back to top
Jumat, Februari 13, 2026

Mulla Shadra (3): Pengaruh Filsafat Islam Sebelumnya

Lihat Lainnya

Azaki Khoirudin
Azaki Khoirudin
Sekretaris Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani Pimpinan Pusat Muhammadiyah/Dosen Prodi PAI UAD

Shadr Al-Din Syirazi, yang dikenal dengan Mulla Shadra, muncul hampir seribu tahun setelah kelahiran Islam dan karya-karyanya melukiskan suatu sintesis pemikiran Islam satu milenium sebelumnya. Ia benar-benar memahami Al-Qurโ€™an dan Hadis, filsafat dan teologi Islam, tasawuf dan bahkan sejarah pemikiran Islam, dan tentu mempunyai akses pada perpustakaan yang melimpah ruah.

Terhadap semua pengetahuannyatersebut, masih harus ditambahkan pula daya intelektualnya sebagai filosof dan kapabilitas visioner dan intuitifnya sebagai seorang gnostikus (โ€˜arif) yang mampu mengalami langsung Realitas Tertinggi atau apa yang dalam mazhab filsafat dan teosofi Islam terkemudian disebut โ€œpengalaman gnostikโ€ (tajruba-yi โ€˜irfani).

Pengetahuannya tentang sumber-sumber wahyu Islam mungkin lebih luas dibandingkan dengan semua filosof Islam lainnya. Pengetahuan itu meliputi keakrabannya bukan hanya dengan Al-Qurโ€™an, melainkan juga dengan komentar-komentar yang termasyhur, bukan hanya atas hadis Nabi, melainkan juga atas ucapan-ucapan para Imam Syiโ€™ah yang signifikansi filosofisnya ia ungkap untuk pertama kalinya.

Tafsir Al-Qurโ€™an, Syarh Ushul Al-Kahfi dan tafsirnya atas ayat al-nur dalam Al-Qurโ€™an, menjadi dua adikarya pemikiran Islam, yang memperlihatkan dan membuktikan kepiawaiannya yang tak diragukan lagi tentang Al-Qurโ€™an dan hadis.

Mulla Shadra dan Filsafat Islam Sebelumnya

Mulla Shadra juga mempunyai pengetahuan yang sangat mendalam tentang mazhab-mazhab pemikiran filsafat Islam sebelumnya. Ia tahu betul filsafat Peripatetik (masysyai), terutama pemikiran Ibn Sina, dan menulis sebuah komentar penting atas Syifaโ€™-nya. Namun, ia juga kenal akrab dengan kaum Peripatetik terkemudian, seperti Nashir Al-Din Thusi dan Atsir Al-Din Abhari.

Atas karya Atsir Al-Din Abhari yang berjudul Al-Hidayah, Shadra menulis sebuah komentar yang kemudian menjadi salah satu karyanya yang paling terkenal, khususnya di India. Ia juga merupakan guru pemikiran isyraqi dan dan menjalin sejumlah cerita visioner Suhrawardi dengan tangannya sendiri dan menulis sebuah komentar penting dalam bentuk ringkasan (ikhtisar) atas Hikmah Al-Isyraq, karya guru mazhab Iluminasi.

Baca Juga:  Ramai-Ramai Menyerang Agama

Shadra juga mendalami pada kalam atau teologi Sunni dan Syiโ€™ah, khususnya karya-karya Al-Ghazali dan Imam Fakr Al-Din Razi yang kerap dikutipnya terutama dalam Asfar yang merupakan adikaryanya dan menjadi induk dari buku-bukunya yang lain. Lebih jauh lagi, ia juga benar-benar menguasai kalam Syiโ€™ah termasuk Syiโ€™ah Dua Belas Imam yang dianutnya serta Ismaโ€™iliyyah yang karya-karyanya ia kaji secara saksama termasuk risalah-risalah filosofis mereka, seperti Rasaโ€™il Ikhwan Al-Shafa.

Akhirnya, penting juga disadari tentang kepiawaian dan kepakaran Mulla Shadra mengenai doktrin-doktrin tasawuf umumnya atau gnosis khususnya seperti yang diajarkan oleh Ibn Arabi. Dalam masalah-masalah tertentu seperti eskatologi, ia banyak meminjam dari guru Andalusia itu, dan dalam bagian akhir buku Asfar, ia menguraikan al-maโ€™ad atau eskatologi yang pada kenyataannya, sarat dengan kutipan-kutipan luas dari karya Ibn Arabi, Al-Futuhat Al-Makkiyah.

Selanjutnya, ia sangat menyukai puisi sufi Persia dan mengutip dari guru puisi sufi, seperti โ€˜Aththar dan Rumi bahkan di tengah-tengah karya-karyanya yang berbahasa Arab. Sebagian pengetahuan ini berasal dari para guru mazhab Isfahan sebelumnya seperti pendiri mazhab itu, yaitu mir Damad, suatu mazhab yang ia ikuti, tetapi pengetahuannya dalam masalah ini melebihi guru-gurunya dan melukiskan kajian ekstensifnya terhadap karya-karya dan sumber-sumber utama pemikiran Islam.

Sintesis Mazhab-Mazhab Pemikiran

Mulla Shadra menyintesis bukan hanya berbagai mazhab pemikiran Islam, melainkan juga berbagai jalan pengetahuan manusia. Kehidupannya sendiri, yang didasarkan atas kesalehan, introspeksi filosofis dan penalaran yang mendalam serta penyucian diri sampai โ€œmata hatiโ€-nya terbuka sehingga mempunyai visi langsung terhadap dunia spiritual, membuktikan kesatuan tiga jalan utama pengetahuan dalam diri pribadinya.

Baca Juga:  Filsafat Tidak Akan Mati Sampai Kapanpun

Tiga jalan ini, menurutnya, adalah wahyu (al-wahy), demonstrasi atau inteleksi (al-burhan, al-taโ€™aqqul), dan visi spiritual atau โ€œmistisโ€ (al-mukasyafah, al-musyahadah). Atau, menggunakan terminologi lain yang beredar di kalangan mazhabnya, ia mengikuti suatu cara yang menyintesiskan Al-Qurโ€™an, al-burhan, dan al-irfan, yang sesuai dengan istilah-istilah tadi.

Epistemologi Mulla Shadra berkaitan langsung dengan epistemologi Suhrawardi dan mazhab Iluminasi umumnya, sebuah mazhab yang membuat perbedaan antara pengetahuan konseptual (al-โ€˜ilm al-hushuli) dan pengetahuan dengan kehadiran (al-โ€˜ilm al-hudhuri), bentuk-bentuk pengetahuan yang menyatu dalam diri pemilik pengetahuan pada tingkat tertinggi, seseorang yang oleh Suhrawardi disebut hakim mutaโ€™allih, yang secara harfiah berarti manusia bijaksana, filosof atau teosof yang dikarunia dengan Sifat-Sifat Ilahi dan menjadi โ€œmenyerupai-Tuhanโ€.

Pengetahuan konseptual diperoleh melalui konsep-konsep dalam pikiran tentang yang โ€“ diketahui, sedangkan pengetahuan dengan kehadiran mengimplikasikan kehadiran realitas yang diketahui dalam akal/intelek manusia tanpa perantaraan konsep-konsep mental seperti ketika seseorang mengetahui diri sendiri, intelijibel-intelijibel atau realitas-realitas Ilahi. Pengetahuan tersebut bersifat iluminatif dan melampaui alam rasio, tetapi itu bukan berarti tanpa bobot intelektual.

Mulla shadra menerima tesis isyraqi ini, tetapi ia menambahkan signifikansi wahyu sebagai sumber asasi bagi pengetahuan tentang masalah filosofis dan teosofis. Tradisi filsafat Islam di Persia sepenuhnya mengakui dan menerima kebenaran ini dan memberikan kepada Mulla shadra gelar Shadr Al-Mutaโ€™allihin, maksudnya yang tertinggi di antara orang-orang yang, menurut Suhrawardi, tergolong dalam kategori tertinggi pemilik pengetahuan metafisis. Tidak ada gelar lebih tinggi yang diberikan kepada siapa pun dalam konteks pandangan dunia yang di dalamnya filsafat Islam terkemudian berfungsi.

Baca Juga:  Para Filsuf Islam di Timur

Hikmah Muta’aliyah

Bagaimanapun, sintesis besar pemikiran Islam yang diciptakan oleh Mulla Shadra didasarkan atas sintesis tiga cara mengetahui tersebut sehingga ia dapat mengintegrasikan mazhab-mazhab pemikiran Islam terdahulu ke dalam sebuah pandangan dunia yang menyatu dan menciptakan sudut pandang intelektual baru yang dikenal sebagai al-hikmah al-mutaโ€™aliyah.

Sejumlah sarjana filsafat Islam terkemuka yang telah menulis tentangnya dalam bahasa-bahasa Eropa, seperti Henry Corbin dan Toshihiko Izutsu, menerjemahkan al-hikmah al-mutaโ€™aliyah dengan โ€œteosofi transendenโ€, sementara sejumlah sarjana lainnya memprotes penggunaan istilah tersebut. Yang jelas, โ€œteosofi transendenโ€ menandai kelahiran perspektif intelektual baru di Dunia Islam, perspektif yang mempunyai pengaruh mendalam pada abad-abad belakangan di Persia, di samping di Irak dan India.

Istilah al-hikmah al-mutaโ€™aliyah itu sendiri sudah digunakan dalam pengertian yang lebih umum dan kurang sistematis oleh sejumlah pemikir Islam sebelumnya, seperti Quthb Al-Din Syirazi.

Dalam menganalisis berbagai aspek pemikiran Mulla Shadra, kita sebenarnya mengkaji hikmah al-mutaโ€™aliyah yang menjadi mazhab pemikiran Islam tersendiri sebagaimana halnya dengan mazhab-mazhab Peripatetik (masysyaโ€™i) dan Iluminasionis (isyraqi). Mulla Shadra ternyata sangat setia pada istilah ini sehingga ia menggunakannya sebagai bagian dari judul magnum opus-nya, Al-Asfar Al-Arbaโ€™ah fi Al-Hikmah Al-Mutaโ€™aliyah.


Peristiwa

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru