Tafsir

Orang Beriman itu Pasti Punya Ketenangan Jiwa

2 Mins read

Urgensi Ketenangan Jiwa

Menurut William James, seorang filsuf bernegara Amerika, mengungkapkan bahwasanya sebuah terapi terbaik bagi kecemasan serta kesehatan adalah keimanan kepada Tuhan. Hal senadapun ayalnya diutarakan oleh A.A. Brill, seorang penganut Psikoanalisis, bahwasanya pribadi yang berjiwa religius mustahil mengidap penyakit sakit jiwa (Sarihat, 2021).

Dari Sudut pandang ilmu tasawuf sendiri, kekhwatiran, kegelisahan, serta kecemasan yang mengimplikasi problem psikologis, merupakan penyakit jiwa yang umumnya terjadi di kalangan masyarakat modern yang hedonis, yang selalu hanyut dengan kesibukan duniawi yang menjerumuskan sehingga terperosok pada keringnya keimanan (Sarihat, 2021).

Al-Qur’an Sebagai Penennag Jiwa

Di klinik yang bertempat di Amerika, yaitu Klinik Besar Florida Amerika Serikat, ada sebuah penelitian yang digawangi oleh Dr. Al-Qadhi yang berhasil menghasilkan sebuah riset yang cukup energik.

Yaitu sebuah pembuktian bahwasanya hanya dengan mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an, seseorang akan merasakan sebuah output berupa adanya perubahan fisiologis berupa menurunya depresi, kesedihan, serta mendapatkan ketenangan dalam jiwa. Ia dapat juga menjadi tameng untuk menangkal penyakit-penyakit yang menghantui lainya (Sarihat, 2021, p. 42).

Makna Ketenangan Jiwa

Sementara itu, ulama Tafsir yang bernama Wahbah Az-Zuhaili pengarang kitab fiqhul Islam Wa Adillatuhu dan Tafsir Al-Manar, memakanai ketenangan dengan “sakinah” yaitu nuansa yang diselimuti dan dipenuhi kekokohan hati dan atau at-Tsahat dan At-Tuma’ninah (ketenangan jiwa).

Istilah jiwa sendiri yang termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an selalu disebut dengan nafs serta ditemukan sebanyak 297 kali, dengan berbagai frase seperti halnya dalam shigat (bentuk) mufrad (tunggal) 140 kali, dan shigat (bentuk) jamak terdapat dua model kata yaitu nufus yang terdapat sebanyak 2 kali, anfus 153 kali, serta shigat (bentuk) fiil (kata kerja) 2 kali (Sarihat, 2021, p. 36).

Baca Juga  Ketika Ibnu Sina Berbicara tentang Jiwa

Ketenangan Jiwa dalam QS. Ar-Ra’d [13]: 28.

Menurut Abdul Qadir Jaelani, seseorang yang tenang jiwanya adalah pribadi yang selalu membekali dirinya di alam dunia yang fana ini untuk kehidupan akhirat dengan jalan ketakwaan serta ijtinab (mejauhi) dari kemaksiatan (Sarihat, 2021, p. 36).

Hamka menafsirkan firman Allah SWT dalam QS. Ar-Ra’d [13]: 28 yaitu:

Orang-orang yang berimandan hati mereka menjadi tentram dengan menginghat Allah SW. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram (RI, 2002).

Hamka mengatakan bahwa melalui zikir, secara tidak langsung, akan berimbas dengan sendirinya, berupa memberikan output berupa ketentraman hati, melenyapkan pikiran kusut, putus, asa, kegelisahan, kecemasan, keragu-raguan, serta duka cita lainya.

Tathma’innul Qulub (ketentraman hati) yaitu intisari dari ashshihhah (kesehatan) jasmani maupun kerohanian, kemudian tutur Hamka dan kegelisahan dan keragu-raguan merupakan aspek sumber dari segala penyakit (Sarihat, 2021, p. 37).  

Dalam tafsir karangan ulama nusantara Mahmud Yunus,  penafsiran dari QS. A-r-Ra’d ayat 28 yakni bahwasanya qalbu (hati) orang-orang yang beriman itu tentram dan senang disebabkan mereka senantiasa selalu mengingat Allah SWT, saat susah maupun senang.

Ketika kesusahan menimpa mereka, di saat itulah mereka mengingat Allah SWT serta lekas insyaf dan memeriksa kekhilafanya. Dengan seperti itu, harapannya supaya bisa diperbaiki di kemudian kelak. Begitupun sebaliknya, dikaruniai kenikmatpun, mereka tidak serta merta angkuh dan sombong, malahan justru bersyukur  mengucapkan terimakasih kepada Allah SWT  (Yunus, 2003, p. 355).

Hati Orang Islam Pasti Tenang

Oleh karenanya, hati orang-orang yang beriman selalu diliputi serta diselimuti ketentraman serta ketenangan, baik di kala waktu lapang maupun kondisi sempit. Selanjutnya, Mahmud Yunus mengatakan bahwasanya kesenangan (qalbu) hati itulah kebahagiaan yang sebenarnya.

Baca Juga  Kesadaran Al-'Ashr, Merenungkan Indonesia ke Depan

Namun yang sangat urgent untuk diperhatikan ialah bagaimana seorang mufassir nusantara yaitu Mahmud Yunus menekanakan pentingnya menegakkan sembahyang lima kali sehari semalam. Karena, pungkas beliau, dalam sembahyang itulah kita mengingat Allah SWT serta membersihakan jiwa (tazkiyatun nafs) (Sarihat, 2021, p. 355).

Kemudian, beliau mengutip hadis nabi bahwsanya Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Bahwa sembahyang itu tempat ketenangan jiwanya dan kesenangan hatinya. Oleh karena itu, orang-orang yang menunaikan sembahyang lima kali sehari semalam. Seolah-olah telah mengingat Allah SWT malam dan siang, pagi, dan petang. Maka insyaallah, senantiasa tenanglah jiwanya dan senanglah hatinya, mengarungi bahtera kesukaran di dunia ini”.

Inilah tutur beliau perbedaan mendasar orang-orang yang semabahyang dan orang-orang yang tidak sembahyang. Oleh karenanya, janganlah kita merasa berat hati menunaikan sembahyang itu. Karena, ibrah (manfaat) akan kembali kepada pribadi kita sendiri, bukan untuk Allah SWT. Allah SWT maha kaya dari itu (Yunus, 2003, p. 355). Wallahu’alam.

Editor: Yahya FR

Taufik Hidayatullah
8 posts

About author
Instagram: mas_taufik.reborn Pontang-Serang-Banten Profesi: Pegiat Literasi Digital
Articles
Related posts
Tafsir

QS al-Mu'minun Ayat 18: Tiga Watak Hujan

4 Mins read
Ramadhan 1446 kali ini dan Idul Fitri 1446 yang akan datang, masyarakat Muslim di wilayah Indonesia masih berada di musim penghujan. Jika…
Tafsir

Ayat-Ayat Al-Qur'an tentang Kebodohan

6 Mins read
Di antara kita kadang berbuat bodoh di dunia ini. Kebodohan ini sering kali terjadi bukan karena kita tidak berilmu, namun karena karakter…
Tafsir

Makna Ummi: Benarkah Nabi Muhammad Buta Huruf?

3 Mins read
Nabi Muhammad adalah sosok yang membawa perubahan besar dalam sejarah peradaban manusia. Sebagai seorang Rasul terakhir, beliau menyampaikan wahyu yang kemudian menjadi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *