KH Hasyim Asy'ari: Mewarnai Hidup dengan Kebaikan Akhlak - IBTimes.ID
Ulama

KH Hasyim Asy’ari: Mewarnai Hidup dengan Kebaikan Akhlak

3 Mins read

Hadratus Syaikh Kiai Hasyim Asy’ari dilahirkan dari kedua orang tua bernama Kiai Asy’ari dan Halimah pada  14 Februari 1871 M bertepatan dengan 12 Dzulqo’dah 1287 H di Pesantren Gedang, Jombang. KH Hasyim Asy’ari masih memiliki garis keturunan dari Jaka Tingkir, dan pendidikan dasar agama Islam pertama kali diperolehnya dari ayah dan juga ibunya. Kiai Hasyim Asy’ari merupakan  pendiri dari organisasi massa Islam paling besar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama. Jiwa kepemimpinannya sudah jelas terlihat semenjak masa kecil hingga tumbuh dewasa.

Hasyim Asy’ari Kecil

Masa kecil Hasyim sebagaimana halnya seperti kebanyakan anak lain tumbuh, hanya saja perbedaannya adalah lingkungan masa Hasyim muda adalah di Pesantren Gedang yang dibina oleh sang kakek, yaitu Kiai Usman. Namun, yang menarik dari kepribadian Kiai Hasyim Asy’ari ini salah satunya adalah bakat kepemimpinan serta kecerdasan Kiai Hasyim yang sudah terlihat dari masa kecilnya. Di antara teman-teman bermainnya, Hasyim muda seringkali tampil menjadi seorang pemimpin.

Ketika Hasyim muda berusia tiga belas tahun, dirinya diminta ayahnya untuk membantu mengajar mengaji para santri yang lebih besar dari umurnya (Khuluq, 2011:16). Kebiasaan Hasyim muda yang gemar mempelajari ilmu agama Islam sedari kecil terbawa hingga masa remajanya. Pada saat Hasyim muda menginjak usia lima belas tahun, dengan usia yang masih muda ia meninggalkan kedua orang tuanya. Ia memulai langkah petualangan baru dalam belajar ilmu agama ke berbagai banyak pesantren. Setidaknya ada lima pondok pesantren yang dikunjungi oleh Hasyim muda di pulau Jawa dan Madura (Kurniawan dkk, 2011:205).

Semangat untuk menuntut ilmu Hasyim Asy’ari muda tidak hanya ditempuh di Indonesia, dirinya meneruskan belajar di Kota Makkah, langsung belajar Islam ke sumbernya. Pada waktu itu menuntut ilmu di Kota Makkah adalah sebuah dambaan bagi setiap santri. Dari salah satu alasannya yaitu argumen masyarakat jika seseorang pernah belajar di Kota Makkah, mereka akan mendapatkan posisi terhormat dalam lingkungan masyarakat (Nata, 2005:114-115).

Baca Juga  Memahami Tradisi Keagamaan dalam Komunitas NU

Ketika masih  belajar di Makkah, Hasyim muda bertemu dengan banyak tokoh, sehingga kemudian ia berguru kepada tokoh-tokoh tersebut dengan berbagai disiplin ilmu agama Islam. Salah satunya adalah seorang ulama asal Indonesia yang mengajarkan kitab Shahih Bukhari yaitu Syaikh Mahfudz (Khuluq, 2011:24). Mulai dari situlah Hasyim muda menggemari hadits, juga lebih memperdalam ilmu tasawuf, dan tarekat qadariyah-naqsabandiyah.

Kebaikan Akhlak KH Hasyim Asy’ari

Tujuh tahun Kiai Hasyim Asy’ari menuntut ilmu di Makkah, kemudian di tahun 1899 Kiai Hasyim kembali ke kampung halamannya dan mengamalkan ilmu yang didapatkannya. Banyak ilmu yang beliau kuasai antara lain ilmu tasawuf, ilmu fiqih, ilmu hadits, ilmu thariqat qadariyah naqsabandiyah. Kemudian sesampainya di tanah air, Kiai Hasyim membangun pondok pesantren Tebuireng serta mengajar pengajian hadis serta memperluaskannya karena pada saat itu banyak Pesantren hanya memfokuskan kepada thariqat.

Sesudah pesantren Tebuireng berhasil menarik banyak santri dari berbagai wilayah di Indonesia serta membuka jaringan yang lebih luas, Kiai Hasyim mendirikan Nahdlatul Ulama sebagai organisasi kebangkitan para ulama. Organisasi ini didirikan sebagai bentuk perjuangan mensejahterakan umat dari kejahatan penjajahan Belanda. Kiai Hasyim juga memiliki kecerdasaan dalam memecahkan masalah (krusial), itu sangat terlihat ketika Soekarno dan Bung Tomo meminta fatwa mengenai hukum melawan penjajah. Sehingga dari sinilah  lahirnya istilah “Resolusi Jihad” yang pada akhirnya berujung perjuangan para pemuda 10 November di Surabaya.

Meskipun Kiai Hasyim merupakan salah satu ulama yang sangat kharismatik dengan disertai kedalaman ilmu yang dimilikinya, Kiai Hasyim tidak lalu bersikap tinggi hati dan berkuasa. Malah dapat dilihat karena keilmuannya begitu dalam menjadikan Kiai Hasyim sosok pribadi yang toleran dan pengayom masyarakat yang welas asih.

Baca Juga  Ketum PBNU Said Aqil Siradj Diangkat Sebagai Komisaris Utama PT KAI

Sikap Toleran

Mengenai sikap Toleran dapat kita lihat dari sebuah kisah dari salah satu santrinya ketika kembali dari tempat asalnya Yogyakarta yang ingin melaporkan sesuatu. Santri tersebut berkata bahwa ia mengetahui adanya kelompok beraliran sesat dengan menyebutkan ciri-ciri yang dilihatnya. Ciri-ciri yang diungkap santri tersebut adalah ketika salat subuh aliran itu tidak memakai doa qunut dan pimpinannya berteman dekat dengan Budi Utomo.

Maka, Kiai Hasyim bertanya mengenai siapakah nama pimpinan kelompok itu, kemudian santri tersebut menjawab Ahmad Dahlan. Langsung saja Kiai Hasyim tersenyum dan berkata, “Oh, kang Darwis, toh?”. Setelah itu Kiai Hasyim menuturkan bahwa Ahmad Dahlan itu adalah temannya menuntut ilmu ketika di Makkah dan aliran yang dimaksud santri tadi bukanlah aliran yang sesat. Justru Kiai Hasyim mngucapkan bahwa, “Mari, podho disokong!” (mari kita dukung sepenuhnya).

Dari kisah ini dapat kita lihat sikap bijaksana yang dimiliki KH Hasyim Asy’ari dalam menanggapi cerita dari santrinya mengenai aliran sesat, Kiai Hasyim terlebih dahulu menanyai untuk memastikan sebelum memberikan pernyataan. Kiai Hasyim tidak lantas langsung menghakimi karena pengalaman beliau selama menuntut ilmu di Makkah menjadikan pandangannya menjadi luas. Pemahaman beliau pun baik mengenai persoalan pola pikir, karena memang pemikiran yang berbeda sudah biasa terjadi.

Ada hikmah dari sikap lemah lembut Kiai Hasyim yang bisa kita renungkan terhadap diri kita, yaitu perbedaan suatu hal yang biasa terjadi, karena itu adalah sebuah keniscayaan menjadikan hidup ini lebih berwarna. Dengan perbedaan pola pikir ataupun pandangan, sehingga kita dapat berpikir dengan lebih bijak dan juga tidak mudah menghakimi seseorang.

Inilah sikap yang perlu kita rawat dan tumbuh-kembangkan dalam kepribadian diri kita semua. Seperti sikap saling menghormati, menghargai serta menerima segala perbedaan itu harus kita nikmati sebagai suatu anugrah serta rahmat yang diberikan oleh Allah, dan membawa keberkahan bagi setiap Makhluk di seluruh alam semesta. Wallahu A’lam.

Editor: Nabhan

Baca Juga  Menunggu Peran NU dalam Melestarikan Lingkungan
Zun Uswatun Khasanah
1 posts

About author
Mahasiswa Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Articles
Related posts
Ulama

Gus Dur: Mendirikan Negara Islam itu Tak Wajib!

3 Mins read
Biografi Gus Dur Gus Dur sering dikategorikan sebagai pemikir yang nyeleneh, kontroversial, acuh, dan cuek. Ia merupakan tokoh reformis pemikiran Islam kontemporer….
Ulama

Umar Bin Khattab, Sang Pembaru Hukum Islam

4 Mins read
Umar bin Khattab Sahabat Nabi Umat Islam mana yang tidak mengenal sosok Umar bin Khattab. Ketika mendengar nama Umar bin Khattab, pasti…
Ulama

Al Jahiz: Ulama yang Berpikir Kritis dan Skeptis

3 Mins read
Biografi Al Jahiz Nama Al Jahiz merupakan sebutan yang diberikan untuknya. Ia terkenal dengan sebutan Al Jahiz karena ia mengalami cacat mata….

Tinggalkan Balasan