back to top
Kamis, Oktober 29, 2026

Panas Bumi Berpotensi jadi Sumber Andalan Baru Transisi Energi ASEAN

Lihat Lainnya

IBTimes.ID – Negara-negara di kawasan ASEAN didorong untuk memperluas kegiatan eksplorasi energi panas bumi guna mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan energi. Selain Indonesia dan Filipina yang telah memanfaatkan sumber energi tersebut, Malaysia, Vietnam, dan Laos juga dinilai memiliki peluang untuk menggali potensi panas bumi di wilayah masing-masing.

Direktur Eksekutif ASEAN Centre for Energy (ACE), Razib Dawood mengatakan bahwa meningkatnya minat terhadap energi panas bumi dapat menjadi momentum bagi ASEAN untuk memperbesar porsi energi rendah karbon dalam bauran energinya. Meski demikian, pengembangan energi ini masih terkendala besarnya kebutuhan biaya eksplorasi serta risiko yang melekat pada kegiatan pengeboran.

“Sekarang ada minat yang semakin besar terhadap panas bumi. Negara-negara perlu mengeksplorasi potensi ini dan memberikan insentif yang sesuai,” katanya dikutip Republika pada (29/10).

Selama ini, Indonesia dan Filipina merupakan dua negara di Asia Tenggara yang paling menonjol dalam pengembangan energi panas bumi. Indonesia bahkan menargetkan peningkatan kapasitas untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu negara terdepan di dunia dalam pemanfaatan sumber energi tersebut.

Razib menjelaskan, potensi panas bumi di kawasan ASEAN tidak hanya terdapat di Indonesia dan Filipina. Malaysia, misalnya, memiliki peluang pengembangan sumber daya panas bumi di wilayah Sabah.

Selain itu, pengalaman dan kemampuan pengeboran yang dimiliki industri minyak dan gas berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan teknologi panas bumi. Kendati demikian, penerapan keahlian tersebut harus disesuaikan dengan karakteristik sumber daya serta kondisi lokasi yang akan dikembangkan.

Baca Juga:  China Luncurkan AI Pintar Pertama untuk Kelola Energi Bersih

Besarnya kebutuhan modal menjadi salah satu persoalan utama dalam pengembangan panas bumi. Razib mengingatkan bahwa kegiatan pengeboran tidak selalu menemukan sumber daya yang layak dikembangkan secara komersial. Kondisi ini membuat investor harus menanggung risiko finansial sejak tahap awal proyek.

“Biaya pengeboran bisa menjadi hambatan. Kita perlu memikirkan insentif atau mekanisme penjaminan agar proyek menjadi layak dibiayai,” ujarnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Razib menilai intervensi pemerintah diperlukan guna menekan risiko yang dihadapi dalam eksplorasi panas bumi. Di samping itu, inovasi teknologi juga berperan penting dalam meningkatkan efisiensi pengembangan dan menurunkan biaya produksi energi.

Razib menyoroti sejumlah pendekatan teknologi baru yang sedang dikaji di berbagai negara. Salah satunya adalah pengembangan metode pengeboran yang memungkinkan akses ke sumber panas bumi melalui jalur berbeda. Meski menawarkan peluang baru, penggunaan teknologi tersebut tetap harus memperhatikan kondisi geologi dan kelayakan teknis di setiap wilayah.

Ia juga mendorong negara-negara ASEAN agar memperluas pengembangan teknologi energi dan tidak hanya bergantung pada sumber energi yang selama ini telah dimanfaatkan. Setiap negara perlu menentukan pendekatan yang sesuai dengan potensi sumber daya dan kondisi masing-masing untuk memperbanyak alternatif pasokan energi rendah karbon.

Kebutuhan tersebut semakin mendesak seiring dengan meningkatnya permintaan energi di kawasan. Razib menyebut ASEAN perlu mempersiapkan beragam sumber energi untuk memenuhi kebutuhan masa mendatang. Proyeksi mengenai peningkatan kebutuhan energi tersebut juga dibahas dalam publikasi ASEAN Energy Outlook yang diterbitkan ACE.

Baca Juga:  Polusi Puntung Rokok Kian Mengkhawatirkan, Aktivis Desak Pemerintah Terapkan Akuntabilitas Industri

Oleh karena itu, pengembangan energi panas bumi perlu diintegrasikan dengan upaya mempercepat pemanfaatan sumber energi terbarukan lainnya. Negara-negara anggota ASEAN juga perlu menyiapkan kebijakan yang mampu menarik investasi sekaligus membuka ruang bagi penerapan teknologi baru.

Razib menambahkan, persoalan biaya dalam pengembangan panas bumi memiliki kesamaan dengan tantangan yang dihadapi industri hidrogen hijau. Menurutnya, kemajuan teknologi, pemberian insentif yang memadai, dan peningkatan skala produksi dapat membantu meningkatkan kelayakan ekonomi proyek-proyek energi tersebut.

“Jika ada insentif yang tepat, teknologi yang lebih maju, dan skala yang semakin besar, biaya dapat menjadi lebih rendah,” katanya.

Lebih lanjut, Razib menilai kolaborasi antarnegara ASEAN dapat mempercepat pengembangan teknologi panas bumi sekaligus memperluas peluang memperoleh pendanaan. Kerja sama regional juga berpotensi membantu negara-negara anggota dalam mengembangkan sumber daya panas bumi yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Melalui perluasan eksplorasi, penguatan dukungan pembiayaan, serta penerapan kebijakan yang tepat, energi panas bumi berpotensi menjadi salah satu penopang penting transisi energi ASEAN. Pengembangan sumber daya ini tidak hanya dapat membantu memenuhi kebutuhan energi yang terus bertambah, tetapi juga mendukung upaya kawasan dalam mengurangi emisi karbon.

(MS)

Peristiwa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terbaru