuk Islam tapi tetap menyerang desa-desa orang Islam di Syiria. Sementara Abdul Wahhab kecewa pada pemerintah Turki Usmani yang membiarkan praktik bid’ah merajalela di kalangan masyarakat Arab.

***

Aktivisme jihad perang Ibnu Taymiyah melawan bangsa Mongol berakar dalam konteks masyarakat marjinal yang tertindas. Sejak kecil Ibnu Taymiyah telah tumbuh sebagai korban invasi militeristik orang-orang Mongol. Trauma itu kian bertambah dengan kenyataan bahwa praktik-praktik keagamaan masyarakat muslim sama sekali tidak mendorong pada kemajuan negara. Ide-ide jihad Ibnu Taymiyah bersumber dari konteks psikologis dirinya sebagai korban militer Mongol, hukuman-hukuman penjara sebagai fase radikalisasi politik, dan kemuakannya pada ulama-ulama negara yang mengabaikan nasib serta penderitaan kaum muslim. Ibnu Taymiyah lahir dan berkembang pada masa-masa transisi dunia Islam yang kian sulit akibat perebutan kekuasaan yang tidak kunjung membaik.

Ide-ide teologis dan politik Ibnu Taymiyah bisa dianggap belum selesai. Ia memang menganjurkan kewajiban jihad perang, tapi tidak pernah menyerukan untuk mendirikan negara Islam ala empat khalifah (al-khulafa al-Rasyidin). Ia memang membolehkan memerangi penguasa muslim, tapi dalam konteks melawan penguasa kejam. Ia juga memang memerangi praktik bid’ah, tapi siap berdebat melalui tulisan dan pengetahuan serta tidak gentar menghadapi hukuman. Ibnu Taymiyah harus diletakkan sebagai subjek historis pada masa dan pergolakan zamannya. Ia barangkali menginspirasi atau kontroversial, tapi yang lebih penting daripada itu semua, ia merupakan pengalaman zaman dunia Islam yang tengah bergolak dan menuntut refleksi kritis.

Fauzan Anwar Sandiah

Penggiat Rumah Baca Komunitas (RBK), Yogyakarta. Mahasiswa Program Doktor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *