In-Depth

Mens Rea Pandji Pragiwaksono: Pendidikan Politik Masyarakat “Pinggir Jurang”

3 Mins read

Pandji Pragiwaksono kembali menghadirkan special show stand-up comedy ke-10-nya yang berjudul Mens Rea. Pertunjukan ini pertama kali digelar secara langsung di Indonesia Arena, Jakarta, pada 30 Agustus 2025, di hadapan sekitar 10 ribu penonton. Kemudian, pada 27 Desember 2025, Mens Rea tayang di Netflix tanpa sensor dan langsung menjadi perbincangan luas, bahkan menduduki posisi teratas di kategori TV Shows untuk Indonesia.

Istilah mens rea diambil dari hukum pidana, yang merujuk pada “niat jahat” atau kesadaran bersalah di balik sebuah perbuatan. Pandji menggunakan konsep ini sebagai kerangka untuk menyajikan materi yang tidak hanya menghibur, tapi juga mengajak penonton merenungkan niat dan kesadaran dalam berbagai isu sosial serta dinamika politik. Selama hampir dua setengah jam, ia berjalan di “pinggir jurang”, materi yang tajam, berisiko, tapi tetap terukur, sambil sering menyelipkan frasa “Menurut keyakinan saya…” sebagai penanda perspektif pribadi.

Pernyataan Nyentrik Pandji di Mens Rea

Salah satu contoh materi yang ikonik adalah saat Pandji membahas cara masyarakat memilih pemimpin. Ia menyatakan, “Ada yang memilih pemimpin berdasarkan tampang. Banyak. ‘Ganjar ganteng ya’, ‘Anies manis ya’, ‘Prabowo gemoy ya’, atau, wakil presidennya, ‘Gibran ngantuk ya’. Salah, salah, salah nada.” Dengan mimik dan gestur yang tepat, segmen ini tidak hanya memicu tawa, tapi juga mendorong refleksi tentang faktor apa yang seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam pilihan publik.

Pandji juga menyentuh fenomena selebritas di ranah legislasi, seperti dengan sindiran, “Mana mungkin Verrel Bramasta jadi anggota DPR? Menurut keyakinan saya mah, dia enggak ngerti undang-undang, anggaran. Dia mah ngertinya jadi ganteng.” Ia pun menganalogikan peran lembaga tertentu dengan, “Main enggak, komentar melulu. Merasa penting,” yang menggambarkan situasi seseorang hanya menonton permainan catur tanpa ikut bermain. Materi-materi seperti ini, termasuk plesetan tentang Badan Legislasi dan Badan Anggaran, berhasil mengemas topik kompleks menjadi mudah dicerna.

Baca Juga  Buya Syafii Sarankan Jokowi Keluarkan Perppu Pengganti UU KPK Terbaru

Segmen lain yang kuat adalah pembahasan “no viral no justice”, yang ditutup dengan kalimat, “Berharap kepada siapa? Polisi kita membunuh, tentara kita berpolitik, presiden kita mau memaafkan koruptor, wakil presiden kita… Gibran.” Kalimat ini bahkan mendapat standing ovation, menunjukkan bagaimana humor bisa menjadi alat untuk menyuarakan kegelisahan bersama.

Mens Rea: Cara Belajar Politik yang Menarik ala Pandji

Bayangkan sebuah kelas kewarganegaraan yang tidak membosankan, tanpa dosen yang menggurui, tapi justru dipenuhi tawa lepas, namun di akhir sesi, Anda pulang dengan pikiran yang lebih tajam. Begitupun juga dengan Pandji, tidak sekadar melontarkan lelucon ringan; ia menyajikan kelas kewarganegaraan yang instan dan menghibur. Topik berat seperti hukum, privilege, kompetensi pemimpin, hingga kebiasaan publik dalam memilih berdasarkan popularitas atau agama, diramu dengan ironi yang cerdas. Ia tidak menggurui, tapi membiarkan penonton sampai pada kesadaran sendiri.

Hukum yang biasanya kaku menjadi hidup, politik yang rumit disederhanakan tanpa kehilangan esensi. Yang membuatnya “pinggir jurang” adalah kedekatannya dengan batas sensitivitas, nyaris menyentuh nama dan wajah nyata, tapi selalu berhenti setengah langkah dengan bahasa yang hati-hati.

Pendekatan ini membuat Mens Rea lebih dari hiburan. Ia menjadi medium alternatif untuk pendidikan politik ketika saluran konvensional terasa kurang menjangkau. Pandji menyindir tidak hanya pada figur publik, tapi juga pada kebiasaan kita sendiri: mudah tersinggung tapi malas memeriksa fakta, cepat bereaksi tapi lambat memahami. Tawa yang lahir dari sini bukan tawa kosong, melainkan tawa yang mengajar—membuat penonton lebih aware terhadap niat di balik keputusan sehari-hari.

Meski demikian, materi “pinggir jurang” ini memicu respons beragam. Pandji dilaporkan ke polisi atas tuduhan menghasut dan menistakan agama. Namun, banyak pihak membela bahwa satire seni seperti ini merupakan bentuk kebebasan berekspresi. LBH Jakarta menyatakan,

Baca Juga  Gus Dur: Kiai Humoris yang Terkenal Sampai Mancanegara

“Kritik dan satire, termasuk melalui pertunjukan seni, merupakan kebebasan berpendapat dan berekspresi. Hal tersebut juga bagian penting dari demokrasi yang sehat.”

Pendidikan Politik melalui Humor

Ini menegaskan bahwa pendidikan politik melalui humor, meski berisiko, memiliki tempat penting dalam diskusi publik.

Satire politik memiliki akar sejarah panjang, dari Aristophanes di Yunani Kuno hingga era modern, di mana humor digunakan untuk mengomentari norma sosial dan kekuasaan. Di konteks saat ini, Mens Rea mencerminkan bagaimana panggung komedi bisa menjadi ruang pendidikan yang efektif, terutama bagi generasi muda yang lebih akrab dengan bahasa ringan dan visual.

Pandji, yang memulai karier dari radio hingga menjadi pilar stand-up comedy Indonesia sejak 2010, dikenal dengan gaya kritisnya. Melalui buku, podcast, dan komunitas yang ia bangun, ia konsisten menyampaikan gagasan dengan risiko. Mens Rea membuktikan bahwa pendidikan politik tidak harus formal, bisa datang dari panggung, dibungkus tawa, dan tetap mengena meski di pinggir jurang.

Pertunjukan ini meninggalkan pesan bahwa kesadaran politik adalah tanggung jawab bersama. Bukan solusi instan, tapi kegelisahan kecil yang mendorong kita berpikir lebih dalam tentang niat kita sendiri dalam menyikapi isu-isu sekitar. Di era digital, lewat Netflix, pendidikan semacam ini kini menjangkau audiens lebih luas, membuka ruang diskusi yang lebih inklusif.

(Assalimi)

Related posts
In-Depth

Board of Peace Gaza ala Donald Trump, Apa dan Bagaimana Sikap Indonesia?

5 Mins read
Inisiatif Presiden Trump untuk membentuk sebuah “Dewan Perdamaian” (Board of Peace) bagi konflik-konflik global, khususnya perang di Gaza, telah memicu skeptisisme tajam…
In-Depth

Eropa Menuju Perang Dunia III?

4 Mins read
Isu Perang Dunia III kembali mengemuka. Hal ini terjadi terutama menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Uni Eropa di Brussels, Swiss pada 22…
In-Depth

Kapal Induk Amerika Dikirim ke Timur Tengah, Siap Invasi Iran?

2 Mins read
Kapal induk USS Abraham Lincoln milik Amerika Serikat dan beberapa kapal perang pengawalnya sedang menuju Timur Tengah dari Laut Cina Selatan di…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *