Setiap Ramadhan datang, grafik konsumsi ikut menanjak. Pasar ramai, dapur berdenyut, dan meja berbuka penuh warna. Ironisnya, di balik keberkahan itu, volume sampah juga melonjak—terutama sampah makanan dan plastik sekali pakai. Data dari berbagai kota besar di Indonesia menunjukkan pola berulang: Ramadhan identik dengan surplus pangan sekaligus surplus limbah. Di sinilah sebuah pertanyaan etis mengemuka: apakah puasa kita benar-benar menumbuhkan takwa, jika pada saat yang sama bumi justru menanggung beban lebih berat?
Ramadhan sejatinya bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan proyek besar pembentukan kesadaran—taqwa. Al-Qur’an menegaskan tujuan itu secara eksplisit: la‘allakum tattaqūn (QS. al-Baqarah: 183). Namun, jika takwa hanya berhenti pada relasi vertikal antara manusia dan Tuhan, sementara relasi manusia dengan alam diabaikan, maka puasa kehilangan sebagian ruhnya. Di sinilah ekoteologi menjadi kacamata penting untuk membaca ulang makna Ramadhan.
Konsumsi, Sampah, dan Paradoks Ramadhan
Secara sosiologis, Ramadhan menghadirkan paradoks. Puasa mengajarkan pengendalian diri, tetapi budaya konsumsi justru meningkat. Émile Durkheim menyebut agama sebagai sistem yang membentuk solidaritas sosial dan mengatur hasrat kolektif. Namun dalam konteks modern, ritus keagamaan sering kali dibajak oleh logika pasar. Ramadhan menjadi “musim puncak konsumsi”—diskon besar, takjil melimpah, dan pesta kuliner berbuka.
Peter L. Berger menyebut proses ini sebagai sakralisasi semu—yang sakral tampak religius, tetapi digerakkan oleh struktur profan ekonomi. Akibatnya, puasa kehilangan daya kritiknya terhadap keserakahan dan pemborosan. Padahal, Rasulullah SAW mencontohkan hidup sederhana, bahkan di saat tersedia makanan. Hadis sahih menegaskan: “Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya” (HR. Tirmidzi).
Dari sudut pandang ekologis, pemborosan makanan dan plastik bukan sekadar persoalan teknis pengelolaan sampah, tetapi persoalan etika. Setiap makanan yang terbuang adalah air yang sia-sia, tanah yang dieksploitasi, energi yang terlepas, dan emisi yang mengendap di atmosfer. Sampah Ramadhan adalah jejak spiritual kita yang tercatat di bumi.
Ekoteologi: Dari Khalifah ke Amanah
Istilah ecotheology menguat sejak kritik tajam Lynn White Jr. pada 1960-an yang menuding agama—terutama tafsir antroposentris—sebagai akar krisis ekologi. Kritik ini kemudian dijawab oleh para pemikir agama, termasuk sarjana Muslim seperti Seyyed Hossein Nasr, yang menegaskan bahwa Islam sejak awal memiliki kosmologi sakral: alam sebagai ayat Tuhan.
Dalam Islam, manusia bukan pemilik mutlak bumi, melainkan khalifah dan pemegang amanah. QS. al-A‘raf: 31 menegaskan larangan berlebih-lebihan (isrāf), bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam konsumsi. Israf adalah dosa ekologis, karena melampaui batas keseimbangan (mīzān) yang ditegakkan Allah (QS. ar-Rahman: 7–9).
Ramadhan, dalam perspektif ini, adalah madrasah ekologis. Puasa melatih self-restraint, kemampuan menunda hasrat, dan kesadaran akan keterbatasan. Inilah fondasi etika ekologis: kesediaan manusia untuk tidak mengambil semuanya, meski mampu.
Puasa sebagai Latihan Jejak Ekologis Rendah
Jika puasa dijalani secara utuh, ia semestinya menurunkan ecological footprint. Sahur dan berbuka secukupnya, menghindari mubazir, memilih makanan lokal, dan mengurangi plastik adalah ekspresi konkret takwa. Dalam ekonomi Islam, prinsip ini sejalan dengan wasathiyyah (moderasi) dan maslahah (kemaslahatan).
Menariknya, riset psikologi perilaku menunjukkan bahwa praktik mindful eating—makan dengan kesadaran penuh—menurunkan kecenderungan berlebih. Puasa Ramadhan adalah mindfulness spiritual paling sistematis yang dimiliki umat Islam. Sayangnya, ia sering dikalahkan oleh budaya “balas dendam” saat berbuka.
Di sinilah pentingnya menggeser narasi dakwah Ramadhan: dari sekadar pahala individual menuju tanggung jawab kosmik. Takwa bukan hanya soal sahnya puasa, tetapi juga tentang bagaimana pilihan konsumsi kita berdampak pada makhluk lain—manusia miskin, hewan, dan generasi mendatang.
Dari Kesalehan Personal ke Kesalehan Ekologis
Sosiolog agama José Casanova berbicara tentang public religion—agama yang hadir di ruang publik dan menjawab problem sosial. Ekoteologi Ramadhan adalah wujud kesalehan publik: masjid mengelola takjil tanpa plastik, keluarga merencanakan menu tanpa mubazir, komunitas mengolah sisa makanan, dan ulama menyuarakan dosa ekologis dengan bahasa yang membumi.
Dalam kerangka maqāṣid al-syarī‘ah, menjaga lingkungan (ḥifẓ al-bī’ah) semakin diakui sebagai prasyarat menjaga jiwa (ḥifẓ al-nafs) dan keturunan (ḥifẓ al-nasl). Kerusakan ekologis adalah ancaman langsung bagi kehidupan. Maka, puasa yang merusak bumi adalah kontradiksi spiritual.
Ramadhan dan Puasa Bumi
Ramadhan mengajarkan bahwa menahan diri adalah jalan menuju kemuliaan. Jika logika ini diperluas, maka puasa manusia seharusnya diiringi “puasa bumi” dari eksploitasi berlebihan. Mengurangi sampah, menekan konsumsi, dan memulihkan relasi harmonis dengan alam adalah bentuk ibadah ekologis.
Di titik ini, takwa menemukan maknanya yang paling dalam: kesadaran bahwa Tuhan hadir bukan hanya di sajadah, tetapi juga di sungai, hutan, tanah, dan udara yang kita warisi bersama. Ramadhan bukan akhir dari konsumsi, tetapi awal dari kebijaksanaan. Bukan sekadar lapar perut, tetapi kenyang nurani.
Jika Ramadhan berhasil menaikkan level takwa, maka jejaknya mestilah terlihat: bumi bernapas lebih lega, sampah berkurang, dan manusia belajar cukup. Di sanalah puasa menemukan keindahannya yang utuh—ibadah yang memerdekakan manusia sekaligus memuliakan semesta.
(YY)


