back to top
Selasa, Maret 24, 2026

Muhammadiyah Sering Ditolak Bukan karena Salah, Tapi karena Terlalu Cepat

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Beberapa waktu belakangan, Muhammadiyah kembali menjadi topik hangat di media sosial, terutama di platform X. Pembicaraan utamanya adalah penetapan awal Ramadan dan Idulfitri yang berbeda dengan keputusan pemerintah. Di tengah perdebatan tentang Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang diusung Muhammadiyah, satu utas di X milik @SeekHustle viral. Utas tersebut membagikan tangkapan layar postingan Facebook Firman Syah yang merangkum perjalanan panjang organisasi ini.

Inti pesannya sederhana namun tajam: Muhammadiyah sepanjang sejarah selalu “terlalu cepat”. Bukan karena salah, melainkan karena visi dan metode yang mereka bawa sering kali mendahului zamannya. Akibatnya, inovasi-inovasi itu sempat ditolak, dicap aneh, bahkan dianggap menyimpang—sampai akhirnya menjadi standar yang diterima luas oleh masyarakat Muslim Indonesia.

Mari kita telusuri kembali jejak-jejak itu, satu per satu.

1912: Lahir dengan Dua Senjata Utama
Muhammadiyah didirikan pada 1912 dengan membawa dua prinsip inti: kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah secara murni, serta penggunaan akal sehat (ijtihad). Akal sehat inilah yang sering membuat orang tidak nyaman. Karena akal sehat tidak suka dengan “ikut-ikutan” tanpa dasar yang jelas.

1920–1930-an: Kiblat Harus Dihitung, Bukan Dikira-kira
Saat itu, mayoritas umat masih menghadap kiblat “asal ke barat”. Muhammadiyah menyatakan: kiblat bukan soal perkiraan, melainkan harus dihitung secara ilmiah menggunakan ilmu falak, sudut elevasi, dan posisi matahari. Reaksi masyarakat saat itu? “Mereka meragukan ulama-ulama terdahulu!”
Hari ini? Setiap ponsel punya aplikasi kiblat digital, setiap masjid menggunakan kompas presisi. Yang dulu ditolak, kini menjadi standar universal.

Baca Juga:  Muhadjir Effendy: Agar Generasi Unggul, Calon Pengantin Perlu Dibekali "Keluarga Sakinah"

Salat Id di Lapangan: Kembali ke Sunnah Nabi
Muhammadiyah mengajak umat salat Idulfitri di lapangan terbuka, sesuai sunnah Rasulullah. Dulu dianggap aneh dan menyimpang dari kebiasaan salat di masjid. Kini? Lapangan, stadion, bahkan jalan raya ditutup untuk salat Id. Tradisi yang dulu “asing” itu telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Idulfitri nasional.

Ucapan Lebaran yang Lebih Bermakna
Dulu masyarakat umum mengucapkan “Minal aidin wal faizin”—frasa yang terdengar Islami, tetapi bukan hadis dan bukan doa lengkap. Muhammadiyah mendorong ucapan “Taqabbalallahu minna wa minkum” (semoga Allah menerima amal kita semua). Dulu terasa kaku dan kurang populer. Sekarang? Ucapan itu mendominasi WhatsApp, caption Instagram, khutbah, dan bahkan pidato resmi. Frasa yang dulu dianggap “aneh” kini menjadi standar.

Pendidikan Modern: Meja, Kursi, dan Sains Bukan Bid’ah
Di awal abad ke-20, Muhammadiyah mendirikan sekolah dengan bangku, papan tulis, mata pelajaran matematika, sains, sejarah, dan bahasa—di samping pelajaran agama. Reaksi saat itu keras: “Meniru Belanda!”, “Sekolah Kristen halus!”, “Sekolah kafir!”
Hari ini? Hampir semua sekolah Islam di Indonesia menggunakan sistem kelas modern, kurikulum nasional plus agama. Model yang dulu dicap “penjajah” justru menjadi fondasi pendidikan Islam kontemporer.

Zakat dari Pemberian Pribadi Menjadi Sistem Transparan
Dulu zakat diserahkan langsung kepada kyai atau tokoh agama tanpa catatan. Muhammadiyah mendirikan lembaga amil zakat dengan sistem administrasi, transparansi, dan program sosial terstruktur. Kritik yang muncul: “Ibadah kok dibirokrasi?”
Kini? LAZISMU dan BAZNAS menjadi tulang punggung penyaluran zakat profesional di seluruh Indonesia. Model yang dulu dianggap “terlalu administratif” kini menjadi kebutuhan mendesak.

Baca Juga:  Creatormuda Academy: Cegah Bullying Pacu Daya Kreatif Pelajar

1923: PKO—Agama Turun ke Jalan
Muhammadiyah mendirikan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO), cikal bakal rumah sakit, panti asuhan, dan layanan sosial. Inspirasi langsung dari Surah Al-Ma’un. Reaksi masyarakat: “Meniru misionaris Kristen!”, “Ulama kok jadi pekerja sosial?”
Sekarang? Dakwah tanpa rumah sakit, tanpa santunan yatim, dan tanpa program sosial terasa tidak lengkap. Model pelayanan sosial Muhammadiyah telah menjadi bagian integral dari dakwah Islam di Indonesia.

Khutbah dalam Bahasa Indonesia: Agama Harus Dipahami
Dulu khutbah Jumat selalu full bahasa Arab sehingga jamaah banyak yang tidak mengerti. Muhammadiyah berani menggunakan bahasa Indonesia agar pesan agama benar-benar tersampaikan. Kritik saat itu: “Tidak sah!”, “Mengurangi kesakralan!”
Hari ini? Hampir seluruh khutbah di masjid-masjid Indonesia disampaikan dalam bahasa Indonesia yang komunikatif. Yang dulu dianggap “tidak sah” kini menjadi standar nasional.

Sekarang: Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)
Dan kini Muhammadiyah kembali “membuat masalah baru” dengan mengusulkan satu kalender Hijriah untuk seluruh dunia Islam. Logikanya sangat sederhana: bumi satu, bulan satu, mengapa Lebaran harus berbeda-beda?
Reaksi yang muncul kembali mirip pola lama: “Dalilnya mana?”, “Tidak sunnah”. Namun, jika kita melihat sejarah 114 tahun Muhammadiyah, pola yang sama berulang:
Ditolak → Dituduh aneh → Diperdebatkan → Dipakai diam-diam → Menjadi standar.

Dunia kini semakin terkoneksi. Perbedaan hari Lebaran antarnegara semakin terasa tidak masuk akal. Karena itu, KHGT kemungkinan besar akan mengikuti jalur yang sama: dimulai dari komunitas Muhammadiyah, merambah regional, diadopsi sebagian negara, hingga pelan-pelan menjadi konsensus global.

Baca Juga:  Biografi Saif al-Islam Gaddafi, Putra Diktator Libya Muammar Gaddafi yang Tewas Terbunuh

Pada dasarnya, setiap keputusan baru yang lahir dari pengalaman panjang, kedalaman ilmu, serta keteguhan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, sering kali pada awalnya menimbulkan sedikit ketabuan di tengah masyarakat. Hal itu wajar, karena perubahan yang bermakna memang memerlukan penyesuaian hati dan pikiran.

Namun, sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa waktu adalah jawaban terbaik. Yang semula terasa asing, lambat laun menjadi bagian yang akrab dan bermanfaat bagi kehidupan beragama kita bersama.

Sebagaimana disampaikan oleh Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Muhamad Rofiq Muzakkir, terkait penerimaan pembaharuan pandangan keagamaan Muhammadiyah termasuk Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT):

“Bagi Muhammadiyah, ini just a matter of time. Pada waktunya masyarakat akan menerima, meski mungkin membutuhkan waktu.”

Beliau mencontohkan bagaimana dulu upaya meluruskan arah kiblat juga memerlukan beberapa dekade hingga akhirnya diterima secara luas. Begitu pula dengan berbagai tajdid Muhammadiyah lainnya, semua pada akhirnya menjadi khazanah bersama umat.

Oleh karena itu, marilah kita menyikapi setiap langkah kebaikan dengan hati yang terbuka dan penuh kesabaran. Karena pada waktunya, apa yang dibangun atas dasar ilmu dan keikhlasan akan menjadi berkah dan maslahat untuk umat.

(Assalimi)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru

This will close in 0 seconds