IBTimes.ID – Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) mencatatkan capaian penghimpunan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) secara nasional sebesar Rp827,69 miliar. Capaian tersebut melampaui target penghimpunan sebelumnya sebesar Rp801 miliar. Berbekal pertumbuhan tersebut, Lazismu optimistis meningkatkan penghimpunan dana umat hingga menembus Rp1 triliun pada 2027.
Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, menyampaikan bahwa pencapaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh jajaran Lazismu, mulai dari tingkat pusat hingga daerah, serta dukungan masyarakat yang terus mempercayakan penyaluran dana ZIS melalui Lazismu.
Menurutnya, keberhasilan melampaui target menunjukkan bahwa pengelolaan dana umat memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan melalui penguatan komitmen, inovasi, dan kolaborasi berbagai pihak.
“Tentu ini merupakan kerja keras kita bersama. Mimpi-mimpi dan cita-cita yang barangkali tahun lalu kita anggap mustahil, tetapi dengan tekad yang kuat dan keyakinan, kita bisa sama-sama mencapai itu semua,” ujarnya saat membuka Muhammadiyah Zakat Summit 2026 di Radjawali Semarang Cultural Center Semarang, Jumat (6/11).
Dari total penghimpunan tersebut, infak menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp321,57 miliar. Berikutnya, dana kurban mencapai Rp263,09 miliar, zakat sebesar Rp195,17 miliar, dana sosial keagamaan lainnya (DSKL) Rp37,10 miliar, serta dana dam sebesar Rp10,76 miliar.
Sementara itu, dana yang telah disalurkan mencapai Rp635,02 miliar. Penyaluran tersebut menghasilkan Allocation to Collection Ratio (ACR) nasional sebesar 76,62 persen dan telah menjangkau sebanyak 132.225 penerima manfaat.
Mujadid Rais menjelaskan, target penghimpunan Rp1 triliun pada 2027 akan ditempuh melalui sejumlah strategi, terutama dengan mengembangkan inovasi pengumpulan dana, memperkuat kepercayaan publik, serta memperluas kemitraan dengan komunitas dan lembaga keuangan.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah mengintegrasikan pola penghimpunan konvensional dengan pemanfaatan teknologi digital. Dengan pendekatan tersebut, masyarakat dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui berbagai kanal yang lebih mudah dijangkau.
“Kita mencoba merangkul berbagai pihak, mengintegrasikan yang formal dan informal. Teman-teman atau muzaki yang mendonasikan secara tunai kita sinergikan dengan penghimpunan melalui kanal-kanal digital. Kita juga merangkul komunitas yang punya infrastruktur, baik itu masjid maupun lainnya,” jelasnya.
Penguatan penghimpunan berbasis masjid juga menjadi perhatian melalui program Back to Masjid. Selain memperluas jangkauan pengumpulan dana umat, strategi ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pencatatan, transparansi, dan tata kelola zakat sehingga pengelolaannya semakin terukur dan akuntabel.
Di sisi lain, Lazismu juga terus mengoptimalkan sembilan program strategis nasional sebagai wadah penyaluran dana ZIS berdasarkan kebutuhan masyarakat. Program tersebut meliputi Back to Masjid, Kampung Berkemajuan, Save Our School, Layanan Akses Kesehatan Pusat, Ketahanan Pangan, Muhammadiyah Water Care, Pengelolaan Sampah dan Limbah, Kemanusiaan dan Advokasi, serta Indonesia Siaga.
Melalui program-program tersebut, Lazismu berupaya memastikan dana yang dihimpun tidak hanya tersalurkan, tetapi juga memberikan manfaat nyata dalam menjawab berbagai persoalan sosial, pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kemanusiaan.
Ke depan, Mujadid Rais menekankan pentingnya memperbesar porsi penyaluran zakat produktif agar dana umat mampu mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. Selama ini, program pendidikan dan kesehatan menjadi sektor yang relatif kuat dalam penyaluran Lazismu. Namun, pengembangan ekonomi, pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta penciptaan pengusaha muda masih perlu mendapatkan perhatian lebih besar.
“Kita memang didorong untuk lebih berdampak dengan memanfaatkan zakat produktif, infak, dan sedekah. Selama ini kita kuat di pilar pendidikan dan kesehatan. Untuk pemberdayaan ekonomi, UMKM, serta mendorong pengusaha-pengusaha muda, memang masih relatif perlu ditingkatkan,” ungkap Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat itu.
Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) mencatatkan capaian penghimpunan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) secara nasional sebesar Rp827,69 miliar. Capaian tersebut melampaui target penghimpunan sebelumnya sebesar Rp801 miliar. Berbekal pertumbuhan tersebut, Lazismu optimistis meningkatkan penghimpunan dana umat hingga menembus Rp1 triliun pada 2027.
Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, menyampaikan bahwa pencapaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh jajaran Lazismu, mulai dari tingkat pusat hingga daerah, serta dukungan masyarakat yang terus mempercayakan penyaluran dana ZIS melalui Lazismu.
Menurutnya, keberhasilan melampaui target menunjukkan bahwa pengelolaan dana umat memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan melalui penguatan komitmen, inovasi, dan kolaborasi berbagai pihak.
“Tentu ini merupakan kerja keras kita bersama. Mimpi-mimpi dan cita-cita yang barangkali tahun lalu kita anggap mustahil, tetapi dengan tekad yang kuat dan keyakinan, kita bisa sama-sama mencapai itu semua,” ujarnya saat membuka Muhammadiyah Zakat Summit 2026 di Radjawali Semarang Cultural Center Semarang, Jumat (6/11).
Dari total penghimpunan tersebut, infak menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp321,57 miliar. Berikutnya, dana kurban mencapai Rp263,09 miliar, zakat sebesar Rp195,17 miliar, dana sosial keagamaan lainnya (DSKL) Rp37,10 miliar, serta dana dam sebesar Rp10,76 miliar.
Sementara itu, dana yang telah disalurkan mencapai Rp635,02 miliar. Penyaluran tersebut menghasilkan Allocation to Collection Ratio (ACR) nasional sebesar 76,62 persen dan telah menjangkau sebanyak 132.225 penerima manfaat.
Mujadid Rais menjelaskan, target penghimpunan Rp1 triliun pada 2027 akan ditempuh melalui sejumlah strategi, terutama dengan mengembangkan inovasi pengumpulan dana, memperkuat kepercayaan publik, serta memperluas kemitraan dengan komunitas dan lembaga keuangan.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah mengintegrasikan pola penghimpunan konvensional dengan pemanfaatan teknologi digital. Dengan pendekatan tersebut, masyarakat dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui berbagai kanal yang lebih mudah dijangkau.
“Kita mencoba merangkul berbagai pihak, mengintegrasikan yang formal dan informal. Teman-teman atau muzaki yang mendonasikan secara tunai kita sinergikan dengan penghimpunan melalui kanal-kanal digital. Kita juga merangkul komunitas yang punya infrastruktur, baik itu masjid maupun lainnya,” jelasnya.
Penguatan penghimpunan berbasis masjid juga menjadi perhatian melalui program Back to Masjid. Selain memperluas jangkauan pengumpulan dana umat, strategi ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pencatatan, transparansi, dan tata kelola zakat sehingga pengelolaannya semakin terukur dan akuntabel.
Di sisi lain, Lazismu juga terus mengoptimalkan sembilan program strategis nasional sebagai wadah penyaluran dana ZIS berdasarkan kebutuhan masyarakat. Program tersebut meliputi Back to Masjid, Kampung Berkemajuan, Save Our School, Layanan Akses Kesehatan Pusat, Ketahanan Pangan, Muhammadiyah Water Care, Pengelolaan Sampah dan Limbah, Kemanusiaan dan Advokasi, serta Indonesia Siaga.
Melalui program-program tersebut, Lazismu berupaya memastikan dana yang dihimpun tidak hanya tersalurkan, tetapi juga memberikan manfaat nyata dalam menjawab berbagai persoalan sosial, pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kemanusiaan.
Ke depan, Mujadid Rais menekankan pentingnya memperbesar porsi penyaluran zakat produktif agar dana umat mampu mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. Selama ini, program pendidikan dan kesehatan menjadi sektor yang relatif kuat dalam penyaluran Lazismu. Namun, pengembangan ekonomi, pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta penciptaan pengusaha muda masih perlu mendapatkan perhatian lebih besar.
“Kita memang didorong untuk lebih berdampak dengan memanfaatkan zakat produktif, infak, dan sedekah. Selama ini kita kuat di pilar pendidikan dan kesehatan. Untuk pemberdayaan ekonomi, UMKM, serta mendorong pengusaha-pengusaha muda, memang masih relatif perlu ditingkatkan,” ungkap Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat itu.
(MS)


