back to top
Jumat, Februari 13, 2026

Memaafkan Tak Berhenti pada Momen Lebaran

Lihat Lainnya

Muhammad Rapiq Hilal
Muhammad Rapiq Hilal
Asisten Dosen Psikologi UIN Sunan Kalijaga

Momentum hari raya biasa dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat Indonesia, terkhusus umat Islam. Tujuannya adalah untuk menjalin silaturrahmi sekaligus menjadi momen untuk saling minta maaf dan memaafkan bersama orang-orang terdekat di sekitarnya.

Meskipun di tengah kondisi pandemi yang masih berlangsung ini, tidak sedikit masyarakat yang tetap menjalin silaturrahmi atau sekadar meminta maaf melalui ucapan “Mohon maaf lahir dan batin”. Hal ini sering dilakukan, baik secara tatap muka langsung maupun via sosial media.

Konflik Intrapersonal dan Interpersonal

Pada dasarnya, manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup seorang diri. Maka, selain menjalani hari-hari dengan melaksanakan tugas sebagai individu, manusia juga tak bisa lepas dari berinteraksi dan membutuhkan orang lain.

Dalam hubungannya dengan sesama, tentu tak jarang seseorang akan mengalami konflik. Konflik yang terjadi dalam diri individu itu sendiri bisa disebut dengan konflik intrapersonal. Sebagaimana konflik interpersonal yang cenderung berpengaruh pada kesahatan psikis individu, maka konflik interpersonal pun tak kalah besar pengaruhnya terhadap kesehatan mental manusia.

Bukan hal yang mengejutkan jika manusia berbuat suatu kesalahan, karena sejatinya manusia tidak luput dari kesalahan dan lupa.

Konflik interpersonal pun dapat bermula dari kesalahan individu yang tidak disengaja, hingga menimbulkan rasa kecewa, marah, dendam, sakit hati, dan perasaan negatif lainnya. Dalam mengatasi konflik ini, tak jarang meminta maaf dan memaafkan menjadi alternatif yang sudah biasa dilakukan.

Baca Juga:  Makan, Bukan Cuma Soal Perut Kenyang!

Kerusakan Sistem Emosi, Dampak Kegagalan Pemaafan

Kata maaf sudah tidak asing lagi kita dengar dan ucapkan. Namun, terkadang kita lupa bagaimana memaknai dan seperti apa seharusnya kita memaafkan orang lain. Bukan hanya sekadar maaf dalam perkataan, tetapi juga bagaimana kita dapat menghilangkan seluruh perasaan dan persepsi negatif terhadap orang lain.

Bahkan, beberapa orang justru masih sangat sulit untuk memaafkan atau melupakan kesalahan orang lain yang telah dilakukan terhadapnya. Bagaimana ini bisa terjadi? Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan?

Beberapa pekan yang lalu, saya mengikuti seminar daring dengan seorang psikolog klinis, yaitu Bu Pihasniwati. Tema seminar tersebut adalah pemaafan. Beliau menyebutkan bahwa memaafkan akan berdampak pada kesehatan fisik, kesehatan psikologis, dan hubungan interpersonal/sosial.

Sikap tidak memberi maaf, akan dihadapkan pada 2 pilihan, yakni:

Pertama, mempertahankan kemarahan secara diam-diam, akan membuat individu menderita, hingga ia mampu membalas pelaku dengan tindakan tertentu.

Kedua, mengubah diri dengan memaafkan dan mengakhiri semua perasaan marah, benci, dan keinginan membalas serta menggantinya dengan emosi positif.

Teringat salah seorang tokoh, yaitu David A. Seamand yang menulis dalam bukunya berjudul “Healing for Damage Emotion”, menyebut dua sumber rusaknya emosi, yakni kegagalan memafkan orang lain (fail to forgive) dan kegagalan menerima permintaan maaf dari orang lain (fail to receive forgiveness). Kegagalan kita di dua hal itu menyebabkan kebencian dan kedendaman yang terus berlanjut, sehingga merusak sistem emosi.

Baca Juga:  Pukul Sapu: Tradisi Lebaran Masyarakat Maluku

Bayangkan jika sistem emosi kita rusak, betapa banyak keberuntungan yang akan terhambat, betapa banyak keputusan kita di masa mendatang yang akan tercemar, dan banyaknya situasi kondisi yang akan semakin semrawut, karena emosi kita yang tidak stabil.

Tahap Pemaafan

Ahli psikologi pemaafan, Enright (2002), ia membagi empat tahap pemaafan, yaitu:

Pertama, Uncovering Phase, yaitu suatu tahap di mana seseorang merasa sakit hati dan dendam.

Kedua, Decision Phase, suatu tahap di mana seseorang mulai memikirkan kemungkinan untuk memaafkan. Pemahaman akan ajaran agama, ajaran moral, serta umpan balik dari orang lain akan banyak membantu seseorang untuk memikirkan kemungkinan memaafkan.

Ketiga, Work Phase, yaitu suatu tahap di mana secara rasional seseorang menyadari penting untuk dimaafkan.

Keempat, terakhir, Deepening Phase, yaitu suatu tahap di mana terdapat internalisasi kebermaknaan dari memaafkan.

Setelah melewati fase keempat itu, individu dapat benar-benar memaafkan orang lain yang menjadikannya bebas dari marah, benci, sakit hati, dendam, dan sejenisnya. Intinya adalah pemaafan yang diberikan oleh seseorang membutuhkan suatu proses, dari sakit hati hingga membebaskan diri dari belenggu peristiwa yang menyakitkan itu, dan berakhir pada tindakan kebaikan hati kepada pelaku.

Kemudian, dalam penelitian yang dilakukan oleh Frederick Luskin yang menemukan bahwa orang yang memaafkan; hidupnya akan jauh lebih bahagia, tidak mudah marah dan tidak mudah tersinggung, dapat membina hubungan yang lebih baik dengan sesama, dan semakin jarang mengalami konflik dengan orang lain.

Baca Juga:  Manusia, Khalifah yang Harus Kembali ke Fitrah

Oleh karenanya, kita harus senantiasa menjadi individu yang berani meminta maaf, memberi maaf, dan saling memaafkan, agar dapat memperoleh kualitas hidup yang baik.

Editor: Lely N

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru