Di ruang-ruang keberagamaan kita, kata karamah sering bergaung lebih nyaring daripada kata takwa. Orang terpesona pada kisah-kisah menembus ruang, membaca isi hati, kebal senjata, atau mengetahui hal gaib. Di banyak tempat, figur yang dianggap memiliki kemampuan “diluar nalar” dielu-elukan sebagai wali. Ironisnya, tak jarang yang dielu-elukan itu justru longgar dalam ibadah, problematik dalam akhlak, bahkan terseret kasus moral atau finansial.
Apakah benar kewalian identik dengan fenomena spektakuler? Ataukah kita sedang terjebak dalam romantisme mistik yang menjauh dari fondasi Qur’ani?
Al-Qur’an memberi parameter yang sangat jernih tentang siapa itu wali Allah. Firman-Nya dalam QS Yunus: 62–63:
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ ٱللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
ٱلَّذِينَ آمَنُوا۟ وَكَانُوا۟ يَتَّقُونَ
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.”
Ayat ini nyaris tidak menyisakan ruang tafsir yang liar. Definisinya lugas: wali adalah orang beriman dan bertakwa. Tidak disebutkan mampu terbang. Tidak disebutkan bisa menggandakan uang. Tidak disebutkan kebal penyakit. Kewalian ditautkan pada kualitas iman dan konsistensi takwa.
Karamah: Efek Samping, Bukan Tujuan
Para mufasir klasik seperti Ibn Kathir dan Al-Tabari sepakat bahwa “lā khawf ‘alaihim” bukan berarti para wali kebal musibah, tetapi memiliki ketenangan batin karena iman. Sementara Fakhr al-Din al-Razi menekankan bahwa maqam kewalian adalah hasil konsistensi spiritual, bukan hasil pertunjukan keajaiban.
Dalam hadis qudsi riwayat Abu Hurairah yang tercantum dalam Sahih al-Bukhari, Allah SWT berfirman bahwa hamba mendekat kepada-Nya dengan menunaikan yang wajib, lalu memperbanyak yang sunnah hingga dicintai. Tidak ada satu kalimat pun yang menjadikan karamah sebagai syarat kewalian.
Tradisi tasawuf yang sehat pun menempatkan karamah sebagai efek samping, bukan tujuan. Banyak sufi besar menyembunyikan pengalaman spiritualnya. Bahkan terdapat ungkapan masyhur dalam khazanah tasawuf: istiqamah lebih tinggi daripada seribu karamah. Artinya, konsistensi dalam ketaatan jauh lebih mulia daripada fenomena luar biasa.
Pendekatan Bayani: Teks yang Tegas
Pendekatan bayani, yakni kembali pada teks, memberi kesimpulan jelas: indikator kewalian adalah iman dan takwa. Dalam QS Al-Isra: 70, Allah menyatakan bahwa seluruh anak Adam dimuliakan. Kemuliaan manusia terletak pada akal, tanggung jawab moral, dan kapasitas etik. Maka jika seseorang mempertontonkan hal aneh tetapi merendahkan akhlak, sesungguhnya ia sedang merusak kemuliaan yang Allah berikan.
Teks-teks agama tidak pernah memerintahkan pengkultusan individu. Justru Islam datang untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia.
Pendekatan Burhani: Nalar yang Tidak Boleh Mati
Di era modern, pendekatan burhani yang rasional dan kritis menjadi penting. Banyak fenomena yang dulu dianggap gaib kini bisa dijelaskan oleh psikologi massa, hipnosis, teknik sulap, atau manipulasi digital.
Media sosial memperparah situasi. Video “karamah” bisa diedit. Testimoni bisa direkayasa. Narasi bisa dibingkai dramatis. Dalam masyarakat yang sedang mengalami krisis otoritas dan kepercayaan, figur karismatik dengan aura mistik mudah sekali tumbuh.
Kita telah menyaksikan di Indonesia bagaimana beberapa tokoh spiritual dielu-elukan sebagai wali karena klaim kemampuan supranatural, namun kemudian terseret kasus penipuan, kekerasan, atau pelecehan. Ada pula praktik “penggandaan uang”, “air berkah”, atau “pengobatan gaib” yang pada akhirnya terbukti manipulatif. Fenomena seperti ini bukan sekadar soal hukum, tetapi soal teologi yang disalahpahami.
Dalam khazanah Islam sendiri dikenal konsep istidraj: kenikmatan atau keistimewaan yang justru menjadi jalan penyesatan. Sesuatu yang luar biasa tidak otomatis berarti diridai Allah. Akal adalah karunia ilahi. Mematikannya atas nama takzim justru mengkhianati kemuliaan manusia yang ditegaskan Al-Qur’an.
Pendekatan Irfani: Spiritualitas yang Otentik
Namun kewaspadaan rasional tidak berarti menafikan dimensi spiritual. Pendekatan irfani, pengalaman batin tentu tetap penting. Islam bukan agama kering. Ia memberi ruang bagi kedalaman ruhani.
Tetapi spiritualitas otentik selalu berbuah akhlak. Jika seseorang mengaku dekat dengan Allah tetapi mudah marah, manipulatif, gemar mengontrol pengikut, atau kebal kritik, maka ada yang salah dalam spiritualitasnya. Kewalian yang sejati justru sering sunyi. Ia tidak viral. Ia bekerja dalam keheningan: mendidik, menolong, menguatkan, menebar maslahat.
Di Indonesia hari ini, mungkin wali Allah itu bukan yang trending di TikTok, melainkan guru yang setia mengajar di pelosok, dokter yang melayani tanpa diskriminasi, atau ulama yang menolak politisasi agama meski ditekan. Karamah mereka bukan melipat ruang, tetapi melipat ego.
Mengapa Kultus Mudah Tumbuh?
Kultus individu lahir ketika agama direduksi menjadi simbol dan sensasi. Ketika literasi agama lemah, masyarakat mencari shortcut spiritual. Mereka ingin yang instan, yang spektakuler, yang memuaskan imajinasi.
Padahal Islam adalah agama keseimbangan. Ia memadukan iman dan akal, teks dan konteks, syariat dan hakikat. Ketika salah satu dimensi dihilangkan, misalnya nalar kritis, agama mudah menjadi ladang eksploitasi. Kita perlu bertanya dengan jujur: apakah kekaguman kita pada “karamah” lahir dari cinta kepada Allah, atau dari keinginan memiliki figur yang terasa sakti dan memberi rasa aman psikologis?
Kewalian di Era Sains dan Teknologi
Di tengah kemajuan kecerdasan buatan, bioteknologi, dan sains modern, konsep karamah tidak otomatis usang. Tetapi ia harus dipahami secara dewasa. Kita bisa mengambil ibrah pada apa yang disampaikan Wahbah al-Zuhayli dalam al-Tafsīr al-Munīr ketika menafsirkan QS Yunus: 62–63. Dalam tafsir tersebut, menegaskan bahwa:
• Wali Allah SWT adalah orang yang beriman dan bertakwa.
• Kewalian tidak terbatas pada kelompok tertentu.
• Tidak disyaratkan adanya karamah.
• Inti kewalian adalah istiqamah dalam iman dan ketaatan.
Beliau menjelaskan makna ayat itu secara lugas: bahwa setiap mukmin yang benar imannya dan konsisten dalam ketakwaannya termasuk dalam kategori wali Allah.
Artinya kita bisa mengatakan dengan mantab:
فكلُّ من كانَ تقيًّا كانَ للهِ وليًّا
“Maka semua orang yang bertakwa Adalah wali bagi Allah SWT”
Karamah bukan kompetitor sains. Ia bukan juga pengganti kerja keras. Jika ada orang mengaku wali tetapi anti-ilmu, anti-kritik, dan anti-transparansi, maka itu tanda bahaya. Maka lihatlah, apakah ia bertakwa atau tidak.
Kewalian di era modern justru tampil dalam bentuk integritas:
• Jujur di tengah budaya korupsi.
• Adil di tengah polarisasi politik.
• Rendah hati di tengah budaya pencitraan.
• Konsisten ibadah di tengah distraksi digital.
Itulah karamah yang relevan hari ini: kemampuan menjaga nurani ketika semua orang tergoda menjualnya. Itu semua adalah implementasi takwa.
Menyikapi dengan Seimbang
Sikap yang proporsional adalah:
- Mengimani kemungkinan karamah tanpa menjadikannya standar kewalian.
- Mengukur seseorang dengan iman, takwa, dan akhlaknya.
- Menolak pengkultusan yang menutup ruang kritik.
- Menghidupkan literasi agama yang sehat.
Kita tidak perlu sinis terhadap spiritualitas. Tetapi kita juga tidak boleh naif.
Kembali pada Inti
Ayat QS Yunus 62–63 menutup polemik ini dengan kesederhanaan yang agung. Wali Allah adalah orang beriman dan bertakwa. Titik.
Jika ada seseorang yang ibadahnya bermasalah, akhlaknya buruk, tetapi dielu-elukan karena cerita-cerita ganjil, maka kita patut bertanya: apakah kita sedang memuliakan takwa, atau sedang memuja sensasi?
Barangkali zaman ini tidak kekurangan “karamah”, tetapi kekurangan istiqamah. Tidak kekurangan tokoh viral, tetapi kekurangan teladan yang sunyi.
Pada akhirnya, kewalian bukan tentang melampaui hukum alam. Ia tentang menundukkan diri pada hukum Allah. Bukan tentang membuat orang terkesima, tetapi tentang membuat diri sendiri takut dan tunduk kepada-Nya. Dan mungkin, di situlah karamah terbesar: ketika seseorang mampu menjaga iman dan takwa di tengah dunia yang riuh oleh panggung dan pencitraan.
Editor: Ikrima


