Empat Humor Kiai Hasyim Muzadi - IBTimes.ID
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Empat Humor Kiai Hasyim Muzadi

2 Mins read

Siapa yang tidak mengenal dengan Kiai Hasyim Muzadi. Mantan ketua umum PBNU dan seorang tokoh bangsa sekaligus tokoh Islam yang terkenal dengan ceramahnya yang menyejukkan, serta mampu “menghipnotis” siapa saja yang mendengarnya.

Selain itu, pendiri pesantren Al-Hikam Malang dan Depok ini selalu memiliki humor-humor yang segar dan selalu menyelipkannya dalam ceramah-ceramahnya. Bisa dibilang selera humor Kiai Hasyim ini tak jauh berbeda dengan Gus Dur. Bahkan di buku Biografi A. Hasyim Muzadi Cakrawala Kehidupan, disebutkan bahwa terkadang Gus Dur pun mendapatkan cerita humor dari Kiai Hasyim Muzadi.

Meski beliau sudah wafat, humor-humor beliau ini lumayan banyak terekam, baik terekam dalam buku yang ada kaitannya dengan beliau, maupun terekam dalam rekaman ceramahnya yang banyak sekali di YouTube. Di bawah akan saya sadurkan empat humor beliau yang penulis dapatkan dari buku dan ceramah beliau.

Humor Pertama: Gelar Doktor

Humor pertama ini terekam dalam buku Biografi A. Hasyim Muzadi Cakrawala Kehidupan. Dikisahkan, pada saat itu beliau menerima gelar kehormatan Doktor Honoris Causa yang diberikan oleh IAIN—sekarang UIN Sunan Ampel Surabaya. Begini kisahnya.

Sewaktu mendapat gelar kehormatan Doktor Honoris Causa di bidang Peradaban Islam dari IAIN Sunan Ampel. Kiai Hasyim membuka pidatonya dengan candanya yang khas,

“Alhamdulillah dan terima kasih atas penghargaan Doktor Honoris Causa yang diberikan IAIN Sunan Ampel Surabaya kepada saya. Namun, saya perlu konfirmasikan, apakah saya ini diberi gelar ‘Doktor Honoris Causa’ ataukah ‘Doktor Humoris Causa’? Soalnya bisa campur-campur.” tutur Kiai Hasyim, diikuti tawa riuh dari para hadirin.

Humor Kedua: Pilkada

Setelah berakhirnya Pilkada, saya juga jadi teringat salah satu humor Kiai Hasyim tentang Pilkada. Kisah ini terekam dalam buku yang sama, yaitu buku Biografi A. Hasyim Muzadi Cakrawala Kehidupan.

Saat itu, beliau dan istrinya sedang menghadiri pengajian menjelang Ramadhan yang digelar PCINU Saudi Arabia di Wisma Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah.

Baca Juga  Warga Muhammadiyah Tidak Lucu dan Itu Sah-sah Saja

Beliau waktu itu mengisi pengajian yang diadakan di sana. Di sela-sela ceramahnya, beliau bertanya kepada jemaahnya,

“Apa bedanya pil KB dengan Pilkada?” tanya Kiai Hasyim. Seisi ruangan terdiam karena tak tahu jawabannya.

“Kalau Pilkada, kalau jadi, lupa. Sedangkan pil KB, kalau lupa, jadi,” tutur Kiai Hasyim
diikuti gemuruh tawa para hadirin.

Humor Ketiga: Kiai Hasyim Muzadi dan Gus Dur

Siapa yang tidak kenal dengan KH. Abdurrahman Wahid. Beliau merupakan mantan ketua PBNU dan memiliki nasab langsung kepada sang pendiri Nahdlatul ‘Ulama, KH. Hasyim Asy’ari, dari jalur ayahnya, yaitu KH. Wahid Hasyim.

Namun, meski beliau mantan ketua PBNU dan cucu dari pendiri Nahdlatul ‘Ulama, ternyata NU-nya Gusdur dan NU-nya Kiai Hasyim Muzadi lebih lama NU-nya Kiai Hasyim Muzadi.
Kok bisa begitu? Begini kisahnya.

Cerita ini saya kutip dari kanal YouTube alhikamdepok dengan judul “KH. Hasyim Muzadi: Berbicara dengan Gus Dur Bersama Greg Barton”.

Di video itu sesuai judulnya, yaitu membahas tentang Gus Dur dari sudut pandang Kiai Hasyim Muzadi, yang saat itu merupakan juru bicara pemikiran Gus Dur. Dan salah satu cerita lucunya terletak di awal video, begini ceritanya.

“Saya mengenal Gus Dur tahun 1979, dan terus bersama beliau (Gus Dur) hingga tahun 1999. Jadi 20 tahun penuh saya mendampingi beliau dan menjadi juru bicara pemikiran beliau yang sulit-sulit itu,” ungkap Kiai Hasyim.

“Ketika tahun 1979 beliau baru datang dari luar negeri, kemudian ketemu di Muktamar NU di Semarang. Saya sudah ketua cabang NU di Malang beliau belum masuk NU. Jadi NUnya saya lebih dulu dari NUnya Gus Dur.” tutur Kiai Hasyim diikuti tawa dari para audiens.

Baca Juga  Lukman Harun (2): Memotret Dunia Islam

Humor Keempat: Hukum

Di video yang sama, saat itu Kiai Hasyim Muzadi sedang berbincang mengenai pemikiran Gus Dur dan menjelaskan bedanya penerapan hukum saat masa Nabi Muhammad dengan masa sekarang. Kurang lebih Kiai Hasyim berkata begini,

“Rasulullah (pernah) menyampaikan bahwa, ‘Semua harus sama di depan hukum, sekalipun anak saya. Sekalipun anak saya melanggar, dia harus dihukum’.” kata Kiai Hasyim.

Lalu beliau menambahkan, “Nah ini bedanya di negeri kita, siapa saja boleh dihukum kecuali anak saya,” tutur Kiai Hasyim diikuti tawa para hadirin.

Editor: Zahra

Related posts
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Buletin Jumat: Teladan Kearifan Imam Al-Ghazali

3 Mins read
Hentikan lidahmu (menuduh kafir atau sesat) kepada ahli kiblat (umat Islam) selama mereka masih mengucapkan lâ ilâha illallâh muhammadur rasûlullâh (Imam Ghazali)….
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Pemikiran Jalaludin Rakhmat (2): Eksitasi Teologi Menyelamatkan Kemanusiaan

6 Mins read
Pembahasan pada bagian sebelumnya telah menyinggung beberapa pemikiran Jalaludin Rakhmat. Selain itu, diulas pula pendapat Jalaludin Rakhmat tentang peran agama di era…
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Kang Jalal, Kyai Sufistik yang Cerdas Intelektual dan Moral

3 Mins read
Dunia pemikiran Islam Indonesia kembali terguncang dengan kembalinya kehadirat Tuhan seorang pemikir Islam garda depan, cendekiawan yang sufistik Dr KH Jalaluddin Rakhmat….

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa