Gus Dur: Kiai Kampung dengan Kearifan Lokal - IBTimes.ID
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Gus Dur: Kiai Kampung dengan Kearifan Lokal

4 Mins read

KH. Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur merupakan Putra dari pasangan KH. Wahid Hasyim dan Nyai Hajjah Solichah. Ia merupakan tokoh plulasrisme dan humanisme. Lahir di Jombang pada tanggal 7 September 1940 dengan nama Abdurrahman Ad-Dakhil yang mengambil nama dari salah seorang pahlawan dari Dinasti Bani Umayyah yang berhasil membawa Islam ke Spanyol dan mendirikan peradaban di sana.

Ia merupakan seorang intelektual yang disegani banyak orang baik umat muslim maupun non muslim di Indonesia, Panggilan Bapak bangsa, Guru Bangsa, Bapak pluraisme melakat pada dirinya. Dua hal yang menjadi peranan sentral dalam melaksanakan tugasnya selalu mengedepankan pesantren dan Nahdlatul Ulama’ karena ia lahir dan dibesarkan di lingkungan pesantren dan merupakan Cucu pendiri Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’ yakni Hadratussyaikh  Hasyim Asy’ari, kedua hal inilah yang terus mempengaruhi pada pemikirannya mengenai dunia keislaman.       

Menurut Gus Dur, dunia pesantren memiliki peranan yang cukup vital dalam kariernya.  Ia selalu menggunakan bahasa humor ketika berhadapan dengan kawan, sahabat, ataupun lawan dalam kancah perpolitikan.

Selain itu, ia salah satu tokoh yang peduli dengan adanya kearifan lokal dan berwawasan kebangsaan salah satu yang bisa dilihat dari pemikirannya yaitu tentang pribumisasi Islam. Latar belakang kyai kampung yang kental dengan nuansa kesederhanannya inilah yang terus mendorong Gus Dur untuk selalu menyebarkan islam yang santun, Islam yang mampu diterima oleh kalangan apapun.

Melalui pendekatan budaya lokal dan nilai-nilai Islam Gus Dur banyak memberikan peranan penting untuk bisa memecahkan suatu problem yang terjadi di masyarakat. Lewat kesederhanaannya dalam pergaulan sehari-hari pribumisasi Islam dibawa Gus Dur dengan melakukan sebuah terobosan pemikiran yang memberikan solusi dalam menghadapi problematika sosial yang ada di masyarakat.

Baca Juga  Al-Ghazali dan Banalitas Intelektual

Dengan membangun islam sesuai dengan ajaran-ajaran islam yang ada di Indonesia sesuai kultur dan tradisinya. Pergaulan dan pengalaman beliau sangatlah luas serta bacaannya begitu banyak sehingga menjadikan wawasan beliau sangatlah luas dan menpunyai intelektual begitu tinggi. Dan juga Gus Dur, memiliki pemikiran kosmopolit Islam era klasik yang ditunjukan dengan watak keterbukaannya dalam menerima berbagai pemikiran yang lahir dan muncul baik dari dalam islam sendiri ataupun dari luar.

Local Wisdom

Kebudayaan kearifan lokal (Local Wisdom) menjadi sektor yang sangat penting dalam setiap pemikiran Gus Dur, Melalui kebudayaan keraifan lokal inilah, Gus Dur mengajak untuk selalu menghargai, menerima, dan saling merangkul antara budaya satu dengan yang lainnya, Karena menurut pandangan Gus Dur islam akan dihargai jika dengan perasaan yang santun penuh dengan nilai-nilai moral yang berkaitan dengan al-Qur’an dan sesuai dengan pendekatan kultur yang ada dimasyarakat.

Konsep pribumi islam yang dihadirkan oleh Gus Dur tidak menimbulkan perlawanan dengan pihak apapun, akan tetapi justru mengkokohkan akar-akar kebudayaan setempat dengan berusaha menciptakan masyarakat yang taat beragama.

Jadi pada intinya Pribumisasi Islam adalah menampik anggapan bahwa islam adalah arab atau arabisasi akan tetapi, Islam adalah ajaran nilai-nilai agama islam yang mengkolaborasikan antara budaya dan tradisi lokal yang membentuk masyarakatnya bermoral dan beretika sosial taat beragama.

Bagi Gus Dur, Upaya untuk menjadikan pribumi Islam yang kemudian dapat diterima dimasyarakat yaitu dengan langkah selalu menanamkan nilai-nilai kearifan lokal yang berdasarkan tradisi dan ajaran islam untuk dijadikan landasan moral dalam kehidupan masyarakat.

Penekanan nilai-nilai Islam yang dikolaborasikan dengan kearifan lokal yang dilakukan oleh Gus Dur yang Pertama, pengenalan pertumbuhan islam secara historis melalui studi kesejarahan yang bersifat klasik. Pengkajiansejarah islam klasik dengan mendalami sebuah peradaban yang membentuk watak dan pemahaman mengenai tradisi Islam nusantara.

Baca Juga  Pak AR Fachruddin: Sosok Penyelamat Pancasila

Kedua, Gus Dur mengenalkan pemikiran sistematis dengan merujuk pada kenyataan objektivitas yang ada dalam tata kehidupan kaum muslimin melalui studi empiris mendalam. Melalui studi empiris ini maka akam melahirkan suatu pemahaman yang tajam, kritis, tentang paradigma islam secara normatif dan menganalisis semua permasalahan bangsa dengan menggunakan pemikiran para tokoh-tokoh islam klasik sesuai dengan konteks yang ada di masyarakat.

Ketiga, Melakukan pembenahan secara ideologis pada pemahaman masyarakat mengenai pentingnya mengkaji lebih dalam tentang kehidupan beragama sebagai sistem kemasyarakatan yang mampu memberikan prioritas besar kepada muslim dunia dan sebagai warisan pemahaman yang sehat dan berimbang.

Realitas dan Spiritual

Gus Dur pernah mengungkapkan “Guru spiritual saya adalah realitas, guru realitas saya adalah spiritual.” Maksud dari ungkapan tersebut bisa kita pahami bersama bahwasanya realitas dan spiritualitas sebagai landasan yang selalu berkaitan dengan tradisi dan budaya yang mampu membangun watak pluralisme dan toleran dalam mengenalkan karakter islam dalam kehidupan masyarakat.

Konsep Gus Dur dalam membangun masyarakat untuk memahami agama sebagai suatu yang tidak dapat dipisahkan dengan mengajak masyarakat melalui pemikirannya untuk selalu menghayati nilai-nilai budaya dengan perasan dan emosi mengedepankan kearifan lokal secara rasional.

Makna pribumisasi islam tidak juga memiliki arti yang sempit, akan tetapi inti pribumisasi islam harus mampu relevan dengan menyatukan ajaran islam dengan kebudayaan secara luas untuk bisa memenuhi kebutuhan masyakat, atau dengan arti lain seharusnya Islam bisa bersikap multidimensional yang mampu menjalani kehidupan dalam rangka membangun watak etika sosial yang tetap berpijak pada nilai-nilai dasar ajaran agama islam.

Baginya, memahami dan memaknai ajaran agama, tidak bisa terlepaskan dari sisi kemanusiaan. Oleh karena itu, untuk bisa menjadi penganut agama yang baik, selain meyakini kebenaran ajaran agamanya juga harus menjunjung tinggi rasa kemanusiaan. Rasa kemanusiaan yang tinggi maka akan melahirkan persaudaraan yang kuat. Nilai-nilai dasar kemanusiaan selalu menjadi acuan Gus Dur dalam bersikap dan bertindak menghadapi problem yang terjadi untuk membangun masyarakat kondusif , aman dan sejahtera.

Baca Juga  Lukman Harun (2): Memotret Dunia Islam

Nilai-nilai dasar kearifan lokal yang bisa menjadi tauladan dari sosok Gus Dur adalah menjadikan agama islam yang mampu berperan aktif membangun watak kosmapolitan peradaban islam yang sudah di rintis oleh para pemikir masa klasik islam sebagai wujud menjaga peradaban yang mampu membentang di era globalisasi dan berjalan beriringan, tanpa meninggalkan kultur budaya yang sudah sejak lama diterapkan oleh masyarakat setempat. Menjadi islam santun dengan selalu menjunjung tinggi dan menghargai perbedaan dengan mengedepankan sisi kemanusiaan itulah nilai kearifan lokal yang bisa kita jalankan bersama sesuai dengan pemikiran Gus Dur.

Maka dari itu, Peran kita sebagai pemuda wajib meneladani nilai-nilai pemikiran yang sudah Gus Dur wariskan untuk selanjutnya bisa kita kerjakan di masa sekarang dan masa yang akan datang.

Editor: Dhima Wahyu Sejati

Aisy Hanif firdaus
1 posts

About author
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Articles
Related posts
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Muhammad Asad (2): Telaah Atas Hadith dan Sejarahnya

7 Mins read
Sebelum membahas telaah Asad ke atas hadith dan sejarahnya, telah dibahas latar belakang seorang Muhammad Asad. Asad yang mendalam terhadap hadith sebenarnya…
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Sayyid Qutb: Ideologi Radikal itu Jahiliyah Modern!

3 Mins read
Sayyid Qutb dikenal sebagai tokoh modern Islam yang sangat kontroversial dengan berbagai macam pemikirannya yang kritis dan mendalam. Sehingga, banyak orang di…
Ar Rasikhuna fil Ilmi

Muhammad Asad (1): Anugerah Eropa Kepada Islam

5 Mins read
Tulisan ini menyorot fikrah hadith Muhammad Asad (1900-1992) dan kontribusinya dalam pemahaman hadith kontemporer. Ia membincangkan kefahaman asas tentang hadith yang dirumuskan…

Tinggalkan Balasan