Inspiring

Kedekatan Ratu Elizabeth II dengan Islam

3 Mins read

Kabar duka datang dari bumi Britania Raya. Ratu Elizabeth II wafat di usia 96 Tahun. Berpulangnya ‘Sang Ratu’ menjadi perhatian publik seluruh dunia. Sosok kepribadian Ratu Elizabeth II layak diteladani. 

Lahir pada 21 April 1926, putri dari Raja George VI dan Elizabeth Bowes-Lyon ini memimpin kerajaan Inggris sejak 1952 sampai 2022 (70 Tahun). Yang menarik dari Ratu Elizabeth II, adalah bagaimana ia melihat Islam sebagai agama yang toleran dan humanis.

Sedikit melihat sejarah Islam awal di Inggris. Di tahun 1570, Elizabeth I mengalami kontestasi politik Eropa yang membuat ia terjepit. Dia dikucilkan oleh Paus (pemimpin Katolik) saat itu, dan negaranya dijauhi oleh seluruh Eropa. Untuk menghindari kehancuran, Inggris berpikir untuk membutuhkan sekutu. Sang ratu mencari bantuan dari sumber yang mengejutkan, yakni dunia Islam.

Aliansi Elizabeth I dengan Islam

Jerry Brotton mengeksplorasi sejarah aliansi Inggris-Muslim yang terlupakan dalam buku The Sultan and the Queen. Brotton menjelaskan mengapa Elizabeth percaya bahwa Islam dan Kristen Protestan memiliki lebih banyak kesamaan satu sama lain daripada dengan Katolik (Brotton 2016).

Alasan teologis di atas, bukanlah alasan utama Ratu untuk membangun aliansi dengan negara-negara Islam (red. Turki, Iran, dan Maroko). Melainkan untuk alasan ekonomi yang menjadi pertimbangan Ratu kepada para pemimpin negara Islam.

Contohnya pada 1580, Elizabeth menyetujui kesepakatan komersil selama tiga abad dengan penguasa Ottoman. Kesepakatan ini menjamin pedagang Inggris mendapat bebas admisi ke wilayah Ottoman. Ia juga membuat kesepakatan yang sama dengan Maroko.  

Selanjutnya, selain motif ekonomi juga beberapa faktor lain yang membangun hubungan diplomatik Inggris-Muslim menjadi politik, budaya, dan lain-lain.

Baca Juga  Maria Ulfah, Pembela Hak Perempuan dalam Perkawinan

Komunitas Muslim Inggris

Terdapat dua fase komunitas Muslim awal yang hadir di Inggris dan didominasi oleh imigran. Pertama, sebagaimana pendapat dari Ataullah Shiddiqui, bahwa tahun 1869 adalah dibukanya Suez Canal dan menjadi titik hubungan perdagangan antara Eropa dengan Asia dan Afrika. Para pekerja dari Yaman dan India berlayar ke Inggris dan menetap di kota Cardiff, Liverpool, dan Pollockshields (Hasyim, 2011).

Fase kedua, pasca Perang Dunia ke-II. Fase ini menunjukkan lonjakan kebutuhan buruh dan tenaga kerja untuk pembangunan. Periode ini didominasi imigran asal India dan Pakistan. Di sisi lain, juga banyak dari pelajar-pelajar Muslim dari negara Arab Saudi, Malaysia, Iran, dan lainnya, memberi pengaruh atas gerakan intelektual kaum Muslim di Inggris. 

Di era kontemporer, komunitas Muslim di Inggris tumbuh. Banyak dari warga Inggris jatuh cinta dan memeluk agama Islam. Hal ini dikarenakan ketertarikan model kampanye positif seperti program charity di masjid-masjid oleh komunitas Muslim. Program-program bantuan kemanusiaan disalurkan tidak hanya di komunitas Muslim saja, tetapi juga kepada komunitas non Muslim.

Yang menarik lagi ialah munculnya pejabat-pejabat publik beragama Islam. Seperti Sadiq Khan, Sayeeda Hussain Warsi, Amjud Bashir, dan masih banyak yang lain. Fenomena ini menjadi varian baru bagaimana Muslim Inggris turut andil dalam kebijakan publik. Mereka mendapat privilege atas aspirasi Muslim. Kasus terakhir saat COVID-19, pemerintah Inggris menyarankan semua jenazah COVID-19 untuk dikremasi. Namun, komunitas Muslim tidak menyetujui kebijakan tersebut. Akhirnya, mereka mengajukan aspirasinya sampai kebijakan tersebut direvisi oleh pemerintah.

Hubungan Ratu Elizabeth II dengan Muslim Inggris

Banyak anggapan positif, di saat Elizabeth II bertahta selama 70 tahun. Hubungan Ratu dengan Muslim Inggris memiliki jangka panjang dan membuahkan hasil.

Baca Juga  Potret Aktivitas Dakwah Islam di Inggris dan Jerman

Dikutip dari Religion Media Centre, Imam Qari Asim (Dewan Penasehat Nasional Imam), mempercayai Elizabeth II membawa pengaruh positif. 

“Ratu memiliki hubungan jangka panjang dengan komunitas Muslim dan sebagian besar telah membuahkan hasil. Yang Mulia telah menjadi mercusuar harapan, integritas, stabilitas, dan persatuan yang luar biasa bagi negara kita dan sekitarnya.” ungkap Asim.

Ratu juga aktif dalam mempromosikan harmoni dan kohesi antar kelompok keagamaan. Banyak dialog antar umat beragama dan sebagainya. Bahkan Muslim Inggris, dari pesepakbola hingga kapten industri, telah dimasukkan dalam daftar The Queen’s and Honours. Para pemimpin Muslim juga secara teratur diundang ke acara-acara seremonial kerajaan seperti pernikahan dan kebaktian syukur.

Pesan Natal dan Hari Persemakmuran Ratu sering kali membahas kerukunan dan toleransi antar agama. Pada Natal Tahun 2006, pesan tersebut menampilkan gambar-gambar umat Islam yang sedang berdoa di sebuah masjid. Dia mengatakan kepada bangsa: “Orang-orang dari agama yang berbeda terikat bersama oleh kebutuhan untuk membantu generasi muda untuk menjadi warga negara yang penuh perhatian dan aktif.”

Dr. Abdul Azim Ahmed, Wakil Direktur di Pusat Studi Islam di Inggris, mengatakan ada perbedaan antar generasi di antara Muslim Inggris dalam hal menghormati Ratu. “Para migran Muslim generasi pertama cenderung melihat Ratu dalam pengertian yang jauh lebih tradisional sebagai figur kepala dan seseorang yang penting dan sangat dihormati. Sedangkan generasi Muslim yang lebih muda jauh lebih kritis terhadap monarki sebagai sebuah konsep dan kurang menghormati Ratu.”

Dia mengamati bahwa sementara Ratu tetap netral dan cenderung berkonsentrasi pada dialog antar agama. Adapun Pangeran Charles lebih untuk memuji Muslim dan mengakui kontribusi mereka.

Baca Juga  Baqir ash Sadr: Pemikir Syiah yang Mengkritik Komunisme

“Ratu sangat berhati-hati, saya pikir, dalam presentasi dirinya dan ini jelas meluas tidak hanya dari keyakinannya dan hubungannya dengan agama dan komunitas agama, tetapi juga dalam hal politik dan kehidupan pribadinya. Saya pikir itu dikuratori dengan sangat hati-hati. Namun, Pangeran Charles, memiliki peran yang sangat kuat dan dominan pada komunitas Muslim di Inggris.’’ ujar Ahmed.

Referensi

Aidid, Hasyim. Dinamika Muslim dan Penegakan Hukum Islam di Inggris Cet. I. Makassar: Alauddin Press University, 2011.
Brotton, Jerry. The Sultan and the Queen: the untold story of Elizabeth and Islam. New York: Viking, 2016.
Choudhury, Rukshana. “The Queen’s relationship with British Muslims”, https://religionmediacentre.org.uk/news/the-queens-relationship-with-british-muslims/

Editor: Yahya FR

Print Friendly, PDF & Email
9 posts

About author
Penulis aktif di situs PikiranKita | Media Penulisan dan Edukasi Pemikiran. Co-Founder Sophia Institute.
Articles
Related posts
Inspiring

Merawat Pemikiran Ahmad Syafii Maarif

2 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Awal tahun 1970-an ditandai dengan babak pembaharuan Islam di tanah air Indonesia. Kemunculan intelektual publik seperti almarhum…
Inspiring

Candra Sihotang, Guru Madrasah Berprestasi yang Pernah Jadi Buruh

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Jika Presiden Indonesia, Joko Widodo punya tagline “Kerja, Kerja, Kerja”, tampaknya slogan “Berjuang, Berusaha, Berprestasi” cocok disematkan kepada Candra…
Inspiring

Maftuhah Mustiqowati, Guru Madrasah Pelopor Peduli Lingkungan

4 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Seringkali orang akan acuh ketika menemui imbauan untuk mencintai lingkungan, penghijauan bumi, serta upaya-upaya gerakan penanggulangan sampah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *