back to top
Selasa, September 29, 2026

Moderasi Muslim di Negara Barat Bukan Melemahkan

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Menjadi Muslim di tengah masyarakat yang beragam tidak harus membuat seseorang kehilangan identitasnya. Bagi Prof. Sarjito, S.T., M.T., PhD., IPM., moderasi Muslim di negara Barat justru dapat menjadi cara untuk menunjukkan bahwa ketaatan kepada agama dan keterbukaan sosial dapat berjalan beriringan.

Pesan tersebut disampaikan Guru Besar Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) itu dalam Pengajian At-Taqwa Oxfordshire, Minggu (27/9/2026), di kediaman Ibu Siti dan Pak Brian Gillet, Kennington, Oxfordshire.

Kajian bertema “Tetap Taat dan Mampu Moderat Hidup di Negara Barat” tersebut dimoderatori oleh Thareq Barasabha, Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Oxford sekaligus Sekretaris Majelis Pendidikan, Penelitian, dan Kebudayaan PCIM Britania Raya & Irlandia.

Kajian tersebut mempertemukan persoalan keagamaan dengan realitas kehidupan Muslim di tengah masyarakat multikultural.

Prof. Sarjito, yang pernah menjadi Ketua PCIM United Kingdom periode 2009–2011, menegaskan bahwa Muslim tidak perlu memilih antara menjadi pribadi yang taat dan menjadi bagian dari masyarakat yang baik.

“Moderasi bukan melemahkan keyakinan. Moderasi adalah kematangan dalam menjalankan keyakinan,” ujarnya.

Identitas Menuju Kontribusi

Dalam konteks moderasi Muslim di negara Barat, Sarjito mengajak jamaah tidak berhenti pada pertanyaan bagaimana mempertahankan identitas keislaman. Lebih jauh, Muslim perlu bertanya mengenai manfaat apa yang dapat diberikan kepada lingkungan tempat tinggalnya.

Ia merujuk QS. Al-Mumtahanah ayat 8 tentang al-birr dan al-qisth sebagai prinsip berbuat baik dan berlaku adil kepada masyarakat berbeda agama yang hidup damai. Karena itu, menjadi Muslim di Barat bukan alasan untuk menutup diri, tetapi kesempatan menghadirkan akhlak dan kontribusi.

Baca Juga:  Marpuji: Boleh Pakai Logo untuk Syiar Muktamar

Menurutnya, terdapat dua sikap ekstrem yang perlu dihindari, menutup diri demi menjaga agama atau menyembunyikan identitas demi mendapatkan penerimaan. Jalan tengahnya adalah bergaul tanpa larut dan terbuka tanpa kehilangan arah.

Prinsip moderasi Muslim di negara Barat itu kemudian dirangkum Sarjito dalam gagasan “soft approach, strong principle”. Seorang Muslim tetap memiliki batas keyakinan, tetapi menyampaikannya dengan kelembutan.

Dalam kehidupan sehari-hari, pendekatan itu bahkan dapat terlihat dari hal sederhana. Menyambut jamaah yang lama tidak datang ke masjid, misalnya, lebih baik dengan “Alhamdulillah, senang bertemu” daripada “Kok baru datang?”

Bagi keluarga Muslim, moderasi Muslim di negara Barat juga berarti mengajarkan anak untuk berpikir, bukan sekadar melarang. Anak diajak menilai apakah sesuatu baik, adil, halal, bermanfaat, dan sesuai prinsip.

Komunitas Muslim pun didorong memiliki dua pintu: ke dalam untuk memperkuat iman, keluarga, dan pendidikan Qur’an; serta ke luar untuk menghadirkan akhlak, pelayanan, dan kontribusi.

Dengan demikian, moderasi Muslim di negara Barat bukan sekadar konsep menghadapi perbedaan, melainkan cara menjalani identitas dengan matang. Akar tetap tauhid, batangnya takwa, cabangnya akhlak, sementara buahnya adalah manfaat bagi manusia.

“Teguh dalam prinsip, lembut dalam sikap,” pesannya.

Ketua PCIM Britania Raya & Irlandia, Ince Dian Aprilyani Azir, yang turut hadir di antara jamaah, mengaku senang bisa kembali belajar dari Prof. Sarjito.

Baca Juga:  Haedar Nashir: Moderasi adalah Solusi Menangani Radikalisme dan Ekstremisme

“Beliau pernah memimpin PCIM di Inggris pada masa-masa awalnya. Pesan tentang taat dalam prinsip dan lembut dalam sikap ini penting untuk kita jaga, apalagi sebagai Muslim Indonesia yang hidup di tengah masyarakat yang beragam,” ujarnya. (NS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru