Islam tidak Pernah Membenarkan saling Mencaci Maki - IBTimes.ID
Essay

Islam tidak Pernah Membenarkan saling Mencaci Maki

3 Mins read

Ada yang aneh dari masyarakat kita hari ini. Di saat semuanya berlomba-lomba memuja simbol, seolah-olah apa yang kita lihat, adalah sebuah bentuk kebenaran sejati. Kita melihat orang yang memakai mobil adalah orang kaya, padahal kita tidak tahu bahwa ternyata mobil tersebut didapatkan dari kredit yang sampai bertahun-tahun belum lunas, belum lagi dengan kehidupan lain. Kita menganggap orang itu baik jika terlihat dengan pakaian sopan, sarung, memakai kopyah, dan atribut agama lainnya.

Seolah-olah orang yang memakai celana sobek dengan badan penuh tato melambangkan orang yang penuh dosa tanpa ampunan. Padahal tidak sesederhana itu penglihatan yang kita miliki. Belum lagi dengan persoalan sosial, konflik kesatuan  dan persatuan yang dipadupadankan dengan agama, membuat keadaan semakin rumit. Hari ini, suguhan candaan dan masalah yang dibenturkan agama membuat kita bersitegang satu sama lain. Ini masalah sensitif dan akan memicu kemarahan publik. Sebab hidup di negara yang menganut agama ini, akan menjadi masalah ketika sebuah masalah diframing atas nama agama.

Pandangan Masyarakat

Barangkali ini menjadi salah satu alasan Nietczhe mengatakan bahwa “Tuhan sudah mati” sebagai lambang kekecewaan atas manusia yang mengaku beragama tapi ia sendiri melupakan Tuhannya. Barangkali ini juga menjadi kegelisahan Marx yang mengatakan bahwa “Agama adalah candu” sehingga membuat masyarakat semakin terlena oleh ajaran-ajaran yang dibalut dengan agama. Pun hampir tidak ada bedanya dengan kejadian yang kita alami saat ini. Kepulangan Imam Besar Habib Riziq Shihab, sebutan hormat dari pengikutnya, menjadi babak baru perjalanan konflik yang terjadi pada hari ini.

Banyak hal yang bisa diutarakan untuk menggambarkan kondisi saat ini. Keadaan dilema datang dari berbagai kalangan akan dikhawatirkannya pertumpahan darah, kemudian mengakibatkan runtuhnya persatuan dan kesatuan NKRI. Namun, ada hal aneh yang masih dipertahankan olah para pengikut Imam Besar HRS. Kesadaran semacam ini perlu kiranya ditulis melalui catatan kecil ini untuk menggambarkan ajaran Islam yang tidak pernah mengajarkan untuk melukai sesama, terlebih mengajarkan peperangan hanya untuk eksistensi belaka.

Islam untuk Seluruh Manusia tanpa Terkecuali

Melalui video ceramah Imam Besar HRS dengan durasi beberapa menit yang tersebar di berbagai media sosial, dakwah yang eksis dan sangat melecehkan satu pihak, serta menyebut buruk beberapa pihak sangat tidak menggambarkan ajaran dakwah yang dijalankan oleh Rasulullah. Kita bisa melihat bagaimana Rasulullah pernah suatu ketika, sangat menghormati dan memuji seorang mantan pelacur yang memiliki masalalu buruk. Rasulullah sama sekali tidak menganggapnya kotor, apalagi mengatakan hal buruk kepadanya.

Tidak hanya itu, Al-Quran jelas melarang perilaku yang suka mencaci maki atau mengolok-olok itu dalam suarah Al-Hujurat ayat 11, artinya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka yang diolok-olok itu lebih baik dari yang mengolok-olok. Janganlah wanita mengolok-olok wanita yang lain karena boleh jadi wanita yang diolok-olok itu lebih baik dari yang mengolok-olok. Janganlah kamu saling mencaci maki dan memberi nama ejekan…” (QS. Al-Hujurat:11).

Ayat ini hanya bagian kecil dari berbagai ayat yang difirmankan oleh Allah Swt sebagai bentuk peringatan kepada umatnya untuk menjauhi perbuatan mencaci maki. Sebab tidak akan bertambah kemuliaan bagi orang yang mecaci atas makin yang dilimpahkan kepada orang lain.

Artinya, Al-Quran melarang keras praktik mencaci maki, megumpat, menggunjing apalagi menjadikan cacian sebagai bagian dakwah yang akan diikuti oleh masyarakat. Apalagi dengan berbagai kemampuan yang dimiliki oleh seseorang yang tidak sama. Bisa saja, ajaran dakwah dengan mencaci maki disebutnya sebagai bagian dari Islam memperlakukan manusia. Padahal, ia sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam.

Dakwah yang Diajarkan Rasulullah

Dakwah semacam itu tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah dalam menyebarkan ajaran Agama Islam. Pernah suatu ketka dalam perjalanan dakwahnya, ketika adzan tiba ada beberapa laki-laki yang mencoba meniru suara adzan dengan menghinanya, Rasulullah justru tidak menunjukkan kemarahannya. Justru ia mendoakan para lelaki tersebut dan dibimbing untuk belajar adzan. Kita bisa belajar bagaimana Rasulullah tidak pernah membalas sebuah kebencian dengan kebencian, tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, seluruh dakwah Rasulullah tidak pernah melukai orang lain, sekalipun itu musuhnya.

Sebagai umat yang tinggal dan berpenghuni di negara plural ini. Kita perlu belajar untuk menerima perbedaan pendapat. Kita perlu menyadari perbedaan antara kritik atas ideologi dan serangan personal, dan perbedaan antara membela prinsip-prinsip mulia atau memperomosikan ide-ide yang keji.

Barangkali sebagai sebuah penutup, jika kita bukanlah bagian dari orang yang memiliki pengetahuan agama yang luas. Setidaknya kita perlu sadar. Mana mungkin seorang Imam besar, Ulama yang memiliki pengetahuan agama yang tinggi mengajarkan sebuah kebencian pada orang lain, mengajarkan Islam dengan cara yang tidak santun dan melukai hati orang lain? Bukankah ia memahami agama lebih dari yang kita pahami? Seharusnya yang menjadi pegangannya adalah Al-Quran dan Hadis, bukan egonya semata. Wallahu a’lam

Editor: RF Wuland

Related posts
Essay

LiteraTour: Membentuk Kader Perdamaian dengan Metode Literation Cycle

4 Mins read
Al-Qur’an merupakan pedoman ajaran agama Islam. Al-Qur’an berisikan pesan, tuntunan dan jalan terbaik dari Allah SWT yang tiada hentinya dilakukan proses telaah…
EssayWacana

Muhammadiyah dan Politik Keumatan

3 Mins read
Muhammadiyah mampu bertahan melintasi ruang dan waktu “karena mengikuti kaidah Agama Islam serta sesuai dengan harapan zaman kemajuan” (SM No 2, 1915)….
Essay

6 Keteladanan Sebagai Mukmin yang Harus Dibangun

4 Mins read
Salah satu aspek terpenting dalam kehidupan manusia yang sekaligus menjadi perhatian besar agama Islam adalah aspek keteladanan (al-Qudwah). Bahwa dalam hidupnya manusia…

Tinggalkan Balasan