Tarikh

Ibrah Kisah Nabi Nuh AS: Manusia Berusaha, Allah Penentu Hasilnya

4 Mins read

Nabi Nuh AS, sebelum diutusnya menjadi Rasulullah, hiduplah orang-orang saleh yang sangat dicintai oleh kaumnya. Mereka adalah Wad, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr. Kecintaan yang berlebihan ini tak lama beralih menjadi kesedihan yang mendalam. Peralihan perasaan ini terjadi tatkala ke-lima orang saleh itu meninggal dunia. 

Dalam kondisi seperti ini, setan tidak mau tinggal diam. Suasana yang demikian menjadi peluang untuk melancarkan misinya. Sebuah misi yang telah diikrarkan oleh nenek moyangnya ketika dahulu diusir dari surga. Misi mencari teman sebanyak-banyaknya untuk menemani mereka esok di neraka.

Setan membisikan ke telinga kaum yang sedang berduka untuk membuat patung-patung dalam rangka mengenang kepergian orang-orang salih yang sangat dicinta. Waktu terus berlalu, hingga generasi para pembuat patung itu meninggalkan dunia. Awalnya, tidak ada penyimpangan yang terjadi.

Namun, penyimpangan dilakukan oleh anak cucu yang mereka tinggalkan. Patung-patung yang sebelumnya hanya sebatas digunakan untuk mengenang orang-orang salih itu, pada generasi ini berubah menjadi berhala sesembahan. Oleh karenanya, Syaikh Salih Fauzan dalam kitab tauhidnya menyebutkan bahwa pada generasi inilah kesyirikan mulai muncul di muka bumi.

Kerasulan Nabi Nuh AS

Perlahan tapi pasti, kesyirikan mulai merambat di atas muka bumi. Oleh karenanya, Allah mengutus seorang laki-laki dari kaum itu menjadi nabi sekaligus rasul. Ia bernama Nuh AS. Misi yang diemban oleh Nuh AS ialah seruan untuk mentauhidkan Allah SWT dan menghilangkan kesyirikan yang ada pada kaumnya. Setelah mendapatkan amanah kerasulan dari Rabb-nya, dakwah pun menjadi aktivitas utamanya.

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya”. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).” (al-A’raf: 59)

Halangan dan Rintangan dalam Berdakwah

Dakwah itu tidak mudah. Butuh pengorbanan yang tidak sedikit adanya. Mulai dari tenaga, harta, pikiran, hingga perasaan. Halangan dan rintangan pun selalu mengiringi setiap langkah. Demikian halnya yang didapatkan oleh Nuh AS di dalam mengemban misi kenabian. Alih-alih menerima dakwahnya dengan lapang dada. Mendengarkan untaian nasehat yang keluar dari mulutnya saja,  enggan dilakukan kaumnya. Kecuali bagi segelintir orang saja dari golongan dhuafa. Menerima dengan sepenuh hati kenabian nabi Nuh As. Yang kemudian diikuti dengan ketaatan kepada Rabbnya.

Baca Juga  Sebelum Tragedi Penusukan Umar bin Khattab

Golongan mayoritas tidak tinggal diam tatkala melihat sebagian orang dari mereka menjadi pengikut setia Nuh As. Rencana jahat pun segera disusun untuk dilancarkan. Celaan, hinaan, hingga siksaan,  didapatkan oleh orang-orang yang beriman. Pernah suatu ketika, sebagian orang kaya mendatangi Nabi Nuh As dan meminta kepadanya untuk mengusir pengikutnya yang berasal dari golongan fakir miskin. 

Supaya mereka yang berasal dari golongan agniya mau mendengarkan dakwahnya. Namun Nabi Nuh menolak mentah-mentah permintaan mereka. Karena di dalam ajaran yang dibawa olehnya,  tidak mengenal pembedaan kasta. Semua sama di mata Allah Ta’ala.

Nuh berkata: “Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui”.

Dan (dia berkata): “Hai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah jika aku mengusir mereka. Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran? (QS. Hud:29-30)

Manusia Hanya Mampu Berusaha

950 tahun lamanya nabi Nuh As diberikan kesempatan untuk mendakwahkan risalah Ilahi. Jelas bukan waktu yang singkat. Pahit-manisnya perjuangan tentu hampir setiap hari ia rasakan. Sepahit apapun kerasnya perjuangan, akan terasa manis saat apa yang diharapkan berhasil didapatkan.

Demikian pula Nabi Nuh As yang juga mengharapkan orang-orang yang dicintainya supaya mau mengikuti ajaran yang dibawanya. Karena ia tau bagaimana kabar gembira bagi mereka yang memilih untuk mengikutinya, pun ancaman bagi mereka yang mendurhakainya.

Hidayah memang mahal, dan tidak ada yang menjual. Sekaya apapun orangnya, setinggi apapun jabatannya, jika Allah tidak menghendaki hidayah untuk mereka, mustahil mereka akan memilikinya. Bahkan, sang putra sebagai orang yang paling dekat dengan nabi Nuh As sekalipun, tak mendapatkannya. Hal ini menegaskan bahwa sekuat apapun ikhtiar yang dilakukan oleh manusia, tetaplah Allah yang berkuasa di atas segalanya.

Baca Juga  Pemilihan Khalifah Abu Bakar Sebagai Khalifah itu Objektif!

Kaum yang Besar Kepala

Tingkah kaum Nabi Nuh As semakin hari semakin menjadi-jadi. Bukan sekadar hinaan dan celaan semata terhadap nabi Nuh As dan pengikutnya. Fitnah dan berbagai tuduhan mulai dialamatkan kepada nabi Nuh As. Segala nikmat yang dimiliki kaum kafir nampaknya telah membutakan mata mereka dari kebenaran.

Dengan pongahnya, mereka merasa tiada yang sanggup mengalahkannya. Sampai-sampai tantangan terhadap utusan Allah dilakukan oleh kaum yang melampaui batas ini. Sebuah tantangan untuk mendatangkan azab atas mereka. 

“Mereka berkata: ‘Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami adzab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.’ Nuh menjawab: ‘Hanyalah Allah yang akan mendatangkan adzab itu kepadamu jika Allah menghendaki dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri. Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Rabbmu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan” (QS. Hud: 32-34)

Pengetahuan Manusia itu Terbatas

Nabi Nuh As mengadu kepada Rabbnya tentang kaumnya yang semakin hari semakin keras kepala. Akhirnya, Allah SWT memerintahkannya untuk membuat kapal. Membingungkan pastinya, mengapa Allah memerintahkan untuk membuat kapal di tengah padang Sahara. Namun, bagi orang-orang yang beriman, tidak ada keraguan baginya.

Karena mereka yakin, bahwa selalu ada hikmah di balik setiap perintah Rabb-nya. Berbeda dengan kaum kafir yang menyaksikan peristiwa ini. Kesombongannya pun semakin menjadi. Hujatan, celaan,  dan tertawaan ditujukan kepada orang-orang yang beriman. Tidak masuk akal memang, tapi siapa yang tahu rahasia Ilahi?

Tragedi Pun Terjadi atas Kehendak-Nya

Kapal yang besar pun telah jadi. Nabi Nuh As mengetahui bahwa banjir besar akan segera terjadi. Ia menyuruh segenap kaum mukminin untuk bergegas menaiki kapal tak lupa dengan membawa hewan-hewan ternak mereka.

Baca Juga  Nabi Ibrahim AS (1): Keistimewaan dan Keterpilihan

Tak lama kemudian, hujan deras berjatuhan dari atas langit. Mata air di bumi pun turut memancarkan airnya dengan kuat. Air mulai menggenang di mana-mana. Orang-orang beriman selamat, karena berada di atas kapal yang dinaikinya.

Namun, Nabi Nuh As masih merasakan kesedihan. Bukan karena melihat pengikutnya yang masih tertinggal dan belum naik kapal bersamanya, namun sedih karena putranya tidak mau mengikuti ajakannya.

Bagaimanapun, sebagai seorang ayah, tetap menginginkan keluarganya selamat dari marabahaya. Tapi apadaya, usaha telah dilakukan sekuat tenaga. Dan anaknya tetap berada pada pendiriannya. Sehingga ia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang celaka.

Anak Nabi Nuh As berkata: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (QS. Hud:43)

Setelah tragedi banjir bandang terjadi. Binasalah kaum yang mengingkari ajaran Nabi Nuh AS. Termasuk putra kesayangannya. New Normal pun, diterapkan kembali. Selanjutnya, Nabi Nuh menghabiskan sisa waktunya untuk melanjutkan dakwahnya. Sampai panggilan untuk menghadap Rabbnya tiba.

Print Friendly, PDF & Email
5 posts

About author
Mahasantri Pondok Hajjah Nuriyyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta
Articles
Related posts
Tarikh

Kisah Junaid Al-Baghdadi Berguru kepada Orang Gila

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Nalar dalam dunia sufi, seringkali bertolak belakang dengan kesadaran kaum awam. Namun, ketidaklaziman tersebut bisa dipetik hikmah…
Tarikh

Ketika Kata Jihad "Disalahgunakan" Saat Perang Dunia 1

2 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Sejak Islam berkembang dan muncul sebagai agama yang membawa peradaban. Istilah jihad telah begitu fenomenal di seluruh…
Tarikh

Islamisasi dan Kolonialisasi Perancis di Republik Afrika Tengah

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Republik Afrika Tengah merupakan negara lebih kecil dari Texas (Amerika Serikat) dan berada di tengah benua Afrika…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *