Falsafah

Pendidikan Hari ini Harus Menerapkan Konsep Akal Ibnu Khaldun!

4 Mins read

Ibnu Khaldun | Dalam sebuah situs resmi Kemendikbudristek mengungkapkan di era industri 4.0 dan era society 5.0 setidaknya dibutuhkan kemampuan utama yang harus diasah, di antaranya adalah lebih dikenal dengan istilah 4C (creativity, critical thinking, communication, collaboration).

Lebih dalam lagi, di abad 21 kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh pelajar sekaligus pendidik juga memiliki kemampuan 6 literasi dasar yaitu pertama literasi numerasi, kedua literasi sains, ketiga literasi informasi, keempat literasi finansial, kelima literasi budaya, dan keenam kewarganegaraan.

Tidak hanya literasi dasar, namun juga memiliki kompetensi lainnya yaitu mampu berpikir kritis, bernalar, kreatif, berkomunikasi, kolaborasi, serta memiliki kemampuan problem solving.

Penjelasan ini menggambarkan bahwa era super society 5.0 membutuhkan kekuatan adaptasi dan adopsi yang kuat. Beralih dari hal yang baru menuju hal yang lebih baru dibutuhkan kelincahan dan keluwesan untuk menghadapinya.

Islam adalah agama yang dapat menyesuaikan zaman. Sistem dalam Islam ada yang bersifat tsawabit (tetap) dan mutaghayyirat (berubah). Begitupun dalam dunia pendidikan Islam, haruslah menyesuaikan sifat Islam itu sendiri. Sangat banyak gagasan ide mengenai pendidikan Islam yang bersifat sangat adaptif dengan zaman.

Namun pada kali ini, penulis akan sedikit mundur ke belakang untuk mengambil ide cemerlang dan dapat diaplikasikan di era ini.

Ibnu Khaldun: Tokoh Sosiolog Islam

Ialah Ibnu Khaldun, salah satu tokoh Sosiolog Islam terkemuka di dunia. Beliau memiliki gagasan yang visioner mendobrak sistem pendidikan Islam sebelum di zamannya. Gagasan beliau dipengaruhi oleh model pemikiran filsafat Yunani.

Meskipun demikian, Ibnu Khaldun tidak latah dalam mengadopsi pemikiran filsafat Yunani melainkan melalui adopsi, adaptasi dan asimilasi dan kemudian menghasilkan produksi yang baru.

Nama lengkapnya ialah Abu Zaid Abdurrahman Bin Muhammad bin Khaldun. Beliau lahir pada awal Ramadan 732 H (27 Mei 1332) di kota Tunis. Di riwayat lain, ada pula mengatakan Ia lahir pada tanggal 1 Ramadhan 732 H (7 Mei 1332).

Di samping nama tersebut, Beliau memperoleh gelar tambahan yaitu Waliyuddin al Tunisi al Hadrawi. Gelar Waliyuddin merupakan gelar yang diberikan sewaktu dia memangku jabatan hakim (qadhi) di Mesir, yakni pada masa pemerintahan Sultan Dzahir Burquq, salah seorang Sultan Mamluk di Mesir.

Baca Juga  Melihat Episteme Radikalisme dengan Lebih Dekat

Sedangkan, tambahan al-Hadrawi di belakang namanya, bertalian dengan nama negeri asalnya itu Hadramaut, sebab seluruh keluarganya berasal dari Yaman Hadramaut.

Selain gelar di belakang, namanya masih banyak lagi nama panggilan yang menyatakan tugas dan kedudukan ilmiah dan status sosial, antara lain: al-wazir, al-rois, al-hajib, al-shadr al-kabir, al-faqih al-jalil, ‘allamatul ummah, dan jamalul Islam wal muslimin.

Karya-karya Ibnu Khaldun antara lain: At-Ta’rif bi Ibn Khaldun (sebuah kitab autobiografi) , kitab Al-Ibar (tujuh jilid) yang menjadi Kitab Al-Ibar wa Diwan al-Mubtada awil Khabar fi Ayyami Arab wal ‘Ajam wal Barbar wa ma Asharahum min Dzawis Sulthan al-Akbar, Lubab al-Muhassal fi Ushul ad-Din (sebuah kitab tentang permasalahan dan pendapat-pendapat teologi), Kitab Muqaddimah memuat pokok-pokok pikiran tentang gejala-gejala sosial kemasyarakatan, sistem pemerintahan, dan politik di masyarakat, ekonomi dalam individu, bermasyarakat dan bernegara, gejala manusia, dan pengaruh faktor lingkungan geografis serta pedagogik.

Pemikiran Utama Ibnu Khaldun: ‘Aql Tamyiz dan ‘Aql Tajribi

Terdapat dua pemikiran utama Ibnu Khaldun dalam pendidikan yaitu berkaitan dengan ‘aql tamyiz dan ‘aql tajribi. Kelebihan utama manusia dari makhluk lainnya adalah kemampuannya dalam mengindera (idrak) kepada sesuatu di luar dirinya. Kemudian dilengkapi dengan perangkat penting yang diberikan Allah yaitu akal (‘aql) dan pikiran (fikr).

Dengan akal dan pikiran, manusia mampu melakukan persepsi, abstraksi temuan-temuan indera, serta imajinasi. Ini menjadi dalil bahwa makhluk Tuhan yang pantas sebagai khalifah fil ardh adalah manusia melekat tugas khusus untuk mengurus dan mengelola bumi degan baik.

Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 30:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah. Padahal Kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.

Tingkatan Berpikir Manusia

Ibnu Khaldun membagi kemampuan berpikir manusia menjadi dua tingkatan yaitu: (1) Al-‘aql al-tamyizi (akal pemisah) yaitu tingkat akal terbawah. Konsep-konsep yang dihasilkan berpikir di tingkat ini adalah deskripsi atau penggambaran (al-tasawwur). Akal ini bertujuan untuk menghasilkan kemanfaatan (manfa’ah)bagi manusia dan menolak bahaya (dharuroh).

Baca Juga  Ibnu Khaldun, Sosiolog Pertama di Dunia Islam

(2). Al-‘aql al-tajribi (akal eksperimental) adalah kemampuan berpikir menghasilkan berbagai gagasan pemikiran dan berbagai etika dalam tatanan pergaulan bersama dan hal ihwal mereka. Dalam tahap ini, manusia sudah mampu untuk berpikir secara jernih. Manusia bisa mencapai tahap ini setelah sifat kebinatangannya ditekan dengan kuat sehingga mencapai kesempurnaan di dalam dirinya.

Dimulai dari kemampuan membedakan (tamyiz), manusia mampu mengetahui mana yang bermanfaat dan merugikan dirinya. Lebih dalam, manusia berbeda dengan binatang karena kapasitas berpikirnya, karena akal dan pikiran memimpin dirinya, mengatur kehidupan untuk bekerja sama dengan anggota masyarakat secara meluas dan paling utama dari fungsi akal adalah untuk menerima wahyu Tuhan diberikan melalui Nabi guna kesejahteraan dunia dan akhirat.

(3). Al-‘aql at-tajribi (akal spekulatif). adalah pikiran yang melengkapi manusia dengan pengetahuan (‘ilm) atau pengetahuan hipotesis (dzan), mengenal sesuatu yang berada di belakang persepsi indera tanpa tindakan praktis yang menyertainya.

Pada tingkatan ini, manusia dapat memahami suatu objek secara baik dan memiliki suatu persepsi spesifik tentang yang ada atau objek dunia dengan apa adanya, baik yang empiris maupun yang metafisika.

Karena manusia makhluk yang berakal dan berpikiran, maka akal pikiran menjadi dasar segala aktifitas belajarnya. Melalui proses belajar, manusia senantiasa mencoba meneliti pengetahuan dan informasi yang diperoleh oleh pendahulunya.

Manusia mengumpulkan bermacam fakta dan menginventarisasi berbagai keterampilan oleh pendahulunya dengan harapan memperoleh lebih banyak pengetahuan yang terus meningkat sepanjang masa. Ini merupakan implikasi dari dinamisasi aktivitas akal manusia.

Berdasarkan hal tersebut dapat ditarik beberapa kesimpulan, bahwasanya tujuan pendidikan yang dimaksud Ibnu Khaldun ialah peningkatan kecerdasan akal manusia dan kemampuan berpikir untuk mengaitkan ma’lumat sabiqoh (pengetahuan masa lampau) dan ma’lumat jadidah (pengetahuan masa kini).

Baca Juga  Paradigma Psikologi Islam Mana yang Paling Efektif?

Relevansi Pemikiran Ibnu Khaldun dengan Pendidikan

Melebarkan pokok pikiran dari Ibnu Khaldun, bagi penulis konsep pendidikan yang ditawarkannya memiliki relevansi dengan pendidikan dewasa ini.

Relevansi itu dapat terlihat pada dua hal, pertama, memiliki relevansi dengan pelaksanaan pendidikan Islam yang telah ada dan sedang berlangsung. Kedua, akan sangat relevan untuk diaktualisasikan dalam pelaksanaan pendidikan dewasa ini, yaitu dengan menggunakan kemampuan berpikir dengan ‘aql tamyiz (deferensial)dan al-‘aql al-tajribi (eksperimental) adalah modal utama untuk melakukan 4C yaitu; creativity, critical thinking, communication, dan collaboration.

Selanjutnya, dengan keduanya (tamyiz dan tajribi) diposisikan sebagai pondasi utama dalam mengoptimalkan kemampuan inti dalam 5.0 society yaitu 6 literasi dasar yaitu:

Pertama literasi numerasi, kedua literasi sains, ketiga literasi informasi, keempat literasi finansial, kelima literasi budaya, dan keenam kewarganegaraan.

Tidak hanya literasi dasar, namun juga memiliki kompetensi lainnya yaitu mampu berpikir kritis, bernalar, kreatif, komunikatif, kolaboratif, serta memiliki kemampuan problem solving.

Namun harus juga diingat, bahwa akal dan pikiran mempunyai fungsi utama yaitu sebagai salah satu alat untuk menerima pesan-pesan Ilahi (wahyu) dan sabda Nabi (profetik) sebagai panduan hidup serta mempunyai peran sebagai nilai utama yang membingkai setiap lini kehidupan secara holistik.

Referensi

Ibnu Khaldun. Mukaddimah. Pustaka Al-Kautsar. Jakarta
Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, 1963. Jakarta
Syafi’i Ma’arif. Ibnu Khaldun Dalam Pandangan Penulis Barat dan Timur. Gema Insani Press. 1996. Jakarta
Hamdi, M. R., Harti, Y., & Yanti, Y. (2021). Pemikiran Pendidikan Islam Ibnu Khaldun 1332 M. Jurnal Kutubkhanah20(2), 121-136.
Jurnal Falasifa, Vol. 9 Nomor 2 September 2018
Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam, Volume 9, Nomor 1, Juni 2020

Editor: Yahya FR

Print Friendly, PDF & Email
6 posts

About author
Pengasuh Pondok Pesantren Muhammadiyah Ahmad Dahlan Kab.Tegal
Articles
Related posts
Falsafah

Rasionalisasi Kosmologi: Filsuf Islam Klasik vs Sains Modern

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Konsep Penciptaan Alam Menurut Al-Kindi Begitu banyak pendapat mengenai konsep penciptaan alam, sebagai contoh, menurut tokoh filsuf…
Falsafah

Tajdid yang Berpijak Pada Tradisi ala Gadamer

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Konsep tajdid bukanlah sebuah konsep baru dalam pemahaman keagamaan kita, yaitu Islam. Bahkan lebih jauh lagi, konsep…
Falsafah

Imam Syafii Tak Pernah Mengharamkan Filsafat

3 Mins read
Facebook Telegram Twitter Linkedin email Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa Imam Syafii berkata “Seseorang yang diuji dengan semua larangan Allah kecuali syirik…

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *