back to top
Senin, Juni 15, 2026

Azaki Khoirudin: Kaderisasi Muhammadiyah Tak Berhenti di Baitul Arqam

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Di tengah perubahan sosial yang semakin cepat, tantangan kesehatan mental generasi muda, hingga hadirnya kecerdasan buatan, Muhammadiyah dituntut untuk terus memperbarui cara pandangnya dalam membina kader. Bagi Sekretaris Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr. Azaki Khoirudin, M.Pd., kaderisasi tidak lagi cukup dimaknai sebagai pelaksanaan pelatihan formal semata.

Pandangan itu disampaikan saat menjadi pembicara dalam forum Bincang Kader yang digelar MPKSDI Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Babat di SMK Muhammadiyah 5 Babat Kampus 3 Pereng, Gendongkulon, Ahad (14/6/2026). Kegiatan tersebut diikuti Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) se-Cabang Babat serta perwakilan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

Salah satu persoalan yang dihadapi Muhammadiyah saat ini adalah masih adanya penyempitan makna kaderisasi. Selama ini, sebagian pihak memandang proses kaderisasi hanya identik dengan Baitul Arqam (BA), padahal kaderisasi sesungguhnya memiliki ruang yang jauh lebih luas.

Dalam kesempatan itu, Azaki Khoirudin mengungkapkan bahwa MPKSDI PP Muhammadiyah tengah menyusun konsep baru Baitul Arqam yang lebih menyenangkan dan mampu menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna.

“Dakwah Muhammadiyah adalah dakwah yang menggembirakan. Karena itu Baitul Arqam juga harus mampu menghadirkan pengalaman belajar yang menggembirakan dan bermakna bagi kader,” jelasnya.

Menurut Sekretaris MPKSDI PP Muhammadiyah tersebut, pembentukan kader unggul juga tidak dapat hanya mengandalkan ruang kelas dan pelatihan formal. Kader perlu diberikan pengalaman nyata melalui sistem magang dan keterlibatan langsung dalam pengelolaan organisasi maupun amal usaha.

Baca Juga:  Apakah Muhammadiyah Masih Layak Disebut Modernis?

Menyiapkan Kader Muhammadiyah Menghadapi Tantangan Masa Depan

Di hadapan para kader muda Muhammadiyah Babat, Azaki Khoirudin mengingatkan bahwa tantangan yang dihadapi generasi sekarang semakin kompleks. Persoalan kesehatan mental, perkembangan teknologi, hingga dinamika ekonomi menuntut lahirnya kader yang tidak hanya kuat secara ideologis, tetapi juga memiliki kompetensi dan kemampuan adaptasi.

“Etos kemajuan lahir ketika kita tidak sungkan belajar kepada orang lain. Syarat keunggulan adalah keterbukaan, kerendahan hati, dan kesediaan menerima pendapat orang lain,” ujarnya.

Menurut Azaki Khoirudin, Muhammadiyah perlu memperbanyak sekolah kader yang tidak hanya berorientasi pada pendidikan agama, tetapi juga bidang kesehatan, kewirausahaan, serta berbagai sektor strategis lainnya. Selain itu, kaderisasi juga harus diperkuat melalui kehadiran mentor yang mampu mendampingi kader secara berkelanjutan.

Forum yang dimoderatori Dzikri Abadi itu berlangsung dalam suasana terbuka dan penuh kekeluargaan. Berbagai persoalan kaderisasi di lingkungan PCM Babat mengemuka, mulai dari minimnya jumlah kader aktif hingga belum optimalnya keterlibatan kader lokal dalam Amal Usaha Muhammadiyah.

Azaki Khoirudin pun memberikan apresiasi atas terselenggaranya forum tersebut. Menurutnya, ruang dialog yang mempertemukan pimpinan dan kader secara terbuka seperti Bincang Kader masih sangat jarang ditemukan.

“Saya mengapresiasi kegiatan ini. Hampir belum ada forum seperti Bincang Kader yang secara khusus mempertemukan pimpinan dan kader untuk membicarakan masa depan kaderisasi secara terbuka,” ungkapnya.

Baca Juga:  Muhammadiyah Bolehkan Pengalihan Dana Qurban untuk Masyarakat Terdampak Pandemi

Melalui forum tersebut, mengingatkan bahwa kaderisasi bukan sekadar proses mencetak instruktur atau penyelenggaraan pelatihan. Lebih dari itu, kaderisasi adalah upaya menyiapkan generasi penerus yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus melanjutkan estafet perjuangan Muhammadiyah di masa depan. (NS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru