back to top
Sabtu, November 7, 2026

Mama-mama di Teluk Wondama Olah Sampah Rumah Tangga Jadi Pupuk untuk Tanam Sayuran

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Sampah rumah tangga yang selama ini dianggap tidak berguna kini dimanfaatkan mama-mama di Satuan Permukiman (SP) 1 dan 2 Tamoge, Kawasan Transmigrasi Werianggi, Teluk Wondama, Papua Barat, sebagai bahan pupuk organik. Melalui pendampingan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Indonesia (UI), mereka belajar mengolah limbah dapur menjadi ekoenzim dan sampah daun menjadi kompos untuk mendukung kegiatan pertanian di pekarangan rumah.

Pendampingan tersebut menjadi solusi atas keterbatasan warga dalam mengembangkan tanaman sayuran. Meski memiliki minat bercocok tanam yang tinggi, masyarakat selama ini menghadapi persoalan kesuburan tanah serta mahalnya biaya sarana pertanian.

Anggota TEP UI, Rathalia, mengatakan pengolahan sampah rumah tangga menjadi pupuk organik merupakan salah satu upaya untuk menjawab persoalan tersebut. Menurutnya, warga sebenarnya memiliki semangat besar untuk menanam sayuran, tetapi membutuhkan dukungan agar kegiatan pertanian dapat berjalan lebih optimal.

“Warga sangat bersemangat menanam sayur jika difasilitasi, tetapi tanahnya kurang subur. Oleh karena itu, kami berinisiatif mengolah sampah rumah tangga agar bermanfaat untuk menyuburkan tanah,” ujar Rathalia, Jumat (6/11/2026).

Kegiatan ini melibatkan 20 mama-mama dari SP 1 dan 2 Tamoge. Wilayah tersebut berjarak sekitar empat jam perjalanan dari Wasior sebagai kota terdekat. Selama ini, masyarakat setempat juga belum mendapatkan sosialisasi maupun pendampingan pengelolaan sampah dari Dinas Lingkungan Hidup.

Dalam pelatihan tersebut, warga diperkenalkan dengan pembuatan ekoenzim menggunakan bahan sederhana yang tersedia di lingkungan rumah. Kulit buah dan potongan sayuran yang tidak terpakai dikumpulkan untuk diolah menjadi cairan fermentasi.

Baca Juga:  Sekolah Jagat, Melatih Kepemimpinan Orang Muda Lintas Iman untuk Aksi Penyelamatan Bumi

Proses pembuatannya dilakukan dengan melarutkan 100 gram gula merah ke dalam satu liter air, kemudian mencampurkannya dengan 300 gram limbah organik yang telah dipotong kecil. Campuran tersebut disimpan dalam wadah tertutup di tempat teduh selama tiga bulan. Selama proses fermentasi, wadah sesekali dibuka untuk mengeluarkan gas yang terbentuk.

Selain dimanfaatkan untuk membantu menyuburkan tanaman, ekoenzim juga dapat digunakan sebagai bahan pembersih lantai dan membantu mengurangi bau pada tempat sampah. Sementara itu, sampah organik yang tidak digunakan dalam pembuatan ekoenzim diolah bersama daun kering menjadi kompos.

Perubahan kebiasaan tersebut mulai dirasakan masyarakat. Sampah dapur yang sebelumnya dibuang kini memiliki nilai guna untuk mendukung pertanian keluarga.

Mama Olhal Netennya, salah satu peserta pendampingan, mengaku mendapatkan pengalaman baru dalam mengelola sampah sekaligus merawat tanaman di pekarangan rumah.

“Sekarang sampah di rumah sudah tidak dibuang lagi. Setelah adik-adik datang, sampah kami olah untuk menyuburkan tanaman di pekarangan dan juga mengurangi kotoran. Sebelumnya kami hanya bakar rumput lalu abunya ditaruh di pohon-pohon,” tuturnya.

Ia berharap pengetahuan yang diperoleh melalui pendampingan tersebut dapat dibagikan kepada masyarakat lainnya agar semakin banyak warga yang memanfaatkan pekarangan untuk menanam sayuran.

Saat ini, mama-mama di Tamoge mulai menanam sejumlah komoditas pangan, seperti cabai, tomat, terong, dan sawi di sekitar rumah. Pemanfaatan pupuk organik dari sampah rumah tangga juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida kimia yang relatif mahal.

Baca Juga:  Cuaca Panas Melanda Indonesia, BMKG Jelaskan Penyebabnya

Inisiatif tersebut sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat kemandirian pangan melalui pemanfaatan sumber daya lokal. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menekankan pentingnya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pupuk dari luar negeri untuk memperkuat sektor pertanian nasional.

“Begitu kita lepas dari ketergantungan pupuk dari luar negeri, kita akan menjadi bangsa yang sangat-sangat kuat, Saudara-saudara,” ujar Prabowo dalam acara Panen Raya Jagung Serentak dan Groundbreaking 10 Gudang Ketahanan Pangan Polri, 16 Mei 2026.

Dalam konteks pemberdayaan masyarakat, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono juga mengingatkan agar kegiatan Tim Ekspedisi Patriot tidak berhenti pada identifikasi persoalan, tetapi mampu menghadirkan solusi yang dapat diterapkan masyarakat.

“Jangan sampai teman-teman Ekspedisi Patriot sudah turun ke lapangan, sudah mendengarkan masyarakat, kemudian berhenti di masalah. Kita harus menghadirkan solusi yang terbaik, relevan, feasible, dan masuk akal,” ujarnya saat berdialog dengan TEP di Jayapura, Papua, 17 September 2026.

Sementara itu, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan bahwa program pendampingan di kawasan transmigrasi harus menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.

“Jangan hanya meninggalkan laporan. Tinggalkan karya. Tinggalkan solusi. Dan yang paling penting, tinggalkan manfaat yang terus dirasakan masyarakat,” kata Iftitah pada 21 Juli 2026.

Melalui pengolahan sampah menjadi pupuk organik, pendampingan di Tamoge memperlihatkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dari potensi sederhana di lingkungan sekitar. Selain membantu mengatasi persoalan sampah, keterampilan tersebut membuka peluang bagi keluarga untuk memenuhi sebagian kebutuhan sayuran secara mandiri melalui pemanfaatan pekarangan rumah.

Baca Juga:  Asrama Pesantren di Aceh Ambruk Akibat Longsor

(MS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru