Creatormuda Academy: Cegah Bullying Pacu Daya Kreatif Pelajar

 Creatormuda Academy: Cegah Bullying Pacu Daya Kreatif Pelajar

Kasus bullying di kalangan pelajar terus saja terjadi meskipun sudah berbagai upaya dilakukan untuk mencegahnya. Yang tengah hangat menjadi perbincangan publik dan viral di media sosial adalah seorang siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Pontianak, Kalimantan Barat, bernama Audrey yang dikeroyok, dibully rame-rame oleh tujuh siswi Sekolah Menengah Atas (SMA). Apa yang terjadi pada Audrey, bukan tidak mungkin terjadi pula ditempat lain dengan modus dan pelaku yang berbeda-beda.

Untuk mengantisipasi agar bullying tidak terjadi lagi di kalangan pelajar, tidak cukup hanya dengan himbauan atau nasihat, apalagi jika himbauan dan nasihat itu datang dari orang-orang dewasa yang kerjanya juga sama, tukang membully yang lain, pasti tidak akan efektif. Cara yang paling efefktif untruk mecegah bullying dan tindakan-tindakan negatif lainnya di kalangan pelajar adalah dengan memacu kreativitasnya.

Pandangan ini disampaikan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Abd Rohim Ghazali dalam acara “Creatormuda Academy” yang dilaksanakan Maarif Institute for Culture and Humanity bekerjasama dengan Google.org pada 11-12 April 2019 di Convention Hall Sengkaling, Kapal Garden Hotel, Malang, Jawa Timur.

Dalam acara yang didukung oleh Yayasan Ruangguru, Cameo Project, Peace Generation, dan Love Frankie ini diundang 235 pelajar SMA dan sederajat se-Jawa Timur antara lain dari Kota Malang, Kabupaten Malang, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Sampang, Madura. Mereka diseleksi berdasarkan karya yang diajukan pada saat mendaftar. Dari semua pendaftar, hanya sebagian saja yang bisa mengikuti pelatihan intensif selama dua hari, sedangkan yang lainnya hanya bisa mengikuti pembukaan dan sesi seminar.

Membuat Konten Positif

Menurut Abd Rohim Ghazali, setiap acara yang diorientasikan untuk memacu kreativitas anak-anak muda sangatlah penting mengingat mereka yang popular dengan sebutan generasi milenial ini merupakan tunas-tunas bangsa yang kelak menjadi pemimpin pada dua-tiga dekade yang akan datang. Sebelum terjun ke tengah-tengah masyarakat dan menjadi pionir kebaikan di lingkungan masing-masing, mereka harus dibekali dengan ketrampilan yang bisa menopang kehidupannya masing-masing.

“Di era industri 4.0 seperti sekarang, bekal yang paling sesuai adalah ketrampilan membuat konten-konten positif, membuat video singkat, desain grafis, dan bagaimana cara memasarkannya,” papar Rohim.

Banyak contoh, orang yang biasa saja, tiba-tiba muncul sebagai inflencer karena aktif di media sosial dengan ribuan atau bahkan jutaan follower. Bisa dibayangkan, bagaimana dampaknya jika para influencer ini banyak memposting konten-konten yang negatif di akun media sosialnya.

“Dampaknya pasti akan sangat buruk bagi kehidupan sosial kita,” tandas Rohim. Maka melatih diri untuk membiasakan mengirim konten-konten yang positif dan konstruktif adalah bagian dari pekerjaan mulia. Apalagi di era revolusi industri 4.0, selain muncul unicorn-unicorn yang membangun, berkembang pula akun-akun media sosial yang dijadikan alat menyarang lawan dengan nada-nada kebencian (hate speech).

 Melawan Kebencian

Oleh karena itu, menurut Rohim, para pelajar yang ikut dan menjadi bagian dari “Creatormuda Academy” harus menjadi pelopor untuk merlawan hate speech, bullying, intoleransi, dan tindakan-tindakan lain yang menimbulkan kebencian dan amarah di tengah-tengah masyarakat.

Dari mana perlawan terhadap kebencian itu dimulai? Mulai dari diri kita sendiri, teman-teman sebaya yang duduk sebangku di kelas, teman sekelas, teman satu sekolahan, satu kampung, satu desa, satu kecamatan, dan seterusnya hingga tidak ada ruang bagi mereka yang ingin menyebarkan kebencian. Jangan karena perbedaan agama, suku, pilihan politik, atau bahkan perbedaan dukungan terhadap klub sepak bola, membuat kita saling membenci satu sama lain.

Berbarengan dengan acara “Creatormuda Academy”, kebetulan di Kota Malang akan dilangsungkan laga final perebutan Piala Presiden antara Arema Malang dan Persebaya Surabaya. “Yang merasa Aremania atau Singo Edan, jangan membenci Bonex atau baju Ijo,” tandas Rohim. “Ubah kebencian menjadi saling mengerti, saling memahami, dan saling mengasihi satu sama lain sehingga kita senantiasa berada dalam kedamaian.”

RedaksiIB

https://ibtimes.id

IBTimes.id Kanal Islam Berkemajuan. Menyajikan wacana keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan untuk menenebarkan perdamaian dan mengokohkan kebhinnekaan.

Related post

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *