back to top
Jumat, Februari 20, 2026

Tertawa Menjelang Ramadhan: Meme, Ikhtilaf, dan Kedewasaan Beragama di Ruang Digital

Lihat Lainnya

Dr. Aji Damanuri, M.E.I
Dr. Aji Damanuri, M.E.I
Dekan FEBI UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Menjelang Ramadhan, media sosial Indonesia kembali menemukan ritmenya. Perbedaan penetapan awal puasa, antara Muhammadiyah yang memulai lebih awal dan Nahdlatul Ulama yang memulai sehari sesudahnya, kini tidak lagi disambut dengan ketegangan. Sebaliknya, ia dirayakan lewat meme-meme jenaka: sahabat beda ormas, suami-istri beda awal puasa, yang satu menahan lapar, yang lain masih makan sambil menggoda.

Yang menarik, nada meme ini berubah drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jika dahulu bernuansa sindiran, bahkan penghinaan simbolik, kini ia tampil menghibur: konyol, cair, dan terasa akrab. Nitizen tampak menikmati perbedaan. Namun pada saat yang sama, sebagian ustadz dan dai justru tetap bersikap konfrontatif: saling menyerang dengan dalil, memamerkan kitab, dan menghidupkan kembali polarisasi lama.

Fenomena ini mengasyikkan sekaligus ambigu. Apakah kita sedang menyaksikan kedewasaan sosial-keagamaan umat Islam Indonesia? Ataukah ini justru tanda apatisme baru: ketika perbedaan prinsip dianggap tidak lagi penting?

Meme sebagai Fakta Sosial Baru

Dalam perspektif Émile Durkheim, agama adalah fakta sosial: ia hidup melalui simbol, ritus, dan praktik kolektif. Di era digital, meme dapat dibaca sebagai simbol baru dari pengalaman keagamaan kolektif. Ia bukan sekadar humor, tetapi cara masyarakat menegosiasikan makna bersama.

Meme Ramadhan bekerja seperti ritus ringan. Ia menurunkan ketegangan, membangun rasa kebersamaan, dan menciptakan “kita” yang inklusif meski berbeda praktik. Dengan tertawa bersama, masyarakat menegaskan bahwa perbedaan awal puasa bukan ancaman terhadap solidaritas sosial. Inilah yang oleh Durkheim disebut sebagai fungsi integratif agama, kini diekspresikan bukan lewat mimbar, melainkan linimasa.

Baca Juga:  Lima Pesantren Modern Terbaik di Jawa Tengah, Berikut Daftarnya

Sakral yang Cair dan Kesadaran Relasional

Dari sudut pandang Peter L. Berger, modernitas mendorong pluralisasi makna dan relativisasi otoritas. Yang sakral tidak hilang, tetapi menjadi cair. Dalam konteks ini, meme Ramadhan menunjukkan bagaimana kesalehan tidak lagi ditampilkan secara dogmatis, melainkan relasional.

Generasi digital tidak menolak agama, tetapi menolak cara beragama yang agresif. Mereka lebih menerima perbedaan sebagai realitas sosial ketimbang masalah teologis yang harus dimenangkan. Maka yang ditonjolkan bukan “siapa paling benar”, melainkan “bagaimana tetap rukun meski berbeda”.

Namun Berger juga mengingatkan: relativisasi yang berlebihan berisiko melahirkan thin religion, agama yang dangkal, kehilangan daya reflektif dan kedalaman normatif. Di sinilah ambiguitas meme Ramadhan muncul: ia bisa menjadi jembatan toleransi, tetapi juga bisa menjadi pintu menuju ketidakpedulian.

Ketika Publik Melampaui Otoritas

Sementara itu, José Casanova berbicara tentang public religion: agama yang tetap hadir di ruang publik, tetapi harus bernegosiasi dengan logika sosial baru. Otoritas keagamaan tidak lagi bekerja secara top-down. Ia diuji, ditafsirkan, bahkan diparodikan oleh publik.

Di titik ini, kontras menjadi tajam. Ketika publik bergerak ke arah humor dan rekonsiliasi simbolik, sebagian elite agama masih mempertahankan bahasa konflik. Kitab dipamerkan sebagai legitimasi kuasa, bukan sebagai sarana hikmah. Akibatnya, terjadi disonansi: dakwah terasa keras di tengah umat yang ingin teduh.

Ironisnya, yang tampak “kurang ilmiah” justru lebih efektif secara sosial. Meme bekerja lebih persuasif dibanding ceramah penuh kemarahan. Bukan karena meme lebih benar, tetapi karena ia lebih selaras dengan emosi publik.

Baca Juga:  Organisasi itu Ibarat Pohon, Harus Dirawat Sepenuh Hati

Ikhtilaf: Warisan Klasik yang Terlupa

Padahal, tradisi Islam klasik memiliki perangkat matang untuk mengelola perbedaan: ikhtilaf fiqh. Para ulama sejak awal menyadari bahwa perbedaan ijtihad adalah keniscayaan. Bahkan perbedaan di kalangan sahabat Nabi diperlakukan sebagai rahmat, bukan ancaman.

Dalam literatur fikih, perbedaan hisab dan rukyat bukan isu baru. Yang baru adalah cara kita menyikapinya. Ketika ikhtilaf kehilangan adab, ia berubah menjadi konflik. Ketika ikhtilaf kehilangan makna, ia berubah menjadi lelucon kosong. Keduanya sama-sama bermasalah.

Di sinilah konsep ukhuwwah Islamiyah menemukan relevansinya. Persaudaraan bukan berarti menyeragamkan praktik, tetapi menjaga adab dalam perbedaan. Ukhuwwah menuntut kedewasaan: tahu kapan berdalil, kapan menahan diri, dan kapan tersenyum.

Dewasa, Tapi Jangan Kehilangan Makna

Meme Ramadhan hari ini menunjukkan satu hal penting: masyarakat Muslim Indonesia sedang belajar hidup dengan perbedaan tanpa harus saling melukai. Ini pencapaian sosial yang patut diapresiasi. Namun kedewasaan ini perlu diarahkan, bukan dibiarkan mengambang.

Humor perlu disertai literasi. Tawa perlu ditemani pengetahuan. Bukan untuk memadamkan meme, tetapi untuk mengisinya dengan makna. Para ulama dan cendekiawan ditantang bukan untuk “mengalahkan” publik, melainkan berjalan bersama mereka—menghadirkan ilmu dengan empati, bukan dengan amarah.

Ramadhan, pada akhirnya, bukan sekadar soal tanggal mulai puasa. Ia adalah madrasah sosial: tempat kita belajar menahan ego, merawat persaudaraan, dan memuliakan perbedaan sebagai bagian dari sunnatullah.

Baca Juga:  Din Syamsuddin: Umat Islam sebagai Moderating and Mediating Forces

Jika nitizen bisa tertawa tanpa saling merendahkan, maka sudah seharusnya para pemilik mimbar bisa berbeda tanpa saling meniadakan. Di situlah agama tidak kehilangan wibawa, justru menemukan kembali hikmahnya.

Editor: Ikrima

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru