IBTimes.ID – Majalah Kalimahsawa Edisi Ke-5 resmi diterbitkan pada November 2026 dengan mengangkat tema besar “Ekoteologi dan Etika Lingkungan Berkelanjutan”. Melalui semboyan “Titik Temu Dalam Pluralitas”, majalah yang diterbitkan Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSB PS) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini mengajak masyarakat merefleksikan kembali hubungan manusia, agama, dan kelestarian lingkungan.
Kehadiran edisi terbaru ini menjadi respons terhadap berbagai persoalan ekologis yang semakin kompleks. Perubahan iklim, pencemaran, deforestasi, hingga hilangnya keanekaragaman hayati menunjukkan bahwa pembangunan dan industrialisasi membutuhkan perhatian serius terhadap keberlanjutan kehidupan.
Majalah Kalimahsawa Edisi Ke-5 tidak hanya menghadirkan diskursus lingkungan dari perspektif keilmuan, tetapi juga menawarkan pendekatan keagamaan dan kemanusiaan. Bumi dipandang bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan amanah Tuhan yang harus dijaga bersama.
Pemimpin Redaksi Kalimahsawa, Dwi Kurniadi, menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian penting dari tanggung jawab keberagamaan manusia.
“Kesalehan seorang manusia tidak hanya diukur dari hubungannya dengan Tuhan, tetapi juga harus diwujudkan melalui kepedulian terhadap kelestarian alam dan sesama ciptaan-Nya,” ungkapnya, Rabu. (4/11/2026).
Senada dengan hal tersebut, Ketua PSB PS UMS, Dra. Yayah Khisbiyah, M.A., menekankan pentingnya paradigma Ekoteologi Al-Ma’un dalam membangun kesadaran ekologis.
“Menjaga kelestarian lingkungan merupakan bagian dari ibadah sosial yang berpihak kepada kelompok rentan yang paling menderita akibat krisis iklim,” ujarnya.
Ekoteologi Al-Ma’un dan Empat Perspektif Merawat Bumi
Secara substantif, Majalah Kalimahsawa Edisi Ke-5 menyajikan empat bab utama. Bab pertama membahas agama, etika, dan gerakan ekologis, termasuk gagasan Prof. Dr. Zakiyuddin Baidhawy mengenai konsep hifzh al-bi’ah atau perlindungan lingkungan.
Bab kedua mengulas nilai-nilai teologis pelestarian lingkungan dengan menempatkan manusia sebagai khalifah yang memiliki tanggung jawab menjaga keseimbangan ekosistem.
Sementara itu, bab ketiga mengangkat krisis ekologi dan tanggung jawab moral manusia. Pembahasan ini mengkritisi krisis lingkungan sebagai cerminan persoalan moral peradaban modern.
Adapun bab keempat menyoroti peran agama dalam membangun kesadaran lingkungan melalui praktik pendidikan, aktivitas sosial, hingga dakwah di masjid.
Melalui berbagai perspektif tersebut, Majalah Kalimahsawa Edisi Ke-5 diharapkan menjadi ruang literasi sekaligus inspirasi gerakan ekologis yang berkelanjutan. Semangat Ekoteologi Al-Ma’un juga menjadi pengingat bahwa keberpihakan terhadap lingkungan tidak dapat dipisahkan dari kepedulian terhadap kelompok rentan.
Pembaca dapat mengakses Majalah Kalimahsawa Edisi Ke-5 secara gratis melalui tautan ini atau mengunduh versi PDF disini.
Lebih dari sekadar bacaan, edisi ini mengajak masyarakat untuk menjadikan kepedulian ekologis sebagai bagian dari praktik keberagamaan dan gerakan kemanusiaan. Sebab, merawat bumi berarti merawat kehidupan dan menjaga masa depan generasi mendatang. (NS)


