back to top
Rabu, Juni 3, 2026

Meugang di Era Generasi Z: Menakar Ketahanan Tradisi di Tengah Arus Modernisasi

Lihat Lainnya

Helmi Abu Bakar El-Langkawi
Helmi Abu Bakar El-Langkawi
Dosen UNISAI Samalanga, Alumni MUDI Mesjid Raya Samalanga, Pengurus PW Ansor Aceh dan Mantan Ketua PC Ansor Pidie Jaya

Setiap menjelang Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha, masyarakat Aceh kembali disibukkan oleh sebuah tradisi yang telah hidup sejak ratusan tahun lalu, yakni Meugang. Pasar-pasar dipadati pembeli, aroma masakan daging memenuhi rumah-rumah, dan keluarga berkumpul dalam suasana penuh kehangatan. Bagi orang Aceh, Meugang bukan sekadar tradisi membeli dan memasak daging. Ia adalah peristiwa budaya yang menyatukan sejarah, agama, silaturahmi, dan kepedulian sosial dalam satu momentum yang istimewa.

Namun, di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, muncul pertanyaan yang patut direnungkan: apakah Meugang akan tetap bertahan, atau perlahan terkikis oleh arus modernisasi dan perubahan pola hidup Generasi Z?

Pertanyaan ini bukan sekadar kekhawatiran berlebihan. Di berbagai daerah, banyak tradisi lokal yang dahulu menjadi kebanggaan masyarakat kini hanya tersisa dalam buku sejarah. Pergeseran gaya hidup, perkembangan teknologi, serta dominasi budaya global membuat sebagian generasi muda mulai berjarak dengan akar budayanya sendiri.

Generasi Z lahir dalam dunia yang berbeda. Mereka tumbuh bersama internet, media sosial, kecerdasan buatan, dan berbagai platform digital yang menghubungkan dunia tanpa batas. Mereka mengenal budaya Korea, Jepang, Eropa, dan Amerika hanya melalui layar telepon genggam. Namun ironisnya, tidak sedikit yang mulai asing terhadap warisan budaya yang tumbuh di tanah kelahirannya sendiri.

Di sinilah tantangan terbesar Meugang berada.

Sesungguhnya, ancaman terbesar terhadap Meugang bukanlah hilangnya tradisi membeli daging, melainkan hilangnya pemahaman terhadap makna yang terkandung di dalamnya. Ketika Meugang hanya dipahami sebagai kegiatan konsumsi, maka lambat laun nilai-nilai yang menyertainya akan memudar.

Padahal Meugang menyimpan filosofi yang sangat dalam. Ia mengajarkan penghormatan kepada keluarga, kepedulian kepada tetangga, perhatian kepada kaum miskin, dan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat kehidupan. Dalam tradisi ini, masyarakat tidak hanya memasak untuk dirinya sendiri, tetapi juga berbagi kepada mereka yang membutuhkan.

Rasulullah SAW bersabda:”Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga:  Gagasan Modernisasi dan Salah Kaprah Sekulerisasi

Hadis ini menunjukkan bahwa silaturahmi bukan sekadar hubungan sosial, melainkan bagian dari ajaran Islam yang membawa keberkahan hidup. Meugang telah menjadi salah satu sarana menjaga silaturahmi yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Aceh.

Rasulullah SAW juga bersabda:”Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Semangat hadis ini terlihat jelas dalam tradisi Meugang. Banyak keluarga yang menyisihkan sebagian daging untuk diberikan kepada tetangga, kerabat, anak yatim, dan kaum dhuafa. Kebahagiaan tidak dinikmati sendiri, tetapi dibagikan kepada sesama.

Budayawan Aceh almarhum T. Syamsuddin (T. Syam) pernah menegaskan bahwa Meugang merupakan salah satu simbol identitas masyarakat Aceh yang membedakannya dari daerah lain. Di dalamnya terkandung nilai persaudaraan, penghormatan kepada keluarga, dan penghargaan terhadap warisan leluhur. Karena itu, hilangnya Meugang bukan hanya hilangnya sebuah tradisi, tetapi juga hilangnya sebagian identitas masyarakat Aceh.

Para sejarawan Aceh menyebutkan bahwa tradisi Meugang telah berkembang sejak masa Kesultanan Aceh Darussalam. Pada masa Sultan Iskandar Muda, pembagian daging kepada rakyat menjelang hari-hari besar Islam menjadi bagian dari kebijakan sosial kerajaan. Tradisi tersebut kemudian berkembang menjadi budaya masyarakat yang bertahan hingga hari ini.

Artinya, Meugang bukan tradisi yang lahir tanpa dasar. Ia adalah warisan peradaban yang telah melewati berbagai zaman, mulai dari masa kesultanan, kolonialisme, konflik, tsunami, hingga era digital.

Apakah Gen Z melihat Meugang sebagai sesuatu yang penting?

Sebagian mungkin masih. Namun sebagian lainnya mulai menganggap tradisi sebagai sesuatu yang kuno dan tidak lagi relevan dengan kehidupan modern. Padahal pandangan semacam ini sering lahir karena ketidaktahuan terhadap nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut.

Baca Juga:  Memaknai Krisis Spiritual Manusia Modern

Filsuf Yunani Plato dalam The Republic menjelaskan bahwa peradaban yang kuat dibangun melalui pewarisan nilai dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Ketika mata rantai pewarisan itu terputus, masyarakat akan kehilangan identitas dan arah moralnya.

Pemikiran Plato terasa sangat relevan bagi masyarakat Aceh hari ini. Jika Generasi Z tidak lagi memahami makna Meugang, maka yang hilang bukan hanya tradisi, tetapi juga nilai-nilai yang selama ini membentuk karakter masyarakat Aceh.

Sementara itu, Aristoteles dalam Nicomachean Ethics menegaskan bahwa karakter manusia dibentuk oleh kebiasaan yang dilakukan secara berulang. Menurutnya:”Kita adalah apa yang kita lakukan berulang kali. Keunggulan bukanlah tindakan sesaat, melainkan sebuah kebiasaan.”

Pandangan Aristoteles mengajarkan bahwa tradisi memiliki fungsi penting sebagai sarana pembentukan karakter. Melalui Meugang, anak-anak belajar tentang penghormatan kepada orang tua, pentingnya berbagi, makna kebersamaan, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai tersebut tidak cukup diajarkan melalui teori, tetapi harus dialami secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam perspektif Islam, tradisi yang membawa kemaslahatan memiliki kedudukan yang penting. Para ulama merumuskan kaidah fikih:

> العادة محكمة “Adat kebiasaan dapat dijadikan dasar pertimbangan hukum.” Kaidah ini menunjukkan bahwa tradisi yang baik dan tidak bertentangan dengan syariat dapat dipertahankan dan dilestarikan.

Para ulama juga mengajarkan kaidah:

> المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح “Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.”

Kaidah ini memberikan jawaban atas perdebatan antara tradisi dan modernitas. Menjadi modern tidak berarti harus meninggalkan budaya. Menjadi Generasi Z tidak berarti harus kehilangan identitas Aceh.

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan hubungan baik dengan sesamanya. Menurut beliau, salah satu tujuan syariat adalah menciptakan kemaslahatan dan memperkuat persaudaraan dalam masyarakat. Nilai-nilai tersebut tampak nyata dalam tradisi Meugang yang mempertemukan keluarga, mempererat silaturahmi, dan menumbuhkan semangat berbagi.

Baca Juga:  Tambang Bukan Sekedar Soal Uang, Tapi Kemaslahatan

Pandangan serupa juga terlihat dalam pemikiran KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Beliau mengajarkan bahwa agama tidak cukup berhenti pada ritual, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan sosial yang nyata. Melalui penghayatan Surat Al-Ma’un, Ahmad Dahlan menekankan pentingnya kepedulian kepada fakir miskin, anak yatim, dan kelompok yang membutuhkan.

Spirit dalam Tradisi Meugang

Spirit inilah yang hidup dalam tradisi Meugang. Ia bukan hanya perayaan keluarga, tetapi juga momentum untuk berbagi kebahagiaan kepada sesama.

Di tengah dunia yang semakin individualistik, Meugang justru menjadi semakin relevan. Ketika banyak orang lebih sibuk berinteraksi melalui layar daripada bertemu secara langsung, Meugang menghadirkan ruang perjumpaan yang nyata. Ketika masyarakat semakin terpecah oleh kesibukan dan perbedaan sosial, Meugang mengingatkan bahwa kebersamaan adalah bagian dari kekuatan sebuah komunitas.

Karena itu, Meugang tidak boleh hanya diwariskan sebagai rutinitas tahunan. Ia harus diwariskan sebagai nilai, kesadaran budaya, dan identitas. Orang tua perlu menjelaskan maknanya kepada anak-anak. Sekolah perlu mengenalkan sejarahnya. Tokoh agama perlu mengaitkannya dengan nilai-nilai Islam. Pemerintah dan budayawan perlu menjadikannya bagian dari penguatan karakter dan kebudayaan Aceh.

Pada akhirnya, mempertahankan Meugang bukan sekadar mempertahankan tradisi makan daging. Ia adalah upaya menjaga jati diri, merawat persaudaraan, memperkuat solidaritas sosial, dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi masa depan.

Generasi Z boleh menguasai teknologi, kecerdasan buatan, dan dunia digital. Namun mereka juga harus memiliki akar budaya yang kuat. Sebab pohon yang tinggi hanya dapat bertahan apabila akarnya tetap kokoh menghunjam ke tanah.

Maka, selama masih ada masyarakat Aceh yang memahami maknanya, selama masih ada keluarga yang berkumpul dan berbagi kebahagiaan pada hari Meugang, tradisi ini akan tetap hidup. Bukan sekadar sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai cahaya yang menerangi perjalanan generasi masa depan.

(Nashuha)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru