Lukman Harun (2): Memotret Dunia Islam - IBTimes.ID
Ulama

Lukman Harun (2): Memotret Dunia Islam

4 Mins read

Salah satu buku karya Lukman Harun ialah Potret Dunia Islam (1985). Buku tersebut merangkum catatan perjalanan beliau mengunjungi berbagai negara di lima benua.

Salah satu negara di Afrika yang dikunjungi Lukman Harun tahun 1983 ialah Kenya. Dari sisi geografis, Kenya berbatasan dengan Somalia, Ethiopia, Uganda dan Tanzania. Kenya merupakan negara dengan jumlah penduduk miskin cukup besar. Dalam kaitan ini kemiskinan umat Islam di Kenya memberikan gambaran potret negara-negara muslim di benua tempat kelahiran Nelson Mandela itu.

Walaupun Islam agama mayoritas di sejumlah negara Afrika Hitam, tetapi di beberapa negara umat Islam tidak mempunyai peranan dalam pemerintahan. Negeri mereka suram akibat perang saudara, ditambah kemiskinan dan kelaparan yang menyedihkan. Contohnya ialah Kenya yang wilayah negaranya meliputi Kepulauan Lamu, dicatat oleh beberapa penulis sebagai bekas negara Islam pertama setelah Madinah. Menurut data, umat Islam di Kenya diperkirakan berjumlah 35 persen. Tapi pers Barat selalu memperkecil jumlah umat Islam di Afrika. Kenya bahkan menjadi pusat kegiatan Kristen untuk Afrika Timur dan bagian-bagian Afrika lainnya.

Lukman Harun mengungkapkan betapa miskinnya keadaan umat Islam di Kenya hingga tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya.  “Seorang yang sudah agak tua, menceritakan bahwa anaknya telah tamat SMA dan ingin melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi, tetapi orang tuanya tidak mampu. Anaknya mengirim surat kepada berbagai negara Arab untuk meminta beasiswa, tetapi tidak mendapat jawaban. Dia lantas berkirim surat kepada sebuah yayasan dari Gereja Kristen. Suratnya itu segera mendapat jawaban yaitu beasiswa untuk belajar di Canada. Tetapi orang tuanya takut, kalau anaknya menjadi Kristen.”

Seorang anak muda mendekati saya – tulis Lukman Harun – dia ingin bicara dari hati ke hati. Anak muda ini berasal dari keluarga yang sangat miskin tetapi taat beragama. Dia ingin melanjutkan pendidikan, tetapi orang tuanya tidak mampu. Dia pun mengirim surat kepada berbagai negara Arab untuk minta bantuan dan beasiswa, tetapi sama sekali tidak mendapat jawaban. Kemudian dia minta beasiswa kepada Gereja setempat dan diberi beasiswa. “Dengan perasaan sedih anak muda tersebut mengatakan kepada saya, kenapa negara-negara Arab yang kaya tidak memperhatikan nasib umat Islam di Kenya? Buat apa uang mereka yang banyak itu? Orang Kristen dari Eropa, Canada, Australia dan Amerika Serikat datang ke Kenya untuk menyebarkan agama Kristen dengan memberikan segala macam fasilitas. Tetapi tidak ada satu pun orang Islam dari luar negeri yang memperhatikan nasib umat Islam di sini.” ungkap Lukman Harun.    

Baca Juga  Gus Dur: Kiai Kampung dengan Kearifan Lokal

Lebih lanjut Lukman Harun menuturkan, “Saya termenung mendengar ungkapan hati anak muda ini. Suatu jeritan umum yang dialami masyarakat Muslim di mana-mana. Kita banyak bicara ukhuwah Islamiyah, tetapi dalam kenyataannya, jauh dari itu. Banyak negara Islam atau umat Islam yang sangat kaya, di samping itu banyak pula terdapat umat Islam yang sangat miskin. Umat Islam yang sangat kaya umumnya di negara-negara minyak di Timur Tengah, sedangkan umat Islam yang miskin betul, di Afrika. Sayang, yang kaya tidak memperhatikan yang miskin. Akhirnya, datang Missi dan Zending Kristen memberikan bantuan kepada mereka.”

Salah satu yang kita kagumi, keyakinan umat Islam di Afrika terutama di Afrika Hitam tidak tergoyahkan walaupun hidup di bawah tekanan kemiskinan dan penderitaan berkepanjangan. “Saya bangga melihat keyakinan mereka akan Islam yang tidak goyah, walaupun mereka miskin. Mereka tidak mau pindah agama, walaupun dirayu dengan uang, makanan, pengobatan, beasiswa dan sebagainya. Inilah salah satu keanehan Islam di Afrika, terutama di Afrika Hitam. Umat Islam umumnya miskin, dakwah hanya dilakukan secara tradisional, tanpa organisasi yang baik, tanpa dana, tanpa rencana, kekurangan guru agama, kekurangan muballigh dan lain sebagainya. Tetapi Islam terus berkembang dengan berbagai cara. Karena itu pulalah Afrika tetap merupakan benua Islam karena penduduknya mayoritas tetap beragama Islam.” tulis beliau.    

Menjelang kunjungan kenegaraan dan pastoral Paus Yohanes Paulus II ke Indonesia, tanggal 9 – 14 Oktober 1989, Lukman Harun menemui Presiden Soeharto untuk mendiskusikan masalah tersebut. Lukman Harun memberikan masukan kepada presiden agar kunjungan pemimpin tertinggi umat Katolik seluruh dunia itu dibatasi supaya tidak menimbulkan dampak yang kurang baik bagi umat Islam.      

Baca Juga  K.R.H Hadjid: Peletak Kajian Tafsir Al-Qur’an Pertama di Muhammadiyah

Pagi Jumat 9 April 1999, seorang kawan mengabari saya bahwa Lukman Harun meninggal dunia Kamis 8 April 1999 pukul 12.45 WIB di RS Islam Jakarta, dan akan dimakamkan usai shalat Jumat di TPU Tanah Kusir Jakarta Selatan. Jenazah Lukman Harun dishalatkan di Masjid Istiqlal, diimami oleh K.H. Muchtar Natsir (Imam Besar Masjid Istiqlal). Pidato pelepasan jenazah di Masjid Istiqlal disampaikan oleh Menteri Agama Prof. A. Malik Fadjar, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof. K.H. Ali Yafie, serta Duta Besar Arab Saudi di Jakarta Abdullah bin Abdurrahman Halim.  Jenazah almarhum disemayamkan beberapa saat di Gedung MPR-DPR-RI. Saya menghadiri pemakaman jenazah Lukman Harun di TPU Tanah Kusir. Banyak orang menghadiri pemakamannya.

Dengan meninggalnya Lukman Harun, Persyarikatan Muhammadiyah kehilangan salah satu kader terbaiknya. Umat Islam dan bangsa Indonesia kehilangan seorang tokoh yang menjadi “duta umat Islam Indonesia” di dunia internasional. Hampir separoh hidupnya diabdikan untuk pergerakan Islam dan perjuangan bangsa. Di berbagai lembaga/organisasi, termasuk MUI, Lukman Harun pernah aktif sebagai anggota Dewan Pimpinan MUI periode 1975 – 1980 dan kemudian Ketua Hubungan Luar Negeri MUI. Di lingkungan organisasi Muhammadiyah, Lukman Harun pernah menjadi Wakil Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah mendampingi K.H. A.R. Fachruddin.  

Mengutip pandangan Prof. Harun Zain, mantan Gubernur Sumatera Barat dan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi seputar teladan dari perjalanan hidup Lukman Harun dalam buku Lukman Harun Dalam Lintasan Sejarah dan Politik bahwa beliau (Lukman Harun) adalah seorang yang berjiwa kemasyarakatan yang tulen walaupun kehidupan keluarganya adalah pas-pasan saja. Bukan saja generasi muda dapat belajar dari pengalaman hidup beliau, malahan kita-kita yang sudah tua ini dapat pula mencontoh pengalaman sejarah hidup beliau. Pergaulannya sangat luas dalam masyarakat. Mulai dari pergaulannya dengan presiden sampai dengan padagang kaki lima. Kita mengetahui bahwa pergaulan yang luas dalam masyarakat adalah modal yang sangat berguna bagi seorang pemimpin yang dapat menimbulkan kepercayaan dari pengikut-pengikutnya. Kepercayaan kepada pemimpin inilah yang akhir-akhir ini sudah menjadi barang langka.

Baca Juga  KH.Faqih Usman : Sosok Kader, Ulama, dan Politikus

Saya pernah satu forum dengan beliau dalam acara rapat dan pernah juga melakukan komunikasi melalui tilpon. Sebagai tokoh kaliber nasional, Lukman Harun dikenal hingga ke manca negara. Ia bukan tipe orang yang tinggi hati atau jaga image. Lukman Harun memiliki kepribadian yang terbuka dan well come terhadap siapa saja.   

Editor: Dhima Wahyu Sejati

M. Fuad Nasar
5 posts

About author
Merupakan Akitivis zakat. Penulis buku Fiqh Zakat Indonesia yang diterbitkan BAZNAS tahun 2015. Menjadi anggota tim editor buku Ensiklopedi Pemikiran Yusril Ihza Mahendra (2015/2016)
Articles
Related posts
Ulama

Ibnu al-Haitham; Ilmuan Muslim Pencetus Kamera Obscura dan Ilmu Optik

2 Mins read
Zaman sekarang, ragam jenis kamera yang kian canggih semakin dikembangkan. Kamera bukan hanya dibutuhkan untuk mengabadikan momen seperti foto, namun juga dipakai…
Ulama

Anak Muda Harus Menimba Ilmu dan Hikmah dari Buya Syafii

4 Mins read
Anda dan saya masih terhitung muda. Kita bagian dari generasi muda bangsa Indonesia. Meski tiap hari belajar dan bekerja, tak berarti Anda…
Ulama

Buletin Jumat: Teladan Kearifan Imam Al-Ghazali

3 Mins read
Hentikan lidahmu (menuduh kafir atau sesat) kepada ahli kiblat (umat Islam) selama mereka masih mengucapkan lâ ilâha illallâh muhammadur rasûlullâh (Imam Ghazali)….

Tinggalkan Balasan

Mari Kolaborasi
Mari Berkolaborasi bersama kami "IBTimes.ID - Cerdas Berislam" dan para kontributor lainnya untuk memproduksi narasi Islam yang mencerahkan.
Donasi dapat melalui Bank Mandiri 137-00-5556665-3 a.n Litera Cahaya Bangsa